Fenomena Langit September: Bulan, Mars hingga Harvest Moon Jadi Sorotan

Syarifatul Insaniyah • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 15:40 WIB
Fenomena langit September 2026 menghadirkan tujuh peristiwa, dari Bulan dan Mars, Jupiter, hujan meteor hingga Harvest Moon.(PINTEREST)
Fenomena langit September 2026 menghadirkan tujuh peristiwa, dari Bulan dan Mars, Jupiter, hujan meteor hingga Harvest Moon.(PINTEREST)

TULUNGAGUNG - Fenomena langit September 2026 menghadirkan tujuh peristiwa yang dapat diamati dari Indonesia, mulai dari kedekatan tampak Bulan dan Mars, pertemuan Bulan dengan Jupiter, hujan meteor Perseid, hingga Harvest Moon. Sebagian fenomena tersebut bisa disaksikan tanpa teleskop selama kondisi langit cerah.

Rangkaian fenomena dimulai pada 6 September 2026 ketika Bulan tampak berdekatan dengan Mars. Dari Indonesia, waktu pengamatan terbaik disebut berlangsung pada dini hari. Bulan berada dalam fase sabit tua, sedangkan Mars tampak sebagai titik cahaya kemerahan di dekatnya.

Kedekatan itu bukan berarti Bulan dan Mars benar-benar berjarak dekat. Pemandangan tersebut merupakan efek perspektif dari Bumi yang dikenal sebagai konjungsi atau pertemuan tampak. Dua benda langit yang sebenarnya berada sangat jauh satu sama lain dapat terlihat seolah-olah berdampingan dari posisi pengamat.

Jika langit cerah dan pandangan ke arah langit terbuka, Bulan dan Mars dapat diamati tanpa teleskop.

Baca Juga: Gerhana Bulan Total Usai, Sederet Fenomena Langit hingga Akhir September Menanti Masyarakat Bumi, Siapkan Teleskopmu

Fenomena berikutnya terjadi sekitar 8 hingga 9 September ketika Bulan tampak berdekatan dengan Jupiter di langit dini hari. Jupiter merupakan planet terbesar di tata surya, tetapi dari Bumi terlihat sebagai titik cahaya terang karena jaraknya yang sangat jauh.

Di sejumlah wilayah dunia, Bulan bahkan dapat melintas di depan Jupiter. Peristiwa tersebut dikenal sebagai okultasi. Namun, tidak semua wilayah di Bumi dapat menyaksikannya. Dari banyak wilayah Indonesia, fenomena yang lebih memungkinkan diamati adalah Bulan dan Jupiter yang tampak berdekatan sebelum Matahari terbit.

Pengamatan juga dapat diabadikan menggunakan kamera ponsel. Mode malam atau pengaturan manual dapat digunakan jika tersedia. Komposisi Bulan sabit, Jupiter, dan langit gelap sebelum fajar justru menjadi bagian yang menarik untuk direkam.

Selanjutnya, hujan meteor Perseid diperkirakan mencapai puncak sekitar 9 September 2026. Intensitasnya tidak termasuk yang paling deras, dengan perkiraan hanya beberapa meteor per jam dalam kondisi ideal.

Keuntungannya, puncak hujan meteor tersebut berdekatan dengan fase Bulan baru sehingga cahaya Bulan relatif minim. Kondisi langit yang lebih gelap dapat membantu pengamatan meteor yang redup.

Meteor sendiri bukan bintang jatuh. Ketika benda kecil dari luar angkasa memasuki atmosfer Bumi dengan kecepatan tinggi, material tersebut memanas dan menghasilkan cahaya yang terlihat sebagai garis terang di langit. Pengamatan tidak membutuhkan teleskop. Langit gelap, jauh dari lampu kota, cuaca cerah, dan kesabaran justru menjadi hal penting.

Baca Juga: Fenomena Gerhana Bulan, Keindahan Langit Malam yang Selalu Dinantikan Masyarakat Bumi

Pada 11 September 2026, Bulan mencapai fase Bulan baru. Dari Indonesia, fase tersebut terjadi sekitar siang hari sehingga tidak menjadi tontonan langsung. Namun, minimnya cahaya Bulan membuat langit malam lebih gelap.

Kondisi itu dapat membantu pengamatan objek langit yang redup. Bintang-bintang bisa terlihat lebih jelas, sementara Bima Sakti berpotensi lebih menonjol di lokasi yang sangat gelap. Polusi cahaya dari wilayah perkotaan menjadi salah satu faktor yang membuat banyak objek langit sulit terlihat.

Berikutnya, Bulan sabit akan tampak berdekatan dengan Venus sekitar 13 hingga 14 September. Dari Indonesia, pasangan tersebut dapat diamati pada petang hari di arah barat.

Venus merupakan salah satu objek paling terang di langit setelah Matahari dan Bulan. Meski kerap disebut Bintang Kejora atau bintang senja, Venus sebenarnya merupakan planet. Ketika Bulan sabit tipis berada di dekat Venus, keduanya dapat menciptakan pemandangan mencolok di langit setelah Matahari terbenam.

Sekitar 23 September, fenomena equinox September terjadi ketika Matahari melintas bidang ekuator Bumi. Peristiwa ini menandai awal musim gugur di belahan Bumi utara dan awal musim semi di belahan Bumi selatan.

Indonesia tidak mengalami empat musim seperti wilayah tersebut. Namun, karena berada dekat khatulistiwa, equinox memiliki konsekuensi astronomis yang menarik. Di lokasi tertentu dapat terjadi hari tanpa bayangan ketika Matahari berada hampir tepat di atas kepala.

Rangkaian fenomena ditutup dengan Bulan purnama pada 26 September 2026 yang dikenal sebagai Harvest Moon. Puncaknya disebut berlangsung sekitar pukul 11.00 untuk wilayah WITA dan WIB, dengan pergeseran waktu pengamatan ke dini hari 27 September.

Harvest Moon merupakan nama tradisional dan tidak berarti Bulan otomatis berubah warna atau ukurannya membesar. Kesan Bulan terlihat sangat besar ketika berada dekat horizon dapat dipengaruhi Moon Illusion, yakni efek visual ketika Bulan dibandingkan dengan pepohonan, bangunan, atau objek lain di cakrawala.

Ketujuh fenomena tersebut menjadi rangkaian peristiwa langit yang dapat diamati sepanjang September 2026, dengan waktu dan kondisi pengamatan yang berbeda-beda.

Editor : Syarifatul Insaniyah
Sumber : Diolah dari berbagai sumber
Hujan Meteor Perseid Fenomena Langit September 2026 harvest moon jupiter Marsa bongkar rahasia