Fenomena Langit Langka: Gerhana hingga Milky Way yang Bikin Takjub

Syarifatul Insaniyah • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 15:40 WIB
Fenomena langit langka mencakup gerhana, aurora, supermoon, hujan meteor, konjungsi planet hingga pusat Bima Sakti.(PINTEREST)
Fenomena langit langka mencakup gerhana, aurora, supermoon, hujan meteor, konjungsi planet hingga pusat Bima Sakti.(PINTEREST)

TULUNGAGUNG - Fenomena langit langka menghadirkan beragam pemandangan yang sulit ditemui dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari gerhana matahari total, Aurora Borealis, supermoon, hujan meteor ekstrem, hingga pusat galaksi Bima Sakti yang terlihat jelas. Sebagian fenomena bahkan hanya muncul dalam rentang waktu tertentu dan membutuhkan kondisi pengamatan khusus.

Gerhana matahari total menjadi salah satu fenomena paling dramatis. Peristiwa ini terjadi ketika Bulan menutupi Matahari sepenuhnya sehingga siang hari dapat berubah gelap dalam hitungan menit. Suhu udara bisa turun secara tiba-tiba, sementara hewan dapat menunjukkan perilaku seperti malam hari.

Pada fase tersebut, corona Matahari terlihat mengelilingi Bulan. Gerhana matahari total hanya berlangsung maksimal beberapa menit dan terjadi ketika Bulan berada pada fase baru. Fenomena ini juga hanya dapat disaksikan dari jalur tertentu di Bumi. Bahkan di lokasi yang sama, gerhana matahari total dapat kembali terjadi setelah ratusan tahun.

Berbeda dengan gerhana Matahari, gerhana Bulan total aman dilihat dengan mata telanjang. Saat peristiwa ini berlangsung, Bulan berubah menjadi merah gelap akibat pembiasan cahaya Matahari oleh atmosfer Bumi. Fenomena tersebut dikenal sebagai blood moon.

Warna merah muncul karena cahaya biru tersaring oleh atmosfer. Semakin banyak debu yang terdapat di atmosfer, semakin gelap warna Bulan. Gerhana Bulan total dapat berlangsung lebih dari satu jam dan terlihat dari sebagian besar wilayah Bumi yang sedang mengalami malam.

Baca Juga: Tak Hanya Gerhana Bulan Total, Ada Berbagai Fenomena Langit di Bulan September 2025 Yang Tak Kalah Menarik

Fenomena lain yang tidak kalah menarik adalah Aurora Borealis dan Aurora Australis. Cahaya warna-warni muncul di langit wilayah kutub ketika partikel dari Matahari berinteraksi dengan medan magnet Bumi. Warna hijau menjadi yang paling sering terlihat.

Aurora dapat bergerak seperti tirai cahaya dan intensitasnya meningkat ketika terjadi badai Matahari. Meski tampil dramatis, fenomena tersebut tidak menghasilkan suara. Aurora paling sering terlihat pada malam hari di wilayah kutub dan dikaitkan dengan aktivitas Matahari yang tinggi.

Ada pula supermoon, ketika Bulan tampak lebih besar dan terang dibandingkan biasanya karena berada di titik terdekat dengan Bumi. Ukurannya dapat terlihat hingga 14 persen lebih besar, dengan efek yang paling terasa ketika Bulan berada dekat horizon.

Supermoon kerap disalahartikan sebagai ilusi kamera. Fenomena ini terjadi ketika Bulan purnama berada pada kondisi tersebut dan biasanya muncul satu hingga tiga kali dalam setahun. Sementara itu, Blue Moon bukan berarti Bulan berubah menjadi biru. Istilah tersebut merujuk pada Bulan purnama kedua dalam satu bulan kalender dan rata-rata terjadi setiap dua hingga tiga tahun.

Fenomena langit langka lainnya adalah hujan meteor ekstrem. Ketika intensitasnya sangat tinggi, langit dapat dipenuhi kilatan cahaya. Peristiwa tersebut terjadi saat Bumi melewati jalur debu yang padat. Sebagian meteor bahkan dapat meninggalkan jejak. Waktu pengamatan terbaik disebut berada pada dini hari.

Fireball dan bolid juga termasuk meteor yang sangat terang hingga tampak seperti bola api. Cahayanya dapat melebihi Bulan purnama. Fireball bahkan bisa terlihat pada siang hari, sedangkan bolid dapat meledak di atmosfer dan menghasilkan suara dentuman. Sebagian fragmennya dapat mencapai permukaan Bumi.

Baca Juga: Deretan Fenomena Astronomi November 2025, Supermoon Terbesar hingga Dua Hujan Meteor Hiasi Langit Indonesia

Komet terang menjadi fenomena lain yang sulit diprediksi. Komet dapat memiliki ekor panjang yang terbentuk dari gas dan debu ketika dipanaskan Matahari. Ekornya bisa mencapai jutaan kilometer. Kecerlangannya sulit dipastikan dan sebagian komet hanya muncul sekali dalam seumur hidup manusia.

Planetary conjunction atau konjungsi planet membuat beberapa planet tampak sangat berdekatan di langit. Padahal, jarak sebenarnya antarplanet tetap sangat jauh. Fenomena ini merupakan efek perspektif dan dapat melibatkan beberapa planet.

Salah satu yang paling langka adalah great conjunction antara Jupiter dan Saturnus. Konjungsi ini terjadi sekitar setiap 20 tahun, tetapi pertemuan yang tampak sangat dekat dapat berlangsung dalam rentang ratusan tahun.

Ada pula occultation ketika satu benda langit menutupi benda langit lain, biasanya Bulan dan planet atau bintang. Fenomena tersebut hanya terlihat dari lokasi tertentu dan dapat berlangsung selama detik hingga menit.

Di langit yang benar-benar gelap, pengamat juga dapat menemukan zodiacal light berupa cahaya samar berbentuk segitiga. Cahaya ini berasal dari debu antarplanet yang memantulkan sinar Matahari. Polusi cahaya membuatnya semakin sulit diamati.

Green flash menjadi fenomena singkat lain yang muncul saat Matahari terbenam. Kilatan hijau ini berlangsung kurang dari satu detik dan lebih sering terlihat di laut terbuka dengan kondisi udara sangat bersih.

Fenomena lainnya meliputi halo Matahari dan Bulan, sundog atau parhelion, serta noctilucent clouds. Ada pula pemandangan pusat galaksi Bima Sakti yang terlihat seperti pita cahaya padat. Untuk melihatnya, diperlukan langit yang sangat gelap karena polusi cahaya semakin menyulitkan pengamatan.

Rangkaian fenomena tersebut menunjukkan betapa beragamnya peristiwa yang dapat terjadi di langit. Sebagian mudah diamati, sementara lainnya membutuhkan lokasi, waktu, dan kondisi atmosfer yang sangat spesifik.

Editor : Syarifatul Insaniyah
Sumber : Diolah dari berbagai sumber
Fenomena Langit Langka hujan meteor bima sakti gerhana Aurora