RADAR TULUNGAGUNG – Daun jati kering dapat menjadi bahan yang mudah terbakar ketika kondisi lingkungan panas dan minim kelembapan. Jika ditambah angin kencang, api yang awalnya hanya membakar tumpukan daun atau semak bisa lebih cepat bergerak ke area di sekitarnya.
Daun jati kering yang menumpuk di permukaan tanah pada musim kemarau perlu mendapat perhatian. Material tersebut termasuk bahan bakar permukaan yang dapat membantu api tetap menyala, terlebih ketika vegetasi di sekitar kawasan hutan juga berada dalam kondisi kering.
Daun jati kering bukan satu-satunya faktor yang perlu diperhatikan. Cuaca panas dan angin kencang dapat memperbesar risiko kebakaran, sedangkan kondisi medan juga bisa memengaruhi kecepatan petugas mencapai lokasi untuk melakukan pemadaman.
Gambaran tersebut terlihat dalam kebakaran kawasan hutan jati milik Perhutani di wilayah RPH Sanggrahan, BKPH Kalidawir, KPH Blitar, Dusun Tondo, Desa Pagersari, Kecamatan Kalidawir, Selasa (1/9). Api pertama kali diketahui sekitar pukul 14.30.
Baca Juga: Tumpukan Daun Jati Kering Picu Kebakaran Hutan Kalidawir, Api Berhasil Dikendalikan Sebelum Meluas
Mengapa Daun Kering Mudah Menjadi Bahan Bakar?
Daun yang sudah mengering memiliki kandungan air lebih rendah dibandingkan daun segar. Ketika terkena sumber panas atau api, material tersebut lebih mudah terbakar dan dapat membantu mempertahankan nyala api.
Tumpukan daun yang berdekatan dengan semak atau rumput kering juga dapat membentuk jalur bahan bakar di permukaan tanah. Karena itu, kondisi vegetasi kering menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan ketika risiko kebakaran hutan meningkat.
BMKG mengingatkan bahwa menguatnya kondisi kering selama musim kemarau perlu diikuti peningkatan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan. Masyarakat juga diminta tidak melakukan pembakaran secara sembarangan di kawasan yang mudah terbakar seperti hutan, semak belukar, dan lahan kering.
Kondisi tersebut penting diperhatikan di kawasan hutan jati. Daun yang gugur dan mengering dapat menumpuk di bawah tegakan pohon, sementara semak belukar di sekitarnya ikut mengering ketika hujan jarang turun.
Angin Kencang Membuat Api Lebih Sulit Dikendalikan
Angin menjadi faktor penting ketika kebakaran sudah terjadi. Pergerakan udara dapat membantu nyala api berpindah ke material kering yang berada di sekitar titik kebakaran sehingga area terdampak berpotensi bertambah.
BMKG dalam informasi kebencanaan musim kemarau juga mengaitkan kondisi kering dengan peningkatan kewaspadaan terhadap karhutla. Sistem peringatan dini yang dikembangkan BMKG turut mempertimbangkan kondisi meteorologi, tingkat kekeringan, serta kemudahan bahan bakar permukaan untuk terbakar.
Dalam kebakaran di Pagersari, api menghanguskan daun jati kering dan semak belukar. Pohon jati berukuran besar dan tinggi di sekitar lokasi tidak ikut terbakar.
Namun, pemadaman tetap menghadapi kendala karena lokasi berada di kawasan perbukitan dengan medan terjal dan menanjak. Dua unit mobil pemadam dikerahkan untuk mencapai titik api, sebelum api berhasil dikendalikan setelah sekitar satu jam penanganan.
Penyebab kebakaran tersebut masih diselidiki. Kondisi cuaca panas, angin kencang, dan tumpukan daun jati kering disebut sebagai faktor yang diduga dapat memicu kebakaran.
Baca Juga: Tak Perlu Dibakar, Begini Cara Mengelola Sampah Rumah Tangga agar Aman dan Tak Picu Kebakaran
Apa yang Perlu Dilakukan Saat Melihat Titik Api?
Kondisi kering membuat pencegahan menjadi langkah yang jauh lebih penting. Masyarakat perlu menghindari aktivitas yang menghasilkan api di sekitar hutan, termasuk membakar sampah atau membersihkan lahan menggunakan pembakaran.
BNPB juga mengimbau masyarakat tidak melakukan pembakaran sampah tanpa pengawasan dan tidak membuka lahan dengan cara membakar. Bara atau puntung rokok harus dipastikan benar-benar padam sebelum dibuang, terutama di area yang dipenuhi material kering.
Selain mencegah sumber api, masyarakat perlu segera melaporkan kepulan asap atau titik api yang terlihat dari kawasan hutan. Laporan sejak dini memungkinkan petugas melakukan pemeriksaan dan penanganan sebelum kebakaran berkembang lebih luas.
Langkah tersebut menjadi semakin penting ketika cuaca panas, vegetasi mengering, dan angin cukup kencang. BMKG juga meminta masyarakat memantau informasi cuaca serta peringatan dini melalui kanal resmi agar dapat melakukan langkah antisipasi terhadap risiko kebakaran hutan dan lahan.
Peristiwa di kawasan hutan jati Pagersari menunjukkan bahwa daun jati kering dan semak belukar dapat menjadi material yang terbakar ketika kondisi lingkungan mendukung. Karena itu, kewaspadaan, pencegahan sumber api, serta pelaporan cepat menjadi bagian penting untuk mengurangi risiko kebakaran meluas.
Editor : Vidya Sajar FitriSumber : Diolah dari berbagai sumber