TULUNGAGUNG – Penggunaan air saat kekeringan perlu diatur berdasarkan tingkat kepentingannya ketika persediaan di rumah mulai terbatas. Air yang tersedia harus lebih dulu dialokasikan untuk kebutuhan paling mendasar, terutama minum, memasak, kebersihan tangan, dan sanitasi.
Penggunaan air saat kekeringan tidak bisa disamakan dengan kondisi normal. Ketika sumber air sulit diperoleh, aktivitas rumah tangga perlu disusun berdasarkan kebutuhan yang tidak dapat ditunda dan penggunaan yang masih memungkinkan untuk dikurangi.
Penggunaan air saat kekeringan menjadi persoalan nyata di sejumlah wilayah Tulungagung. Hingga 7 September 2026, sebanyak 1.008 kepala keluarga atau sekitar 2.804 jiwa terdampak keterbatasan sumber air bersih. BPBD telah menyalurkan 39 rit bantuan air ke sembilan desa yang tersebar di lima kecamatan.
Baca Juga: Kekeringan Tulungagung Berdampak 2.804 Jiwa, BPBD Salurkan 39 Rit Air Bersih
Dahulukan Air untuk Minum dan Memasak
Prioritas pertama adalah memastikan kebutuhan konsumsi terpenuhi. Air yang digunakan untuk minum harus berasal dari sumber yang aman atau telah melalui pengolahan yang tepat.
Kebutuhan memasak juga tidak dapat diabaikan. Air diperlukan untuk mencuci bahan makanan, mengolah makanan, membuat minuman, serta membersihkan peralatan makan dan memasak.
WHO menempatkan air minum yang aman dan mencukupi sebagai kebutuhan dasar untuk melindungi kesehatan. Air juga dibutuhkan untuk menyiapkan makanan serta menjaga kebersihan dasar.
Karena itu, ketika persediaan menipis, air dengan kualitas terbaik sebaiknya tidak digunakan untuk aktivitas yang bisa ditunda. Pisahkan pula wadah air konsumsi dari wadah untuk keperluan lainnya agar risiko pencemaran dapat dikurangi.
Air minum yang sudah disimpan juga harus terlindung dari kontaminasi. WHO merekomendasikan penggunaan wadah bersih dan tertutup untuk menjaga kualitas air selama penyimpanan di tingkat rumah tangga.
Baca Juga: Kekeringan Meluas ke Enam Desa, BPBD Tulungagung Salurkan 17 Rit Air Bersih untuk 1.148 Warga
Jangan Mengorbankan Kebersihan Dasar
Setelah kebutuhan konsumsi terpenuhi, prioritas berikutnya adalah kebersihan yang berkaitan langsung dengan kesehatan. Mencuci tangan, membersihkan peralatan makan, dan menjaga kebersihan toilet merupakan aktivitas yang tetap membutuhkan air.
Penghematan air tidak berarti menghilangkan seluruh aktivitas kebersihan. Justru ketika kondisi air terbatas, menjaga kebersihan tangan dan lingkungan menjadi semakin penting untuk mengurangi risiko penyakit.
WHO menyebut mencuci tangan dengan air dan sabun sebagai salah satu tindakan penting untuk mencegah penyebaran berbagai penyakit. Praktik tersebut terutama perlu dilakukan setelah menggunakan toilet dan sebelum menyiapkan atau mengonsumsi makanan.
Penggunaan air untuk mandi dan mencuci pakaian dapat disesuaikan dengan kondisi persediaan. Aktivitas yang tidak mendesak dapat dikurangi frekuensinya selama tidak mengabaikan kebersihan pribadi dan kesehatan.
Begitu pula dengan kegiatan membersihkan rumah. Ketika pasokan terbatas, air sebaiknya tidak dihabiskan untuk aktivitas yang dapat ditunda, sementara kebutuhan yang berkaitan langsung dengan konsumsi dan sanitasi tetap diprioritaskan.
Simpan dan Pantau Persediaan Sebelum Habis
Menentukan prioritas akan lebih mudah jika jumlah air yang tersedia diketahui. Warga dapat memperkirakan persediaan yang dimiliki dan membaginya berdasarkan kebutuhan harian sehingga air tidak habis sebelum mendapatkan pasokan berikutnya.
Penyimpanan juga perlu dilakukan secara aman. Wadah sebaiknya bersih, tertutup, dan ditempatkan di lokasi yang tidak mudah terkena kotoran atau sumber pencemar.
WHO menjelaskan bahwa penyimpanan air yang aman merupakan bagian penting dari pengelolaan air di tingkat rumah tangga. Air yang awalnya aman dapat kembali tercemar apabila proses pengangkutan dan penyimpanannya tidak higienis.
Situasi di Tulungagung menunjukkan pentingnya pengaturan tersebut. Bantuan air telah menjangkau Desa Kalidawir dan Rejosari di Kecamatan Kalidawir, Sebalor di Kecamatan Bandung, Pakisrejo, Joho, dan Kresikan di Kecamatan Tanggunggunung, Keboireng serta Besuki di Kecamatan Besuki, dan Gamping di Kecamatan Campurdarat.
Sementara itu, data BPBD mencatat wilayah terdampak berada di Pucanglaban, Kalidawir, Bandung, Tanggunggunung, dan Besuki. Kondisi setiap wilayah dapat berbeda sehingga pemantauan sumber air tetap diperlukan untuk menentukan kebutuhan bantuan berikutnya.
Pada akhirnya, penggunaan air saat kekeringan harus dilakukan berdasarkan skala prioritas, bukan sekadar mengurangi pemakaian sebanyak mungkin. Minum dan memasak harus didahulukan, disusul kebutuhan kebersihan serta sanitasi, sementara aktivitas yang tidak mendesak dapat dikurangi.
Pengelolaan air di rumah juga perlu berjalan bersama distribusi bantuan bagi wilayah yang sumber airnya mengalami keterbatasan. WHO menegaskan bahwa ketersediaan air yang aman dan mencukupi merupakan bagian penting dalam menjaga kesehatan masyarakat, terutama ketika menghadapi kondisi darurat.
Editor : Vidya Sajar FitriSumber : Diolah dari berbagai sumber