RADAR TULUNGAGUNG - Perubahan harga beras premium di tingkat konsumen tidak hanya berkaitan dengan harga jual di toko. Ketika pasokan beras premium yang tersedia di pasar terbatas sementara kebutuhan masyarakat tetap berjalan, harga dapat mengalami tekanan.
Kondisi tersebut membuat harga beras premium menjadi salah satu komponen pangan yang perlu diperhatikan konsumen. Kenaikan harga dapat terjadi karena hubungan antara ketersediaan barang, permintaan, biaya produksi, hingga distribusi dari produsen menuju pasar.
Karena itu, memahami pergerakan harga beras premium tidak cukup hanya dengan melihat harga di satu toko. Data Badan Pangan Nasional juga membedakan beras berdasarkan kualitas, sementara Bank Indonesia mencatat beras sebagai salah satu komoditas pangan strategis yang berpengaruh terhadap inflasi.
Baca Juga: Beras Premium Tulungagung Mulai Langka, Harga Tembus Rp 85 Ribu per 5 Kg
Pasokan Terbatas Bisa Mendorong Harga Naik
Salah satu faktor paling mudah terlihat adalah ketersediaan barang. Jika stok yang tersedia di tingkat pedagang berkurang, sementara permintaan konsumen belum turun secara berarti, ruang kenaikan harga menjadi lebih besar.
Dalam kondisi tersebut, pedagang harus mendapatkan pasokan baru dari pemasok. Apabila pasokan pengganti datang dengan harga lebih tinggi atau jumlahnya terbatas, perubahan harga di tingkat konsumen dapat mengikuti kondisi tersebut.
Bank Indonesia dalam laporan perekonomian Jawa Timur menyebut ketersediaan pasokan pangan strategis, termasuk beras, menjadi salah satu faktor yang mendukung stabilitas harga. Sebaliknya, gangguan pada pasokan dapat menjadi salah satu sumber tekanan harga pangan.
Kondisi di Tulungagung menunjukkan gambaran tersebut. Pasokan beras premium sebelumnya dilaporkan mulai sulit ditemukan di sejumlah titik, sedangkan harga beras kemasan 5 kilogram di beberapa lokasi berada pada kisaran Rp81 ribu hingga Rp85 ribu.
Baca Juga: Beras Premium Mulai Langka, Pemkab Tulungagung Siapkan Operasi Pasar
Produksi dan Harga Gabah Ikut Berpengaruh
Harga beras premium juga berkaitan dengan kondisi di tingkat produksi. Salah satu komponen yang perlu diperhatikan adalah harga gabah yang diterima petani serta biaya yang muncul sepanjang proses produksi dan penggilingan.
Bank Indonesia pernah mencatat kenaikan harga gabah di tingkat petani berjalan seiring dengan peningkatan harga beras premium di tingkat penggilingan. Data tersebut menunjukkan bahwa perubahan harga pada bahan baku dapat diteruskan ke rantai pasok berikutnya.
Faktor produksi tidak berdiri sendiri. Kondisi panen, ketersediaan hasil produksi, biaya pengolahan, serta distribusi dapat memengaruhi harga sebelum beras sampai ke konsumen.
Pada 2026, Bank Indonesia juga mencatat harga beras mengalami tekanan pada periode ketika permintaan meningkat sementara panen masih terbatas. Pada Juni, tekanan harga beras disebut berkaitan dengan penurunan produksi di sejumlah daerah sentra, kenaikan biaya transportasi, serta berakhirnya musim panen raya.
Baca Juga: Bantuan Beras Tiga Bulan Disalurkan di Tulungagung, Plt Bupati Tekankan Jangan Diperjualbelikan
Permintaan, Distribusi, dan Intervensi Harga
Selain pasokan, permintaan juga berpengaruh terhadap pembentukan harga. Ketika kebutuhan meningkat pada saat ketersediaan belum mencukupi, tekanan harga dapat semakin terasa.
Biaya distribusi juga perlu diperhitungkan karena beras harus melewati sejumlah tahap sebelum sampai ke konsumen. Perubahan biaya transportasi dapat ikut memengaruhi harga pangan di daerah tujuan. Bank Indonesia memasukkan biaya transportasi sebagai salah satu faktor yang dapat memberikan tekanan pada harga komoditas pangan.
Namun, harga pasar tidak selalu dibiarkan bergerak tanpa intervensi. Pemerintah memiliki berbagai instrumen stabilisasi pangan, salah satunya beras SPHP yang ditujukan sebagai penyeimbang harga di pasar. Badan Pangan Nasional menyebut program tersebut digunakan untuk membantu menjaga keseimbangan harga beras dan ketersediaannya bagi masyarakat.
Kondisi inilah yang melatarbelakangi rencana operasi pasar di Tulungagung. Pemerintah daerah menyiapkan penyaluran beras premium dengan menggandeng Bulog karena masih terdapat stok yang dapat digunakan untuk menjaga ketersediaan di masyarakat.
Langkah tersebut juga menunjukkan bahwa kelangkaan di sejumlah toko tidak otomatis berarti stok beras secara keseluruhan habis. Distribusi stok, jenis beras, lokasi penyimpanan, dan akses konsumen terhadap pasokan juga perlu dilihat secara bersamaan.
Bagi konsumen, memahami faktor pembentuk harga beras premium membantu membaca kenaikan harga secara lebih utuh. Pasokan, produksi, harga gabah, permintaan, distribusi, dan kebijakan stabilisasi dapat saling memengaruhi.
Dengan demikian, harga yang meningkat saat beras premium sulit ditemukan di pasaran tidak bisa dilepaskan dari kondisi rantai pasok. Di Tulungagung, pemerintah daerah menyiapkan operasi pasar dengan memanfaatkan stok Bulog sebagai langkah untuk menjaga ketersediaan sekaligus meredam tekanan harga di tingkat konsumen.
Editor : Vidya Sajar FitriSumber : Diolah dari berbagai sumber