RADAR TULUNGAGUNG - Ketika memilih beras sesuai kebutuhan menjadi tantangan karena beras premium mulai sulit ditemukan, konsumen tidak harus terpaku pada satu jenis beras. Pilihan dapat disesuaikan dengan kebutuhan rumah tangga, mutu produk, ukuran kemasan, dan kemampuan anggaran.
Prinsip memilih beras sesuai kebutuhan semakin penting ketika harga beras premium mengalami kenaikan atau stoknya tidak selalu tersedia di toko. Konsumen dapat membandingkan beberapa jenis beras sebelum membeli, termasuk melihat harga per kilogram dan informasi mutu pada kemasan.
Cara memilih beras sesuai kebutuhan juga tidak cukup hanya dengan melihat beras yang tampak paling putih atau kemasan dengan harga tertinggi. Badan Pangan Nasional telah menetapkan kelas mutu beras, termasuk parameter seperti kadar air, derajat sosoh, butir menir, dan butir patah.
Baca Juga: Harga Beras Premium Naik saat Pasokan Terbatas, Ini 5 Faktor yang Perlu Diketahui Konsumen
Tentukan Kebutuhan Sebelum Membeli
Langkah pertama adalah menghitung kebutuhan rumah tangga. Konsumen dapat memperkirakan berapa banyak beras yang dikonsumsi dalam periode tertentu, kemudian menyesuaikan ukuran pembelian dengan anggaran yang tersedia.
Beras merupakan salah satu sumber makanan pokok dalam pola makan masyarakat Indonesia. Kementerian Kesehatan melalui panduan Isi Piringku memasukkan beras sebagai salah satu sumber karbohidrat dan menyebut konsumsinya dapat disesuaikan dengan kondisi, kebiasaan, serta budaya setempat.
Dengan begitu, pembelian tidak harus selalu berdasarkan anggapan bahwa satu jenis beras cocok untuk seluruh kondisi. Rumah tangga dapat mempertimbangkan pola konsumsi, jumlah anggota keluarga, serta kemampuan belanja sebelum menentukan pilihan.
Konsumen juga perlu membedakan kebutuhan mutu dengan sekadar preferensi. Jika pertimbangannya adalah tampilan beras yang lebih utuh, kelas premium memiliki batas butir patah lebih rendah dibandingkan kelas medium.
Baca Juga: Beras Premium Tulungagung Mulai Langka, Harga Tembus Rp 85 Ribu per 5 Kg
Cek Mutu, Label, dan Harga per Kilogram
Badan Pangan Nasional menetapkan beras premium memiliki kadar air maksimal 14 persen, derajat sosoh minimal 95 persen, butir menir maksimal 0,5 persen, serta butir patah maksimal 15 persen. Untuk beras medium, batas butir patahnya maksimal 25 persen.
Perbedaan tersebut dapat menjadi acuan ketika konsumen membandingkan produk. Badan Pangan Nasional juga menyarankan masyarakat lebih jeli melihat mutu dan label beras, karena produk yang diberi label premium harus sesuai dengan kelas mutu yang ditetapkan.
Selain mutu, perhatikan harga dalam satuan yang sama. Misalnya, beras kemasan 5 kilogram seharga Rp81 ribu berarti sekitar Rp16.200 per kilogram, sedangkan kemasan Rp85 ribu setara Rp17.000 per kilogram.
Perhitungan tersebut membantu konsumen membandingkan produk dengan ukuran berbeda. Harga kemasan yang terlihat lebih murah belum tentu memiliki harga per kilogram yang lebih rendah.
Baca Juga: Beras Premium Mulai Langka, Pemkab Tulungagung Siapkan Operasi Pasar
Premium Tidak Selalu Harus Menjadi Pilihan
Ketika pasokan premium terbatas, konsumen dapat mempertimbangkan kelas beras lain yang sesuai kebutuhan dan anggaran. Pilihan tersebut dapat dilakukan dengan tetap memperhatikan mutu, label, berat bersih, dan harga produk.
Dalam konteks Tulungagung, beras premium sebelumnya dilaporkan mulai sulit ditemukan di sejumlah toko. Di beberapa titik, harga kemasan 5 kilogram berada pada kisaran Rp81 ribu hingga Rp85 ribu.
Pemerintah daerah kemudian menyiapkan operasi pasar dengan menggandeng Bulog untuk menjaga ketersediaan beras premium sekaligus meredam tekanan harga. Informasi tersebut menunjukkan bahwa kondisi pasokan di tingkat toko tidak selalu menggambarkan keseluruhan ketersediaan beras karena stok juga berada pada jalur distribusi lain.
Beras SPHP juga dapat menjadi pilihan yang perlu diketahui konsumen ketika tersedia sesuai program pemerintah. Bapanas menyebut SPHP merupakan intervensi untuk menyeimbangkan harga beras di pasar, dengan distribusi melalui Bulog. Program 2026 ditargetkan berjalan sepanjang tahun.
Karena itu, memilih beras sesuai kebutuhan sebaiknya dilakukan dengan melihat tiga hal utama: kebutuhan konsumsi, mutu produk, dan kemampuan anggaran. Konsumen tidak hanya perlu mencari beras yang tersedia, tetapi juga membandingkan informasi pada kemasan dan harga per kilogram.
Dengan cara tersebut, keterbatasan stok beras premium tidak otomatis membuat belanja beras harus melebihi kemampuan rumah tangga. Mutu, kebutuhan, ukuran pembelian, dan harga dapat menjadi dasar pertimbangan sebelum menentukan beras yang dibawa pulang.
Editor : Vidya Sajar FitriSumber : Diolah dari berbagai sumber