Beras Premium Sulit Ditemukan, Apa Bedanya dengan Beras SPHP dan Kapan Bisa Jadi Alternatif?

Vidya Sajar Fitri • Dipublikasikan Jumat, 18 September 2026 | 16:10 WIB
Beras premium sulit ditemukan? Kenali beda beras premium dan SPHP serta kapan SPHP bisa dipilih sebagai alternatif yang lebih terjangkau.(ILUSTRASI AI)
Beras premium sulit ditemukan? Kenali beda beras premium dan SPHP serta kapan SPHP bisa dipilih sebagai alternatif yang lebih terjangkau.(ILUSTRASI AI)

TULUNGAGUNG - Beras premium sulit ditemukan di sejumlah toko dan supermarket Tulungagung. Kondisi ini membuat konsumen perlu mengetahui perbedaan beras premium dengan beras SPHP agar tetap bisa menentukan pilihan ketika stok beras premium kosong atau harganya terlalu tinggi.

Beras premium sulit ditemukan bukan berarti masyarakat tidak memiliki pilihan lain. Beras SPHP merupakan program pemerintah untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga beras, sehingga dapat menjadi alternatif bagi konsumen yang membutuhkan beras dengan harga lebih terjangkau.

Perbedaan utama keduanya terletak pada kategori dan tujuan programnya. Beras premium merupakan kategori beras konsumsi yang dijual di pasar dengan ketentuan mutu dan HET, sedangkan SPHP merupakan beras dalam program stabilisasi pemerintah yang penyalurannya diatur agar masyarakat memperoleh beras dengan harga terkendali.

Baca Juga: Beras Premium di Atas HET, Mengapa Harga di Toko Bisa Berbeda dari Harga Eceran Tertinggi?

Beras Premium dan SPHP Punya Fungsi Berbeda

Beras premium umumnya menjadi pilihan konsumen yang sudah terbiasa dengan merek, karakter beras, tekstur nasi, maupun tingkat kepulenan tertentu. Namun, kategori premium tidak otomatis berarti setiap produk mempunyai karakter yang sama karena mutu dan spesifikasi dapat berbeda antarproduk.

Sementara itu, SPHP merupakan beras program pemerintah yang disalurkan melalui mekanisme tertentu untuk menjaga ketersediaan dan keterjangkauan harga. Badan Pangan Nasional menjelaskan bahwa beras SPHP ditujukan sebagai instrumen penyeimbang ketika terjadi tekanan harga di pasar.

Dalam ketentuan yang dijelaskan pemerintah pada 2026, beras SPHP diposisikan sebagai beras program dengan kualitas medium. Artinya, konsumen tidak perlu menyamakan SPHP dengan beras premium hanya karena sama-sama merupakan beras konsumsi.

Baca Juga: Beras Premium Langka dan Harga Naik, Ini Cara Belanja Beras Tetap Hemat Tanpa Salah Pilih

Harga SPHP Lebih Terkendali

Perbedaan harga menjadi salah satu alasan konsumen dapat mempertimbangkan SPHP ketika beras premium sulit ditemukan. Untuk wilayah Jawa yang masuk Zona 1, harga SPHP di tingkat konsumen ditetapkan Rp12.500 per kilogram. Sementara HET beras premium di Zona 1 sebesar Rp14.900 per kilogram.

Jika dihitung dalam kemasan 5 kilogram, harga acuan tersebut setara sekitar Rp62.500 untuk SPHP dan Rp74.500 untuk beras premium. Angka premium tersebut juga sesuai dengan HET yang digunakan dalam pemantauan harga di Tulungagung.

Kondisi di lapangan menunjukkan adanya tekanan pada beras premium. Saat pemantauan Pasar Ngunut pada 8 September, beras premium kemasan 5 kilogram ditemukan dijual Rp81 ribu. Pada pemantauan 14 September di Pasar Ngemplak, harganya mencapai Rp85 ribu. Sejumlah supermarket juga dilaporkan mengalami kekosongan berbagai merek dan ukuran beras premium.

Di sisi lain, beras SPHP masih ditemukan tersedia dalam pemantauan di Pasar Ngunut dan dijual di bawah HET. Situasi tersebut menunjukkan bahwa konsumen memiliki pilihan lain ketika beras premium tidak tersedia di tempat belanja.

Baca Juga: Operasi Pasar Beras, Ini Cara Kerjanya untuk Menjaga Ketersediaan dan Harga

Kapan SPHP Bisa Dipilih sebagai Alternatif?

SPHP dapat dipertimbangkan ketika kebutuhan utama konsumen adalah memperoleh beras dengan harga lebih terkendali, bukan mempertahankan merek atau karakter nasi tertentu. Pilihan ini juga relevan ketika selisih harga dengan beras premium cukup besar dan kualitas medium masih sesuai dengan kebutuhan keluarga.

Konsumen sebaiknya terlebih dahulu melihat kebutuhan rumah tangga. Jika beras akan digunakan sebagai kebutuhan sehari-hari dan keluarga tidak memiliki tuntutan khusus terhadap jenis atau karakter nasi, SPHP bisa menjadi pilihan praktis selama stok tersedia.

Sebaliknya, konsumen yang memang membutuhkan karakter tertentu dari beras premium tetap dapat menunggu pasokan kembali normal. Namun, penting membandingkan harga berdasarkan berat bersih agar tidak hanya terpaku pada nominal harga kemasan.

Kondisi di Tulungagung juga menunjukkan bahwa persoalan beras premium tidak hanya berkaitan dengan harga, tetapi juga ketersediaan. Pemerintah daerah menyiapkan koordinasi dengan Bulog untuk melakukan intervensi pasar dan memastikan pasokan beras premium tetap tersedia.

Bagi konsumen, memahami perbedaan antara beras premium dan SPHP membantu menentukan pilihan secara lebih rasional. Ketika beras premium sulit ditemukan, SPHP dapat menjadi alternatif terutama bagi rumah tangga yang mengutamakan keterjangkauan harga dan ketersediaan beras.

Editor : Vidya Sajar Fitri
Sumber : Diolah dari berbagai sumber
het beras premium beras premium sulit ditemukan harga beras sphp alternatif beras premium Beras sphp