Mengapa Kemarau Panjang Menguntungkan Petani Tembakau? Ini Kondisi Cuaca yang Dibutuhkan Tanaman

Vidya Sajar Fitri • Dipublikasikan Jumat, 18 September 2026 | 16:20 WIB
Kemarau panjang menguntungkan petani tembakau pada kondisi tertentu. Kenali alasan cuaca kering mendukung produktivitas dan kualitas tanaman.(ILUSTRASI AI)
Kemarau panjang menguntungkan petani tembakau pada kondisi tertentu. Kenali alasan cuaca kering mendukung produktivitas dan kualitas tanaman.(ILUSTRASI AI)

RADAR TULUNGAGUNG - Kemarau panjang menguntungkan petani tembakau ketika kondisi kering berlangsung pada fase yang sesuai dengan kebutuhan tanaman. Cuaca minim hujan membantu menciptakan kondisi yang mendukung pertumbuhan hingga proses menuju panen, terutama karena tembakau membutuhkan periode kering untuk menjaga produktivitas dan kualitas daun.

Kemarau panjang menguntungkan petani tembakau bukan berarti tanaman tersebut tidak membutuhkan air sama sekali. Pada fase pertumbuhan, ketersediaan air tetap penting, sedangkan kondisi terlalu basah menjelang panen justru dapat mengganggu produktivitas dan kualitas tembakau. Penelitian mengenai tembakau di Indonesia menunjukkan kondisi kering sebelum panen berperan terhadap produktivitas dan kualitas hasil.

Karena itu, hubungan antara musim kemarau dan tembakau perlu dilihat secara lebih tepat. Kemarau memberikan keuntungan ketika curah hujan tidak berlebihan dan tanaman memperoleh kondisi lingkungan yang sesuai, bukan ketika lahan mengalami kekeringan ekstrem tanpa pasokan air.

Baca Juga: Budidaya Tembakau Tulungagung Capai 988 Hektare, Kemarau Panjang Dukung Produksi

Mengapa Tembakau Cocok dengan Kondisi Lebih Kering?

Tembakau merupakan tanaman yang sensitif terhadap kondisi lingkungan. Curah hujan berlebihan dapat meningkatkan risiko genangan dan mengganggu kondisi perakaran. Penelitian pada tanaman tembakau menunjukkan bahwa genangan akibat curah hujan tinggi menjadi salah satu kendala dalam budidaya. 

Kondisi kering juga menjadi penting ketika tanaman memasuki periode menjelang panen. Kajian mengenai produktivitas tembakau di Temanggung menemukan bahwa tembakau membutuhkan kondisi kering yang cukup sebelum panen untuk membantu mempertahankan produktivitas dan kualitas daun.

Dalam penelitian tersebut, periode kering yang terganggu oleh hujan berkepanjangan berkaitan dengan penurunan produktivitas. Temuan itu memperlihatkan bahwa hujan yang terus berlangsung pada periode yang tidak tepat dapat menjadi persoalan bagi tanaman tembakau.

Namun, bukan berarti petani dapat membiarkan tanaman tanpa air. Kekeringan yang terlalu berat juga dapat menyebabkan tanaman mengalami cekaman air. Kajian lain menunjukkan bahwa tekanan kekeringan dan suhu tinggi dapat mengganggu proses fisiologis tembakau serta menurunkan biomassa, produktivitas, dan kualitas jika berlangsung terlalu berat.

Baca Juga: Cara Menghemat Air Irigasi saat Musim Kemarau, 5 Langkah agar Tanaman Tetap Terairi

Kondisi Tembakau Tulungagung Saat Kemarau

Gambaran tersebut sejalan dengan kondisi budidaya tembakau di Tulungagung pada 2026. Luas tanaman tembakau tercatat sekitar 988 hektare dengan produktivitas rata-rata sekitar 1,6 ton rajangan kering per hektare.

Kondisi cuaca tahun ini dinilai mendukung petani tembakau. Musim kemarau yang berlangsung panjang memberikan kondisi yang dianggap sesuai untuk mengoptimalkan budidaya komoditas tersebut.

Potensi hasil juga terlihat di tingkat kelompok tani. Di Desa Kendalbulur, Kecamatan Boyolangu, misalnya, satu hektare lahan disebut dapat menghasilkan sekitar 3 ton daun basah apabila tanaman tumbuh tanpa gangguan penyakit layu Fusarium.

Kelompok Tani Makmur di desa tersebut mengelola sekitar 26 hektare lahan tembakau. Sementara luas lahan tembakau di Desa Kendalbulur secara keseluruhan mencapai sekitar 112 hektare.

Tulungagung juga memiliki varietas tembakau yang banyak dikembangkan petani, di antaranya Gagang Sidi dan Gagang Rejeb. Gagang Sidi disebut menjadi salah satu varietas yang banyak ditanam di wilayah tersebut.

Baca Juga: Pola Tanam Palawija Musim Kemarau, Pilih Tanaman Sesuai Kebutuhan Air agar Irigasi Tak Terbebani

Kemarau Tetap Perlu Diimbangi Pengelolaan Tanaman

Bagi petani, kondisi kemarau tidak cukup hanya dilihat dari panjangnya periode tanpa hujan. Faktor yang lebih penting adalah apakah kebutuhan air tanaman tetap terpenuhi pada fase pertumbuhan yang membutuhkan kelembapan.

Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) menjelaskan bahwa kekeringan merupakan kondisi kekurangan hujan berkepanjangan yang dapat menyebabkan kelangkaan air. Sektor pertanian termasuk yang paling rentan terhadap dampak kekeringan sehingga pengelolaan risiko tetap diperlukan. 

Artinya, keuntungan kemarau bagi tembakau lebih tepat dipahami sebagai kesesuaian kondisi kering pada waktu tertentu, bukan sebagai jaminan bahwa semua periode tanpa hujan akan meningkatkan hasil. Petani tetap perlu memperhatikan kondisi tanaman, ketersediaan air, kesehatan tanaman, dan waktu panen.

Terlebih, penyakit tanaman tetap dapat memengaruhi hasil meskipun kondisi cuaca mendukung. Potensi produksi di tingkat lahan dapat berbeda apabila tanaman mengalami gangguan penyakit atau cekaman lingkungan.

Dengan demikian, kemarau panjang menguntungkan petani tembakau terutama ketika kondisi kering membantu tanaman memasuki fase produksi dan panen tanpa gangguan hujan berlebihan. Data budidaya di Tulungagung pada 2026 menunjukkan tembakau tetap menjadi komoditas penting, sementara kajian pertanian menunjukkan periode kering sebelum panen memang dapat mendukung produktivitas dan kualitas tembakau. 

Editor : Vidya Sajar Fitri
Sumber : Diolah dari berbagai sumber
kemarau panjang menguntungkan petani tembakau budidaya tembakau produktivitas tembakau musim kemarau tembakau tulungagung