RADAR TULUNGAGUNG - Varietas tembakau Tulungagung menjadi salah satu bagian penting dalam budidaya komoditas perkebunan di daerah tersebut. Dua nama yang dikenal dalam pengembangan tembakau lokal adalah Gagang Sidi dan Gagang Rejeb, dengan Gagang Sidi disebut lebih banyak ditanam petani.
Varietas tembakau Tulungagung tersebut berkembang di tengah potensi lahan tembakau yang masih cukup besar. Pada 2026, luas tanaman tembakau di Kabupaten Tulungagung tercatat sekitar 988 hektare dengan produktivitas rata-rata mencapai 1,6 ton rajangan kering per hektare.
Varietas tembakau Tulungagung tidak hanya berkaitan dengan jenis tanaman yang ditanam. Pemilihan varietas menjadi bagian dari budidaya karena karakter setiap varietas dapat berkaitan dengan lingkungan tumbuh, teknik pemeliharaan, hingga tujuan produksi. Namun, data spesifik mengenai karakter Gagang Sidi dan Gagang Rejeb perlu dilihat berdasarkan hasil penelitian atau deskripsi varietas masing-masing.
Baca Juga: Berapa Hasil Tembakau dari 1 Hektare? Ini Bedanya Daun Basah dan Rajangan Kering
Gagang Sidi Banyak Dikembangkan Petani
Gagang Sidi merupakan salah satu varietas tembakau yang banyak ditanam di Tulungagung. Selain varietas tersebut, petani juga mengembangkan Gagang Rejeb sebagai bagian dari budidaya tembakau di wilayah setempat.
Keberadaan dua varietas itu menunjukkan bahwa pertanian tembakau Tulungagung memiliki jenis tanaman yang telah dikenal dan dikembangkan petani. Gagang Sidi bahkan disebut menjadi varietas yang lebih banyak ditanam dibandingkan Gagang Rejeb.
Dalam budidaya tanaman, varietas menjadi salah satu faktor penting karena setiap tanaman memiliki karakter genetik yang dapat memengaruhi pertumbuhan dan hasil. Kementerian Pertanian menjelaskan bahwa varietas unggul merupakan salah satu komponen teknologi dalam peningkatan produktivitas tanaman dan penggunaannya perlu disesuaikan dengan kondisi budidaya.
Karena itu, penyebutan varietas Gagang Sidi dan Gagang Rejeb dalam konteks tembakau Tulungagung tidak sekadar menunjukkan nama tanaman. Keduanya menjadi bagian dari pilihan bahan tanam yang digunakan dalam kegiatan pertanian tembakau di daerah tersebut.
Baca Juga: Mengapa Kemarau Panjang Menguntungkan Petani Tembakau? Ini Kondisi Cuaca yang Dibutuhkan Tanaman
Luas Tembakau Tulungagung Capai 988 Hektare
Pengembangan varietas tembakau tersebut berlangsung pada areal yang cukup luas. Data 2026 mencatat sekitar 988 hektare lahan di Tulungagung ditanami tembakau.
Produktivitas rata-rata yang dicatat berada di angka sekitar 1,6 ton rajangan kering per hektare. Satuan tersebut menunjukkan hasil setelah daun tembakau melewati proses pengolahan dan pengeringan, sehingga berbeda dengan perhitungan hasil dalam bentuk daun basah.
Potensi produksi juga terlihat di Desa Kendalbulur, Kecamatan Boyolangu. Di wilayah tersebut, lahan tembakau mencapai kurang lebih 112 hektare, sedangkan satu kelompok tani mengelola sekitar 26 hektare.
Pada tingkat lahan, potensi hasil dapat mencapai sekitar 3 ton daun basah per hektare apabila tanaman tumbuh tanpa gangguan penyakit layu Fusarium. Angka tersebut tidak bisa langsung dibandingkan dengan produktivitas 1,6 ton rajangan kering karena keduanya menggunakan bentuk hasil yang berbeda.
Kondisi tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa hasil tembakau dipengaruhi lebih dari sekadar varietas. Kesehatan tanaman, kondisi lingkungan, teknik budidaya, serta proses pengolahan setelah panen juga menjadi bagian dari rangkaian produksi.
Baca Juga: Budidaya Tembakau Tulungagung Capai 988 Hektare, Kemarau Panjang Dukung Produksi
Kenapa Varietas Penting dalam Budidaya Tembakau?
Pemilihan varietas menjadi salah satu tahap yang perlu diperhatikan petani sebelum memulai budidaya. Secara umum, varietas yang digunakan harus sesuai dengan kondisi lingkungan dan tujuan produksi agar potensi tanaman dapat dimanfaatkan secara optimal.
Faktor lingkungan juga tidak dapat dipisahkan dari budidaya tembakau. Pada 2026, kondisi kemarau panjang di Tulungagung dinilai mendukung pertanian tembakau karena memberikan kondisi cuaca yang sesuai bagi tanaman tersebut.
Namun, kondisi cuaca yang mendukung tidak otomatis menghilangkan risiko budidaya. Gangguan penyakit tetap dapat memengaruhi hasil, seperti terlihat dari potensi perbedaan produksi ketika tanaman mengalami penyakit layu Fusarium.
Bagi pembaca yang ingin memahami keyword varietas tembakau Tulungagung, Gagang Sidi dan Gagang Rejeb merupakan dua nama penting yang disebut dalam pengembangan tembakau daerah tersebut. Gagang Sidi menjadi varietas yang banyak ditanam, sedangkan Gagang Rejeb juga dikembangkan petani.
Dengan luas tanaman sekitar 988 hektare dan produktivitas rata-rata 1,6 ton rajangan kering per hektare pada 2026, tembakau masih memiliki peran dalam sektor pertanian Tulungagung. Pengenalan varietas perlu dibarengi pemahaman mengenai kondisi lahan, cuaca, kesehatan tanaman, serta cara budidaya agar data produksi tidak hanya dilihat dari jenis tanamannya.
Editor : Vidya Sajar FitriSumber : Diolah dari berbagai sumber