RADAR TULUNGAGUNG - Pencarian korban kecelakaan kapal dilakukan melalui operasi pencarian dan pertolongan yang melibatkan koordinasi petugas, pengumpulan informasi kejadian, pengerahan sumber daya, hingga penyampaian perkembangan kepada masyarakat. Bagi keluarga korban, memahami alur tersebut penting agar informasi yang diterima tetap berasal dari jalur resmi.
Pencarian korban kecelakaan kapal bukan proses yang hanya dilakukan dengan mencari korban di lokasi kejadian. Basarnas menjelaskan, laporan kejadian terlebih dahulu diterima dan dicatat, kemudian diverifikasi sebelum petugas bergerak melaksanakan operasi pencarian dan pertolongan.
Dalam pencarian korban kecelakaan kapal, keluarga memiliki peran penting terutama dalam memberikan informasi yang diketahui dan menjaga komunikasi dengan pihak yang menangani operasi. Sementara perkembangan mengenai lokasi pencarian dan status korban perlu mengikuti informasi resmi dari unsur SAR.
Baca Juga: Warga Majan Tulungagung Gelar Doa Bersama untuk Dua Korban KM Virgo Transport 8
Bagaimana Operasi Pencarian Korban Dimulai?
Operasi SAR dapat bermula dari laporan mengenai kecelakaan, bencana, atau kondisi yang membahayakan manusia. Informasi yang disampaikan pelapor perlu memuat identitas yang jelas, nomor kontak yang bisa dihubungi, serta keterangan kejadian yang diketahui.
Basarnas kemudian menerima dan mencatat laporan tersebut. Setelah itu, petugas melakukan verifikasi serta menggali informasi lebih lanjut sebelum unsur pencarian dan pertolongan bergerak ke lokasi.
Dalam operasi di lapangan, koordinasi menjadi bagian penting. Kantor Pencarian dan Pertolongan memiliki tugas melaksanakan siaga dan operasi, mengelola komunikasi, serta melakukan koordinasi, pengerahan, dan pengendalian potensi pencarian dan pertolongan.
Artinya, proses pencarian tidak berjalan secara terpisah-pisah. Informasi dan sumber daya dikoordinasikan agar operasi dapat dilakukan secara terpadu sesuai kondisi kejadian.
Baca Juga: Selamat dari Tragedi KM Virgo, Warga Tulungagung Terombang-ambing 6 Jam di Laut Jawa
Apa Peran Keluarga Selama Operasi SAR?
Keluarga dapat membantu dengan memberikan data yang dibutuhkan petugas. Informasi mengenai identitas korban, perjalanan, lokasi terakhir diketahui, atau keterangan lain yang relevan dapat disampaikan melalui jalur komunikasi yang ditetapkan.
Keluarga juga sebaiknya menunjuk anggota yang menjadi penghubung utama. Cara ini membantu memastikan informasi dari petugas dapat diterima dan diteruskan kepada keluarga tanpa menimbulkan banyak versi informasi.
Dalam pedoman penyelenggaraan pencarian dan pertolongan, komunikasi dengan keluarga korban menjadi bagian yang diperhatikan. Informasi mengenai perkembangan operasi SAR perlu disampaikan secara jelas dan dengan memperhatikan aspek etika, termasuk ketika menyampaikan berita duka.
Karena itu, keluarga tidak perlu melakukan pencarian sendiri di lokasi tanpa koordinasi. Kegiatan pencarian memiliki prosedur, sumber daya, dan sistem komunikasi yang memang disiapkan untuk mendukung operasi SAR.
Basarnas juga memiliki sistem informasi dan komunikasi dalam penyelenggaraan pencarian dan pertolongan. Lembaga tersebut bertugas menyampaikan informasi penyelenggaraan operasi kepada masyarakat secara berkala maupun pada saat operasi berlangsung.
Baca Juga: Plt Bupati Tulungagung Ikut Terdampak, Tujuh Sak Konveksi Rp105 Juta Ada di KM Virgo
Mengapa Informasi Resmi Penting bagi Keluarga?
Informasi resmi menjadi penting karena status korban dapat berubah seiring perkembangan pencarian. Keluarga sebaiknya mencatat informasi yang diterima, termasuk waktu pembaruan dan pihak yang menyampaikannya.
Kabar dari media sosial atau pesan berantai sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai informasi resmi. Dalam situasi pencarian, informasi yang belum diverifikasi dapat menimbulkan kebingungan, terutama ketika keluarga sedang menunggu kepastian mengenai anggota keluarganya.
Konteks tersebut terlihat dalam kecelakaan KM Virgo Transport 8 di perairan Masalembo, Laut Jawa. Dua warga Dusun Cikalan, Desa Majan, Kecamatan Kedungwaru, yakni Danil Iswahyudi, 40, dan Sukardi, 51, masih dalam pencarian berdasarkan data yang diberitakan pada Jumat (18/9).
Keluarga di kampung halaman masih menunggu informasi dari pusat koordinasi pencarian. Keterbatasan transportasi dan biaya juga membuat keluarga tidak seluruhnya dapat menyusul ke lokasi, sehingga komunikasi dengan perwakilan yang berada di sekitar lokasi menjadi penting.
Di sisi lain, warga Dusun Cikalan menggelar doa bersama sebagai bentuk dukungan kepada keluarga. Kegiatan tersebut berlangsung selama beberapa hari dan warga secara swadaya turut menyediakan makanan serta minuman.
Berdasarkan data resmi terakhir yang tercantum dalam berita, dari total 243 penumpang KM Virgo Transport 8, sebanyak 114 orang dinyatakan selamat dan enam orang meninggal dunia. Sementara itu, 129 orang lainnya masih dalam pencarian.
Secara umum, Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2014 mengatur penyelenggaraan pencarian dan pertolongan agar dilakukan secara cepat, tepat, aman, terpadu, dan terkoordinasi.
Karena itu, ketika pencarian korban kecelakaan kapal berlangsung, keluarga dapat berfokus pada pemberian informasi yang diperlukan, menjaga komunikasi dengan pihak terkait, dan mengikuti perkembangan melalui kanal resmi. Sementara proses pencarian di lapangan dilakukan oleh unsur SAR sesuai prosedur dan koordinasi yang berlaku.
Editor : Vidya Sajar FitriSumber : Diolah dari berbagai sumber