TULUNGAGUNG - Pompanisasi menjadi salah satu cara yang dapat digunakan untuk menjaga lahan pertanian tetap produktif ketika pasokan air irigasi berkurang saat musim kemarau. Metode ini membantu mengalirkan air dari sumber yang tersedia menuju lahan yang membutuhkan.
Namun, pompanisasi bukan satu-satunya pilihan. Pengelolaan air pertanian juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan embung, memperbaiki jaringan irigasi, serta mengoptimalkan sumber air yang tersedia agar lahan tetap bisa ditanami.
Di Tulungagung, pompanisasi menjadi salah satu solusi yang didorong untuk mengatasi keterbatasan air saat kemarau. Optimalisasi sumber air tersebut dinilai dapat membantu lahan yang sebelumnya hanya ditanami sekali setahun agar memiliki peluang meningkatkan frekuensi tanam.
Baca Juga: Mengapa Jaringan Irigasi Penting bagi Produktivitas Pertanian? Ini Dampak Saluran Kotor dan Bocor
Pompanisasi membantu mengalirkan air ke lahan
Pompanisasi pada dasarnya merupakan penggunaan pompa untuk mengangkat atau memindahkan air dari sumber tertentu menuju area pertanian. Teknologi ini dapat digunakan ketika sumber air tersedia, tetapi lokasinya tidak memungkinkan mengalir secara langsung ke lahan.
Kementerian Pertanian menjadikan sistem irigasi perpompaan sebagai salah satu strategi menghadapi musim kemarau 2026. Pemerintah juga mendorong optimalisasi sumber air dari waduk, embung, sungai, maupun sumur untuk menjaga keberlanjutan produksi pertanian.
FAO menjelaskan bahwa teknologi pompa dapat membantu petani mengangkat dan mendistribusikan air sehingga pemberian air ke tanaman dapat dilakukan pada waktu dan tempat yang dibutuhkan. Namun, pemanfaatan pompa tetap perlu disesuaikan dengan kondisi sumber air dan pengelolaan air yang berkelanjutan.
Artinya, pompa bukan berarti membuat pasokan air menjadi tidak terbatas. Petani tetap perlu memastikan sumber air tersedia dan penggunaannya tidak berlebihan.
Baca Juga: Pupuk Bersubsidi Tulungagung Tersalur 81,7 Persen, Masih Ada 8.774 Ton
Embung menjadi cadangan air ketika kemarau
Selain pompanisasi, embung dapat menjadi bagian penting dari strategi menghadapi keterbatasan air. Embung berfungsi menampung air sehingga dapat dimanfaatkan ketika pasokan dari hujan atau sumber air lain mulai berkurang.
Kementerian Pekerjaan Umum menjelaskan bahwa embung dapat digunakan untuk menampung air hujan, limpasan, maupun sumber air lainnya guna mendukung kegiatan pertanian. Infrastruktur ini juga dapat membantu menyediakan cadangan air ketika memasuki periode kering.
FAO juga menyebut pemanenan dan penyimpanan air sebagai cara untuk meningkatkan keandalan pasokan air pertanian. Air yang ditampung ketika tersedia dapat digunakan kembali saat pasokan menurun, sehingga membantu memperpanjang masa tanam dan meningkatkan ketahanan terhadap periode kering.
Kondisi tersebut relevan dengan kebutuhan petani di Tulungagung. Sejumlah wilayah seperti Pucanglaban, bagian timur Rejotangan, serta sebagian Kauman dan Karangrejo disebut masih memiliki potensi untuk dikembangkan melalui optimalisasi sumber air.
Baca Juga: Irigasi Tulungagung Jadi Perhatian Petani, Kemarau Ancam Produktivitas Lahan
Kombinasikan sumber air dengan perbaikan irigasi
Menjaga produktivitas lahan saat kemarau tidak cukup hanya dengan menambah pompa atau membuat tampungan air. Jaringan irigasi yang sudah ada juga perlu dipastikan berfungsi dengan baik.
Di Tulungagung, debit air sejumlah jaringan irigasi menurun ketika kemarau. Kondisi tersebut semakin berat karena masih terdapat saluran yang kotor dan mengalami kebocoran sehingga air yang tersedia tidak seluruhnya sampai ke lahan.
Karena itu, perbaikan dan pemeliharaan jaringan perlu berjalan bersamaan dengan pengembangan sumber air alternatif. Kementan pada 2026 juga meminta daerah mengantisipasi kekeringan melalui perbaikan jaringan irigasi, normalisasi saluran, serta optimalisasi embung dan waduk.
Pengelolaan air yang lebih baik dapat membuka peluang meningkatkan indeks pertanaman. Lahan yang sebelumnya hanya mampu ditanami padi sekali dalam setahun berpeluang ditingkatkan menjadi dua hingga tiga kali tanam apabila ketersediaan air mencukupi.
Manfaatnya juga tidak terbatas pada padi. Pertanian Tulungagung berkembang ke komoditas hortikultura seperti melon, cabai, dan semangka, termasuk melalui sistem greenhouse. Ketersediaan air menjadi salah satu faktor pendukung agar pengembangan komoditas tersebut dapat berlangsung konsisten.
FAO menegaskan bahwa pengelolaan air yang baik berkaitan dengan produktivitas air dan ketahanan pangan jangka panjang. Karena itu, strategi menghadapi kemarau idealnya tidak bertumpu pada satu metode, melainkan menggabungkan efisiensi irigasi, penyimpanan air, pengangkatan air, serta pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan.
Dengan demikian, pompanisasi dapat menjadi solusi ketika air tersedia tetapi membutuhkan bantuan untuk mencapai lahan. Sementara embung berfungsi sebagai tampungan, dan jaringan irigasi yang terawat memastikan air dapat didistribusikan secara optimal. Kombinasi ketiganya dapat membantu petani mempertahankan produktivitas lahan ketika musim kemarau berlangsung.
Editor : Vidya Sajar Fitri
Sumber : Diolah dari berbagai sumber