Mengapa Pengelolaan Limbah Penting bagi Pasar Ikan? Ini Peran IPAL

Vidya Sajar Fitri • Dipublikasikan Senin, 28 September 2026 | 11:53 WIB
Pengelolaan limbah pasar ikan penting untuk mencegah bau dan pencemaran. Kenali karakter limbah dan peran IPAL dalam mengolahnya.(ILUSTRASI AI)
Pengelolaan limbah pasar ikan penting untuk mencegah bau dan pencemaran. Kenali karakter limbah dan peran IPAL dalam mengolahnya.(ILUSTRASI AI)

TULUNGAGUNG - Pengelolaan limbah pasar ikan menjadi bagian penting dalam menjaga kebersihan lingkungan di sekitar pasar. Aktivitas seperti mencuci, memotong, dan membersihkan ikan dapat menghasilkan air limbah yang membawa sisa bahan organik, sehingga perlu ditangani dengan sistem pengolahan yang sesuai.

Persoalan tersebut menjadi perhatian dalam rencana revitalisasi Pasar Ikan Bandung, Tulungagung. Keluhan masyarakat sekitar selama ini berkaitan dengan bau dari aktivitas pasar. Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Tulungagung pun mempertimbangkan pembenahan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) di lokasi yang ada sebagai salah satu pilihan.

Langkah itu berkaitan dengan karakteristik limbah dari aktivitas perikanan. Food and Agriculture Organization (FAO) menjelaskan, air limbah kegiatan perikanan umumnya mengandung bahan pencemar yang sebagian besar bersifat organik. Tingkat pencemarannya bergantung pada aktivitas, kekuatan limbah, serta volume air limbah yang dihasilkan.

Baca Juga: Relokasi Pasar Ikan Bandung Tulungagung Terkendala Lahan, Disperindag Pertimbangkan Benahi IPAL

Mengapa Limbah Pasar Ikan Bisa Menimbulkan Bau?

Bau bukan semata-mata persoalan keberadaan pasar ikan. Karakteristik limbah dan bagaimana bahan organik tersebut ditangani turut menentukan munculnya bau.

FAO menjelaskan, bau pada air limbah perikanan dapat muncul akibat penguraian bahan organik yang menghasilkan senyawa seperti amina volatil, diamina, dan pada kondisi tertentu amonia. Ketika air limbah menjadi septik atau kekurangan oksigen, hidrogen sulfida juga dapat terbentuk dan menimbulkan bau khas.

Kondisi serupa juga dikenal dalam sistem pengelolaan air limbah secara umum. Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA) menjelaskan bahwa penguraian bahan organik dalam kondisi anaerob dapat menghasilkan hidrogen sulfida dan senyawa berbau lainnya. Penumpukan bahan organik, lumpur, atau endapan juga dapat menjadi sumber bau apabila tidak dikelola dengan baik.

Karena itu, persoalan bau tidak otomatis selesai hanya dengan memindahkan pasar. Jika sumber limbah dan cara pengolahannya tidak dibenahi, persoalan serupa dapat muncul di lokasi baru.

Baca Juga: Diskan Tulungagung Gelar Temu Usaha, 15 Kelompok Pengolah Ikan Didorong Perluas Kemitraan Usaha

Bagaimana IPAL Mengolah Limbah Pasar Ikan?

IPAL pada dasarnya berfungsi mengolah air limbah sebelum dilepas ke lingkungan. Untuk limbah kegiatan perikanan, pengolahan dapat mencakup beberapa tahapan sesuai karakteristik limbah dan tingkat pengolahan yang dibutuhkan.

FAO menjelaskan bahwa pengolahan awal dapat menggunakan penyaringan dan pengendapan untuk memisahkan padatan seperti sisik, potongan daging ikan, dan bagian ikan lainnya. Penyaringan juga penting dilakukan sedini mungkin karena bahan padat ikan dapat lebih sulit dipisahkan setelah bercampur lebih lama dengan air.

Tahap berikutnya dapat berupa pengolahan biologis. Proses ini memanfaatkan mikroorganisme untuk menguraikan bahan organik yang masih terlarut atau belum terpisahkan pada tahap awal. Ketersediaan oksigen menjadi faktor penting dalam pengolahan biologis aerob.

Artinya, IPAL bukan sekadar bak penampungan air kotor. Kinerja sistem bergantung pada kesesuaian desain dengan karakteristik limbah, kapasitas, pengoperasian, serta pemeliharaan setiap unit pengolahan.

Baca Juga: Kisah Gufron Herlambang, Pemuda Tulungagung Sukses Budi Daya Ikan Koi hingga Tembus Pasar Vietnam dan Filipina

IPAL Tidak Cukup Hanya Dibangun

Salah satu hal penting dalam pengelolaan limbah pasar ikan adalah memastikan sistem tetap berfungsi setelah dibangun. Penyaringan yang tersumbat, penumpukan padatan, kapasitas yang tidak sesuai, atau proses biologis yang tidak berjalan optimal dapat memengaruhi hasil pengolahan.

Dalam pengolahan limbah perikanan, FAO juga menekankan pentingnya operasi dan pemeliharaan. Pada sistem biologis, misalnya, keberhasilan proses membutuhkan pengoperasian yang tepat, termasuk penyediaan oksigen yang memadai pada proses aerob.

Di Indonesia, pengendalian pencemaran juga memiliki kerangka regulasi. Permen LHK Nomor 5 Tahun 2021 mengatur tata cara penerbitan persetujuan teknis dan surat kelayakan operasional bidang pengendalian pencemaran lingkungan. Aturan tersebut masih berlaku, meski sebagian ketentuannya telah dicabut untuk bidang tertentu oleh regulasi yang lebih baru.

Karena itu, pembenahan IPAL perlu dilihat sebagai satu rangkaian, mulai dari karakterisasi limbah, kapasitas sistem, proses pengolahan, pengelolaan padatan dan lumpur, hingga operasi serta pemeliharaan.

Dalam konteks Pasar Ikan Bandung, pilihan memperbaiki pengelolaan limbah berkaitan langsung dengan persoalan yang dikeluhkan masyarakat sekitar. Disperindag menilai pembenahan IPAL dapat menjadi opsi dibandingkan langsung memindahkan pasar, terutama karena relokasi juga menghadapi persoalan lahan dan membutuhkan investasi besar.

Pada akhirnya, keberadaan pasar ikan dan pengelolaan lingkungan tidak harus diposisikan sebagai dua hal yang bertentangan. Yang menentukan adalah bagaimana limbah dari aktivitas perdagangan tersebut ditangani sejak sumbernya hingga hasil akhirnya, sehingga persoalan bau dan potensi pencemaran tidak sekadar berpindah tempat.

Editor : Vidya Sajar Fitri
Sumber : Diolah dari berbagai sumber
pengelolaan limbah limbah ikan ipal tulungagung pasar ikan