Mengapa Anak Muda Perlu Melihat Pertanian sebagai Bisnis? Kenali Peluang Agribisnis

Vidya Sajar Fitri • Dipublikasikan Senin, 28 September 2026 | 12:40 WIB
Agribisnis membuka peluang usaha bagi anak muda dari hulu hingga hilir, mulai sarana produksi, budidaya, pengolahan hingga pemasaran.(ILUSTRASI AI)
Agribisnis membuka peluang usaha bagi anak muda dari hulu hingga hilir, mulai sarana produksi, budidaya, pengolahan hingga pemasaran.(ILUSTRASI AI)

TULUNGAGUNG - Pertanian tidak harus dipahami sebatas kegiatan menanam, memelihara, lalu memanen. Bagi anak muda, sektor ini juga dapat dilihat sebagai rangkaian bisnis yang mencakup penyediaan sarana produksi, budidaya, pengolahan, pemasaran, hingga jasa pendukung. Cara pandang inilah yang membuat pertanian memiliki ruang usaha lebih luas.

Di Tulungagung, pendekatan tersebut mulai diterapkan dalam pembinaan petani muda. Kepala Dinas Pertanian (Dispertan) Tulungagung Suyanto menyebut sekitar 11 ribu petani milenial telah dicetak melalui program yang dijalankan. Mereka tidak hanya diarahkan untuk bercocok tanam, tetapi juga belajar mengembangkan usaha dan memasarkan hasil pertanian.

Secara konsep, agribisnis memang tidak berhenti di lahan. Kementerian Pertanian membagi sistem agribisnis ke dalam empat subsistem yang saling berkaitan, yakni agribisnis hulu, usaha tani, agribisnis hilir, serta lembaga jasa penunjang.

Artinya, peluang bagi anak muda dapat muncul di setiap mata rantai. Mereka tidak harus semuanya menjadi petani yang mengelola lahan sendiri.

Baca Juga: 11 Ribu Petani Milenial Tulungagung Disiapkan Jadi Pengusaha Agribisnis

Hulu: peluang bisnis sebelum kegiatan budidaya

Bagian hulu berkaitan dengan kebutuhan yang dipakai dalam kegiatan pertanian. Contohnya benih, pupuk, pestisida, alat dan mesin pertanian, serta berbagai sarana produksi lainnya. Kementerian Pertanian menempatkan penyediaan sarana produksi sebagai salah satu subsistem dalam sistem agribisnis.

Bagi generasi muda, ruang usaha pada tahap ini dapat berkaitan dengan penyediaan atau perdagangan sarana produksi, layanan teknologi pertanian, maupun jasa yang membantu petani menjalankan usaha. Bentuknya tidak selalu berupa kepemilikan lahan atau kegiatan produksi tanaman.

Di Tulungagung, pendekatan pembinaan petani muda juga mulai diarahkan pada penguasaan teknologi melalui pelatihan dan bimbingan teknis. Sebagian anak muda bahkan mengembangkan greenhouse, budi daya melon, dan hidroponik secara mandiri.

Baca Juga: Akses Pasar Petani Hortikultura, Ini Tantangan setelah Melon, Cabai, dan Semangka Dipanen

On-farm: bertani dengan menghitung peluang usaha

Tahap berikutnya adalah usaha tani atau kegiatan produksi. Pada bagian ini, petani tetap menjadi pelaku utama, tetapi keputusan budidaya dapat ditempatkan sebagai bagian dari perencanaan bisnis.

Artinya, perhatian tidak hanya tertuju pada bagaimana tanaman tumbuh, tetapi juga bagaimana hasilnya dapat dikembangkan dan dipasarkan. Karena itu, pengetahuan mengenai teknologi, pengelolaan usaha, dan kebutuhan pasar menjadi bagian penting dalam pengembangan agribisnis.

Contohnya terlihat dari kelompok petani muda di Desa Ngunggahan, Kecamatan Bandung, yang mengembangkan usaha telur asin. Ada pula petani muda yang mengembangkan produksi kambing dan susu serta pertanian terintegrasi. Ragam usaha tersebut menunjukkan bahwa agribisnis dapat berjalan lintas subsektor, tidak hanya tanaman pangan.

Baca Juga: Bagaimana Petani Menghadapi Kemarau agar Lahan Tetap Produktif? Kenali Pompanisasi hingga Embung

Hilir: nilai tambah tidak berhenti saat panen

Bagian hilir menjadi penting karena hasil pertanian dapat disortir, diolah, dikemas, didistribusikan, dan dipasarkan sebelum sampai ke konsumen. Dalam pedoman Direktorat Sayuran dan Tanaman Obat Kementerian Pertanian, pengolahan, pengemasan, dan pemasaran termasuk bagian dari subsistem agribisnis hilir.

Kementerian Pertanian juga mengembangkan pendekatan kemitraan agribisnis terintegrasi atau closed-loop yang menghubungkan produksi dengan rantai pasok dan pasar. Dalam pendekatan tersebut, petani didorong menghasilkan komoditas yang sesuai dengan kebutuhan pasar.

Bagi anak muda, bagian ini membuka ruang usaha di luar produksi primer. Pengolahan hasil, pengemasan, distribusi, pemasaran, hingga pemanfaatan teknologi untuk mempertemukan produk dengan konsumen merupakan bagian dari ekosistem agribisnis.

Baca Juga: Dua Kali Gagal Tanam Cabai, Petani Muda Tulungagung Ini Bangkit dan Berhasil

Jasa penunjang: bisnis pertanian juga membutuhkan ekosistem

Agribisnis tidak berdiri sendiri. Permodalan, teknologi, pelatihan, infrastruktur, transportasi, dan akses pasar menjadi bagian dari jasa penunjang yang membuat kegiatan produksi dan pemasaran dapat berjalan. Karena itu, kemampuan membangun jejaring usaha juga penting bagi pelaku agribisnis muda.

Dalam pelatihan pertanian presisi pada 2026, BBPP Ketindan menekankan bahwa teknologi tidak akan berkembang optimal tanpa dukungan akses pasar, kolaborasi usaha, dan hubungan bisnis.

Dengan kerangka tersebut, pilihan usaha anak muda di sektor pertanian menjadi lebih beragam. Seseorang dapat masuk melalui produksi, pengolahan, perdagangan, teknologi, atau layanan pendukung, lalu membangun keterkaitan dengan pelaku lain di rantai agribisnis.

Pola pembinaan di Tulungagung menunjukkan arah serupa. Petani muda tidak hanya disiapkan sebagai penerus tenaga kerja di sektor pertanian, tetapi juga didorong menjadi pelaku usaha. Dengan pemahaman dari hulu hingga hilir, kegiatan pertanian dapat dipandang sebagai ekosistem usaha yang mencakup produksi, pengolahan, pemasaran, teknologi, dan jasa pendukung.

Editor : Vidya Sajar Fitri
Sumber : Diolah dari berbagai sumber
pertanian tulungagung bisnis pertanian agribisnis petani milenial petani muda