TULUNGAGUNG - Peluang usaha di sektor pertanian semakin beragam dan tidak terbatas pada kegiatan menanam serta memanen tanaman. Generasi muda dapat masuk melalui pertanian modern seperti greenhouse dan hidroponik, peternakan, pengolahan hasil, hingga pemasaran produk.
Gambaran tersebut terlihat dari pengembangan petani milenial di Tulungagung. Kepala Dinas Pertanian (Dispertan) Tulungagung Suyanto menyebut sekitar 11 ribu petani milenial telah dicetak melalui program yang dijalankan pemerintah daerah.
Mereka tidak hanya dibekali kemampuan bercocok tanam. Pengembangan diarahkan sampai pada pengelolaan usaha dan pemasaran hasil, sehingga generasi muda diharapkan dapat berperan sebagai pelaku agribisnis dari hulu hingga hilir.
Secara nasional, sektor ini juga memiliki basis tenaga kerja yang besar. Data BPS menunjukkan 41,25 juta penduduk bekerja pada lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan pada Agustus 2025.
Baca Juga: Mengapa Anak Muda Perlu Melihat Pertanian sebagai Bisnis? Kenali Peluang Agribisnis
Greenhouse dan hidroponik untuk pertanian modern
Salah satu peluang yang dapat dikembangkan generasi muda adalah budi daya dengan teknologi pertanian modern. Di Tulungagung, Suyanto menyebut sebagian anak muda telah mengembangkan greenhouse, budi daya melon, dan hidroponik.
Greenhouse memungkinkan tanaman dibudidayakan dalam lingkungan yang lebih terkontrol. Kementerian Pertanian melalui BBPP Ketindan juga menjadikan smart greenhouse sebagai contoh penerapan pertanian modern, termasuk untuk pengembangan budi daya melon.
Sementara itu, hidroponik dapat menjadi pilihan bagi pelaku usaha yang tidak memiliki lahan pertanian luas. Materi literasi Kementerian Pertanian menyebut sejumlah sayuran seperti kangkung, caisim, pakcoy, bayam, dan selada dapat dibudidayakan dengan sistem tersebut. Namun, kebutuhan biaya tetap perlu dihitung berdasarkan sistem, luas area, instalasi, benih, media tanam, dan nutrisi yang digunakan.
Artinya, pertanian modern bukan sekadar menggunakan teknologi, tetapi juga membutuhkan kemampuan menghitung biaya produksi, memilih komoditas, mengelola risiko, dan menentukan pasar.
Baca Juga: Mengapa Jaringan Irigasi Penting bagi Produktivitas Pertanian? Ini Dampak Saluran Kotor dan Bocor
Peternakan juga menjadi bagian dari agribisnis
Peluang usaha pertanian untuk generasi muda tidak berhenti pada tanaman. Di Tulungagung, pengembangan petani muda juga mencakup usaha kambing dan susu serta pertanian terintegrasi.
Di tingkat nasional, Kementerian Pertanian pada 2026 juga mendorong generasi muda masuk ke subsektor peternakan modern. Ruang usahanya tidak hanya berupa pemeliharaan ternak, tetapi dapat berkembang ke pengolahan dan pemasaran produk peternakan.
Pengembangan usaha peternakan membutuhkan pengetahuan teknis sekaligus kemampuan mengelola bisnis. Faktor seperti pakan, kesehatan ternak, produksi, pemasaran, dan pengelolaan biaya menjadi bagian yang perlu dipahami sebelum usaha dikembangkan.
Baca Juga: Pengelolaan Lahan Pertanian di Pucanglaban Tulungagung Didorong Lebih Produktif dan Berkelanjutan
Pengolahan dan pemasaran membuka peluang lain
Generasi muda juga dapat masuk ke sektor pertanian tanpa harus menjadi produsen bahan mentah. Pengolahan hasil pertanian menjadi produk dengan nilai tambah merupakan bagian dari hilirisasi yang juga dapat menjadi ruang usaha.
Contohnya terlihat pada kelompok di Desa Ngunggahan, Kecamatan Bandung, yang mengembangkan usaha telur asin. Ada pula pengembangan usaha pertanian yang terintegrasi dengan peternakan.
Peluang serupa juga didorong pemerintah pada subsektor peternakan. Kementerian Pertanian menyebut generasi muda dapat terlibat dalam diversifikasi produk ayam menjadi produk siap masak atau siap makan, sekaligus mengembangkan pemasaran dan inovasi berbasis teknologi.
Dengan demikian, pilihan usaha tidak harus dimulai dari kepemilikan lahan yang luas. Anak muda dapat memilih bagian rantai agribisnis sesuai kemampuan dan sumber daya yang dimiliki, mulai dari produksi, peternakan, pengolahan, hingga pemasaran.
Di Tulungagung, pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya regenerasi petani. Pelatihan dan bimbingan teknis diberikan agar petani muda tidak hanya memahami produksi, tetapi juga memiliki pengetahuan mengenai pengembangan usaha.
Kementerian Pertanian juga menempatkan analisis kelayakan usaha, akses permodalan, pemasaran digital, rantai pasok, teknologi budi daya, pascapanen, serta hilirisasi sebagai kompetensi yang penting bagi pemuda tani.
Karena itu, sektor pertanian bagi generasi muda dapat dipandang sebagai ekosistem usaha. Pilihan bidangnya cukup luas, tetapi setiap model tetap membutuhkan pengetahuan teknis, perhitungan usaha, inovasi, dan pemahaman pasar agar kegiatan pertanian dapat berkembang menjadi bisnis yang berkelanjutan.
Editor : Vidya Sajar FitriSumber : Diolah dari berbagai sumber