Mengapa Regenerasi Petani Penting bagi Masa Depan Pertanian? Ini Peran Generasi Muda

Vidya Sajar Fitri • Dipublikasikan Senin, 28 September 2026 | 13:12 WIB
Regenerasi petani penting bagi masa depan pertanian. Kenali kondisi petani muda dan perannya menghadapi teknologi serta perubahan usaha tani.(ILUSTRASI AI)
Regenerasi petani penting bagi masa depan pertanian. Kenali kondisi petani muda dan perannya menghadapi teknologi serta perubahan usaha tani.(ILUSTRASI AI)

TULUNGAGUNG - Regenerasi petani menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan sektor pertanian. Bukan sekadar menggantikan petani yang semakin berusia, regenerasi petani juga berkaitan dengan masuknya tenaga muda yang mampu membawa pengetahuan, teknologi, dan pendekatan usaha ke sektor pertanian.

Persoalan tersebut terlihat dari struktur usia pelaku usaha pertanian di Indonesia. Data Sensus Pertanian 2023 BPS mencatat 29,34 juta pengelola usaha pertanian perorangan. Dari jumlah tersebut, sekitar 11,5 persen berusia di bawah 35 tahun, sedangkan kelompok usia 55 tahun ke atas mencapai sekitar 39,3 persen.

Angka tersebut tidak berarti seluruh petani berusia lanjut atau generasi muda tidak terlibat. BPS juga mencatat 6.183.009 petani milenial berusia 19–39 tahun atau sekitar 21,93 persen dari petani di Indonesia pada Sensus Pertanian 2023. Namun, komposisi usia tersebut menunjukkan mengapa regenerasi tetap menjadi isu penting dalam pengembangan pertanian.

Baca Juga: Pemkab Tulungagung Teguhkan Komitmen Dukung Petani, Plt Bupati Ahmad Baharudin Siap Kawal Pembangunan Jalan Usaha Tani

Regenerasi bukan sekadar mengganti petani

Regenerasi petani tidak hanya berarti anak muda meneruskan pekerjaan orang tuanya di sawah. Regenerasi juga menyangkut munculnya pelaku baru yang mampu mengelola usaha pertanian dengan pendekatan berbeda.

Kajian Kementerian Pertanian mengenai regenerasi petani menyebut proses tersebut dapat berlangsung di dalam keluarga melalui pewarisan usaha pertanian maupun di luar keluarga dengan masuknya pelaku baru. Modernisasi, penyuluhan, komunitas, dan pengembangan korporasi petani termasuk pendekatan yang dapat mendukung proses tersebut.

Konteks itu sejalan dengan pengembangan petani muda di Tulungagung. Kepala Dinas Pertanian Tulungagung Suyanto menyebut sekitar 11 ribu petani milenial telah dicetak melalui program yang dijalankan. Mereka diarahkan tidak hanya memahami budi daya, tetapi juga pengembangan usaha dan pemasaran hasil.

Sejumlah contoh yang disebut antara lain usaha telur asin di Desa Ngunggahan, Kecamatan Bandung, produksi kambing dan susu, serta pertanian terintegrasi. Sebagian anak muda juga mulai mengembangkan greenhouse, budi daya melon, dan hidroponik.

Baca Juga: 11 Ribu Petani Milenial Tulungagung Disiapkan Jadi Pengusaha Agribisnis

Petani muda membawa kebutuhan baru

Masuknya generasi muda penting bukan hanya karena faktor usia. Pertanian juga menghadapi perubahan teknologi dan pola usaha yang membutuhkan kemampuan baru.

Penelitian yang menggunakan data Sakernas Agustus 2023 menemukan bahwa pendidikan dan penggunaan internet termasuk faktor yang berperan besar terhadap peluang penduduk usia muda untuk berpartisipasi dalam usaha tani. Penelitian tersebut juga merekomendasikan penguatan pelatihan, asistensi, kapasitas petani muda, dan akses bagi generasi muda.

Dengan kemampuan tersebut, petani muda dapat berperan lebih luas. Teknologi dapat digunakan untuk membantu pengelolaan usaha, sementara internet membuka akses terhadap informasi, pemasaran, dan jejaring usaha. Perannya tidak harus selalu sebagai pekerja di lahan, tetapi dapat berkembang menjadi pengelola bisnis pertanian.

Hal itu penting karena pertanian modern membutuhkan pelaku yang mampu menghubungkan kegiatan produksi dengan kebutuhan pasar. Di Tulungagung, arah pembinaan petani milenial juga mencakup kemampuan berusaha, pengolahan hasil, peternakan, hingga pemasaran.

Baca Juga: Akses Pasar Petani Hortikultura, Ini Tantangan setelah Melon, Cabai, dan Semangka Dipanen

Regenerasi berkaitan dengan keberlanjutan usaha

Tantangan regenerasi tidak hanya terjadi karena struktur usia. Minat generasi muda terhadap pertanian juga dipengaruhi oleh bagaimana sektor tersebut dipandang sebagai pilihan pekerjaan dan usaha.

Kajian tentang kaum muda perdesaan di Jawa Timur yang dilakukan terhadap pelajar dari keluarga petani di Ngawi dan Pacitan menemukan kecenderungan sebagian responden untuk bermigrasi setelah lulus sekolah. Penelitian itu juga menemukan bahwa keputusan bermigrasi berkaitan dengan rendahnya minat melanjutkan usaha tani keluarga atau memulai usaha pertanian.

Karena itu, regenerasi tidak cukup dilakukan dengan mengajak anak muda kembali ke lahan. Mereka juga perlu melihat bahwa pertanian dapat dikembangkan melalui teknologi, kewirausahaan, pengolahan hasil, peternakan, dan pemasaran.

Di Tulungagung, pendekatan tersebut menjadi bagian dari pembentukan petani milenial. Pelatihan dan bimbingan teknis diberikan agar generasi penerus tidak hanya memiliki kemampuan produksi, tetapi juga memahami pertanian sebagai usaha dari hulu hingga hilir.

Pada akhirnya, regenerasi petani berkaitan dengan siapa yang akan mengelola usaha pertanian pada masa mendatang sekaligus bagaimana usaha tersebut dijalankan. Kehadiran generasi muda memberi ruang bagi perpaduan pengalaman petani sebelumnya dengan pengetahuan, teknologi, dan pola bisnis yang lebih sesuai dengan perkembangan zaman.

Editor : Vidya Sajar Fitri
Sumber : Diolah dari berbagai sumber
regenerasi petani agribisnis Pertanian Modern petani milenial petani muda