TULUNGAGUNG - Kekeringan bisa menyebabkan krisis air bersih karena berkurangnya hujan membuat sumber air permukaan dan cadangan air tanah tidak mendapat pasokan yang cukup. Ketika kondisi kering berlangsung lama, sumur dapat mengalami penurunan muka air, sementara sumber air permukaan seperti sungai, mata air, dan tampungan air juga dapat menyusut.
Kondisi tersebut terlihat di Tulungagung. Hingga 25 September 2026, BPBD Tulungagung telah mendistribusikan 66 tangki atau sekitar 330 ribu liter air bersih kepada warga terdampak kekeringan. Bantuan diberikan berdasarkan pendataan kebutuhan di lapangan.
Sekitar 2.804 jiwa atau 1.008 kepala keluarga (KK) tercatat terdampak di tujuh kecamatan, yakni Kalidawir, Besuki, Pucanglaban, Tanggunggunung, Campurdarat, Bandung, dan Sendang. Kondisi ini menunjukkan bahwa kekeringan tidak hanya berkaitan dengan cuaca panas, tetapi dapat berkembang menjadi persoalan ketersediaan air untuk kebutuhan dasar.
Baca Juga: Cara Menghemat Air saat Kekeringan, Atur Persediaan untuk Kebutuhan Sehari-hari
Mengapa kekeringan membuat sumber air menyusut?
Penyebab utamanya berkaitan dengan berkurangnya curah hujan dalam waktu cukup panjang. Ketika hujan jarang turun, air yang masuk ke tanah sebagai imbuhan air tanah juga berkurang. Pada saat yang sama, air terus digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, pertanian, maupun kegiatan lainnya.
US Geological Survey (USGS) menjelaskan bahwa kekeringan dapat menurunkan muka air tanah karena pengisian kembali akuifer dari curah hujan berkurang. Jika air tanah dipompa lebih cepat daripada laju pengisiannya, muka air di sumur dapat semakin turun. Pada kondisi tertentu, air bahkan bisa berada di bawah posisi pompa sehingga sumur tidak lagi menghasilkan air.
Dampaknya juga dapat terlihat pada sumber air permukaan. Berkurangnya hujan dalam waktu panjang dapat menurunkan aliran sungai serta muka air danau atau waduk. Karena itu, kekeringan yang berlangsung lama dapat membuat beberapa sumber air mengalami penurunan ketersediaan secara bersamaan.
Kondisi cuaca di Jawa Timur pada September 2026 turut menunjukkan tekanan akibat musim kering. BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur mencatat pada 10 September sebagian besar wilayah Jawa Timur mengalami hari tanpa hujan lebih dari 60 hari yang masuk kriteria kekeringan ekstrem. Curah hujan dasarian I September juga umumnya berada dalam kategori rendah.
Baca Juga: Kekeringan Tulungagung, BPBD Salurkan 330 Ribu Liter Air untuk 2.804 Jiwa
Air tanah tidak langsung kembali setelah hujan
Salah satu hal penting dalam memahami krisis air bersih adalah air tanah tidak selalu langsung pulih setelah hujan turun. Air hujan harus meresap ke dalam tanah dan menjadi bagian dari proses pengisian kembali akuifer.
Kecepatan pemulihan tersebut dipengaruhi kondisi bawah permukaan, jenis akuifer, kedalaman sumur, jumlah air yang dipompa, serta besarnya imbuhan. USGS mencatat sumur dangkal pada akuifer air tanah bebas cenderung lebih langsung terpengaruh oleh kekurangan hujan dibandingkan sumur yang mengambil air dari akuifer lebih dalam dan tertekan.
Kementerian ESDM juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara imbuhan dan pengambilan air tanah. Jika pengambilan lebih besar dibandingkan kemampuan sumber air untuk pulih, ketersediaannya dapat terus berkurang.
Baca Juga: Menghadapi Kekeringan di Rumah, Ini Cara Menentukan Prioritas Penggunaan Air
Mengapa dampaknya bisa sampai menjadi krisis air bersih?
Krisis air bersih terjadi ketika sumber yang biasanya digunakan masyarakat tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan. Dalam kondisi kekeringan panjang, persoalannya bukan sekadar air yang lebih sedikit, tetapi adanya ketidakseimbangan antara pasokan dan kebutuhan.
Di Tulungagung, kebutuhan tersebut terlihat dari sebaran warga terdampak. Tanggunggunung menjadi salah satu wilayah dengan jumlah cukup besar. Dusun Tumpak Kambil, Desa Kresikan, mencatat 524 jiwa atau 201 KK terdampak, sedangkan Dusun Jinggring, Desa Pakisrejo, mencatat 516 jiwa atau 172 KK.
Jika digabung, dua lokasi tersebut mencakup 1.040 jiwa dari 373 KK. Wilayah terdampak lainnya tersebar di Kalidawir, Besuki, Pucanglaban, Campurdarat, Bandung, dan Sendang.
Karena itu, kekeringan perlu dipahami sebagai rangkaian proses. Hujan yang berkurang dalam waktu panjang mengurangi pasokan air, pengisian kembali air tanah ikut tertekan, sementara penggunaan air tetap berlangsung. Ketika cadangan yang tersedia tidak lagi mencukupi kebutuhan masyarakat, persoalan tersebut berkembang menjadi krisis air bersih.
Editor : Vidya Sajar FitriSumber : Diolah dari berbagai sumber