TULUNGAGUNG - Tanam padi tiga kali setahun bukan sekadar soal mempercepat penanaman setelah panen. Pola tersebut membutuhkan ketepatan pergantian musim tanam agar lahan tidak terlalu lama kosong, sekaligus memastikan air, pengolahan tanah, benih, dan sarana produksi sudah siap ketika waktu tanam tiba.
Di Tulungagung, musim tanam ketiga (MT 3) mulai berlangsung di sejumlah wilayah. Dinas Pertanian (Dispertan) Tulungagung memproyeksikan produksi padi MT 3 bisa mencapai sekitar 300 ribu ton jika keberlanjutan pola tanam dapat dipertahankan.
Pola tanam di daerah ini juga tidak berlangsung serentak. Perbedaan waktu tanam membuat sebagian lahan masih ditumbuhi tanaman, sementara lahan lain sudah memasuki masa panen atau siap ditanami kembali. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang memungkinkan penanaman padi berlanjut hingga tiga kali dalam setahun.
Baca Juga: MT 3 Tulungagung Berpotensi Tambah Produksi Padi 300 Ribu Ton
Jadwal tanam harus disiapkan sebelum panen
Kunci pertama adalah menentukan jadwal tanam sebelum lahan selesai dipanen. Artinya, petani tidak perlu menunggu sawah benar-benar kosong untuk baru membicarakan tanaman berikutnya.
Pemerintah Kabupaten Tulungagung juga mendorong pembahasan jadwal tanam berikutnya dilakukan sejak menjelang panen. Dengan kesepakatan lebih awal, proses pascapanen, pengolahan lahan, persemaian, hingga penanaman dapat disusun tanpa jeda yang terlalu panjang.
Pendekatan tersebut sejalan dengan fungsi Sistem Informasi Kalender Tanam Terpadu (SI Katam Terpadu). Sistem yang dikembangkan Kementerian Pertanian tersebut memberikan pedoman waktu tanam berdasarkan kondisi iklim sekaligus informasi mengenai potensi luas tanam, varietas, kebutuhan benih, pupuk, hingga risiko kekeringan dan banjir.
Karena itu, jadwal tanam tidak seharusnya hanya ditentukan berdasarkan kebiasaan. Kondisi cuaca dan iklim, fase tanaman sebelumnya, serta kesiapan lahan perlu menjadi pertimbangan sebelum petani memutuskan masuk ke musim tanam berikutnya.
Baca Juga: Brigjen TNI Budi Santoso, Anak Petani Tulungagung yang Pernah Tidur Beralas Koran
Air menjadi penentu saat pola tanam diperbanyak
Menanam padi tiga kali setahun juga membutuhkan dukungan air yang cukup. Peningkatan indeks pertanaman tidak akan berjalan optimal jika lahan yang sudah selesai dipanen belum memiliki kepastian sumber air untuk pertanaman berikutnya.
Dalam praktik pertanian, IP 300 menggambarkan intensitas pemanfaatan lahan yang memungkinkan tiga periode pertanaman dalam setahun. Salah satu bentuknya dapat berupa pola padi-padi-padi, tetapi penerapannya tetap bergantung pada kondisi sumber daya air dan karakter lahan.
Kementerian Pertanian pada 2026 juga mendorong peningkatan indeks pertanaman hingga IP 300 pada lahan yang mendapat intervensi program pemerintah. Dukungan tersebut antara lain melalui varietas unggul berumur genjah, benih yang lebih adaptif terhadap kekeringan dan hama, teknologi budidaya adaptif iklim, pemupukan berimbang, serta pompanisasi untuk mendukung ketersediaan air.
Artinya, mengejar tiga kali tanam bukan berarti sekadar memperpendek waktu antar-musim. Setiap pergantian pertanaman harus dihitung berdasarkan kemampuan lahan dan sarana pendukungnya.
Baca Juga: Musim Hujan Tulungagung Diprediksi Mundur, Petani Diminta Siapkan Kalender Tanam
Pengolahan lahan tidak boleh menjadi titik keterlambatan
Setelah panen, waktu yang tersedia untuk mempersiapkan pertanaman berikutnya menjadi penting. Jika pengolahan lahan terlambat, jadwal tanam ikut mundur dan kesempatan memanfaatkan satu periode pertanaman dapat berkurang.
Karena itu, kesiapan alat mesin pertanian, tenaga kerja, benih, pupuk, dan sumber air perlu diperhitungkan sejak tanaman sebelumnya belum dipanen. Kementerian Pertanian sendiri menempatkan penyuluh dan petani sebagai bagian penting dalam pengawalan percepatan tanam agar lahan yang sudah siap dapat segera ditanami.
Di Tulungagung, pola tanam yang tidak serentak justru dapat menjadi bagian dari pengaturan tersebut. Saat satu wilayah memasuki panen, wilayah lain bisa masih berada pada fase pertumbuhan sehingga kebutuhan air, tenaga, dan sarana pertanian tidak selalu muncul pada waktu yang sama.
Dengan demikian, tanam padi tiga kali setahun lebih tepat dipahami sebagai rangkaian pengelolaan waktu. Jadwal panen harus terhubung dengan persiapan lahan dan jadwal tanam berikutnya, sementara ketersediaan air dan sarana produksi harus dipastikan sebelum periode tersebut dimulai.
Pola ini yang dapat menjaga MT 3 tidak berhenti sebagai tambahan musim tanam, tetapi benar-benar menjadi bagian dari upaya meningkatkan pemanfaatan lahan dan produksi padi.
Editor : Vidya Sajar FitriSumber : Diolah dari berbagai sumber