Mengapa Tawon dan Ular Masuk Permukiman? Ini Faktor Lingkungan yang Perlu Diwaspadai

Vidya Sajar Fitri • Dipublikasikan Senin, 12 Oktober 2026 | 10:25 WIB
Tawon dan ular masuk permukiman karena faktor habitat, makanan, dan tempat berlindung. Kenali penyebab serta cara mengurangi risikonya.(ILUSTRASI AI)
Tawon dan ular masuk permukiman karena faktor habitat, makanan, dan tempat berlindung. Kenali penyebab serta cara mengurangi risikonya.(ILUSTRASI AI)

TULUNGAGUNG – Tawon dan ular masuk permukiman bukan selalu karena hewan tersebut sengaja mendekati manusia. Perubahan habitat, tersedianya tempat bersarang, serta keberadaan sumber makanan dapat membuat lingkungan rumah menjadi lokasi yang menarik bagi satwa tertentu.

Fenomena tawon dan ular masuk permukiman perlu dipahami agar masyarakat bisa mengurangi risiko perjumpaan dengan satwa liar. Menjaga kebersihan rumah, mengendalikan populasi tikus, dan memeriksa bagian bangunan yang berpotensi menjadi tempat bersarang merupakan langkah pencegahan yang dapat dilakukan.

Di Tulungagung, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) mencatat 845 penanganan nonkebakaran sepanjang 2026. Dari jumlah tersebut, evakuasi sarang tawon mencapai 596 kasus, sedangkan evakuasi ular tercatat 124 kasus. Angka ini menunjukkan kedua jenis hewan tersebut menjadi bagian besar dari permintaan bantuan nonkebakaran yang ditangani petugas.

Baca Juga: 102 Kali Evakuasi Ular di Tulungagung hingga Awal Agustus 2026, DPKP Ungkap Penyebab Reptil Masuk Permukiman

Perubahan Habitat Dapat Memengaruhi Pergerakan Satwa

Hewan liar membutuhkan habitat untuk mencari makan, berlindung, dan berkembang biak. Ketika lingkungan alaminya berubah atau ruang hidupnya terganggu, pergerakan satwa dapat membawanya ke area yang lebih dekat dengan aktivitas manusia.

Kerusakan hutan disebut sebagai salah satu faktor yang mungkin berkontribusi terhadap kemunculan satwa di permukiman. Namun, tidak setiap ular atau tawon yang ditemukan dekat rumah otomatis berasal dari hutan yang rusak. Jenis hewan, kondisi lingkungan sekitar, dan ketersediaan sumber makanan juga perlu diperhitungkan.

Pada tawon, kedekatan dengan bangunan dapat terjadi karena sejumlah spesies mampu membuat sarang di tempat terlindung pada struktur buatan manusia. Bagian bawah atap, rongga dinding, celah bangunan, dan cabang pohon di sekitar rumah bisa menjadi lokasi bersarang, bergantung pada jenis tawonnya.

Karena itu, keberadaan tawon di rumah tidak selalu berarti koloninya berpindah dari hutan. Sarang bisa terbentuk di sekitar bangunan apabila tersedia lokasi yang sesuai untuk berkembang biak.

Baca Juga: Tak Hanya Padamkan Api, Damkar Tulungagung Tangani 361 Sarang Tawon hingga Evakuasi Ular dan Cincin Warga, Ini Data Lengkapnya!

Tikus dan Tempat Persembunyian Bisa Menarik Ular

Berbeda dari tawon, ular merupakan predator yang mencari hewan lain sebagai makanan. Tikus menjadi salah satu mangsa bagi sejumlah jenis ular, sehingga rumah atau gudang yang menyediakan sumber makanan tersebut berpotensi didatangi ular yang sedang berburu.

Lingkungan yang menyediakan tempat persembunyian juga dapat meningkatkan kemungkinan ular ditemukan di sekitar rumah. Tumpukan kayu, barang bekas, material bangunan, semak lebat, dan celah yang jarang diperiksa dapat menjadi tempat berlindung bagi satwa tertentu.

Itulah sebabnya, menjaga kebersihan rumah tidak cukup hanya dengan menyapu dan mengepel lantai. Penghuni juga perlu menata gudang, mengurangi tumpukan barang yang tidak digunakan, menutup tempat sampah dengan rapat, serta mengendalikan tikus tanpa membiarkan racun atau perangkap membahayakan anak-anak dan hewan peliharaan.

Area pekarangan pun perlu diperiksa secara berkala, terutama bagian yang gelap atau jarang digunakan. Jika ditemukan ular, jangan mencoba menangkap, memukul, atau memojokkannya karena tindakan tersebut dapat meningkatkan risiko gigitan.

Baca Juga: Muhammad Abdul Azza, Guru yang Menjalani Passion sebagai Musisi hingga Kurir Hewan

Cara Mengurangi Risiko Tawon dan Ular di Rumah

Pencegahan dapat dimulai dengan memeriksa bagian bangunan yang berpotensi menjadi tempat bersarang. Perhatikan area bawah atap, lubang pada dinding, celah di gudang, serta barang yang lama tersimpan tanpa dipindahkan. Pemeriksaan sebaiknya dilakukan dari jarak aman dan tidak dengan membongkar sarang yang dicurigai masih aktif.

Apabila terlihat sarang tawon di dekat pintu, jendela, atau jalur yang sering dilalui penghuni, hindari mengusik sarang tersebut. Tawon sosial dapat mempertahankan sarangnya ketika merasa terancam. Penanganan sebaiknya diserahkan kepada petugas atau tenaga pengendali hama yang memiliki perlengkapan dan keahlian sesuai.

Jika ular masuk ke rumah, jauhkan anak-anak dan hewan peliharaan, jangan mendekati atau mencoba memegangnya, lalu hubungi petugas penanganan satwa atau Damkarmat setempat jika layanan tersebut tersedia. Amati posisi hewan hanya dari jarak aman agar petugas mendapat gambaran lokasi tanpa membahayakan penghuni.

Catatan Damkarmat Tulungagung menunjukkan penanganan sarang tawon dan ular termasuk layanan nonkebakaran yang banyak diminta masyarakat. Karena itu, mengenali faktor lingkungan, menjaga rumah agar tidak menyediakan sumber makanan dan tempat persembunyian, serta menghindari penanganan mandiri yang berisiko menjadi langkah penting untuk mengurangi konflik dengan satwa liar.

 
Editor : Vidya Sajar Fitri
Sumber : Diolah dari berbagai sumber
evakuasi sarang tawon tawon masuk permukiman penyebab hewan liar masuk rumah cara mencegah ular masuk rumah ular masuk rumah