RADAR TULUNGAGUNG – Dinamika penunjukan pelatih baru kembali mencuat usai PSSI memastikan tengah menyeleksi 5 kandidat pelatih timnas.
Namun, lima nama tersebut belum juga diumumkan ke publik.
Ketua Badan Tim Nasional (BTN) yang juga anggota Exco PSSI, Sumarji, menegaskan bahwa federasi sengaja merahasiakan identitas para pelatih itu demi menjaga privasi dan etika profesional, mengingat sebagian dari mereka masih aktif menangani klub atau tim nasional negara lain.
Dalam penjelasannya, Sumarji mengatakan PSSI tidak ingin menimbulkan kegaduhan baru di tengah proses perekrutan.
Menurut dia, para calon pelatih itu telah diminta untuk melakukan interview dan prosesnya akan berlangsung dalam pekan-pekan mendatang.
Dari lima nama itu, PSSI diyakini akan memilih sosok paling kompeten untuk mengemban tugas berat membangun tim nasional Indonesia.
Isu mengenai 5 kandidat pelatih timnas ini pun langsung menarik perhatian publik, terlebih setelah Nova Arianto ditunjuk sebagai pelatih Timnas U20.
PSSI Dinilai Lebih Hati-Hati Usai Pengalaman Pahit Sebelumnya
Pengamat sepak bola nasional, Anton Sanjoyo, menilai sikap tertutup PSSI justru menunjukkan kehati-hatian.
Ia menyebut federasi belajar dari beberapa keputusan terburu-buru sebelumnya, termasuk pemecatan Shin Tae-yong dan proses penunjukan Patrick Kluivert yang berujung tidak optimal.
Menurut Anton, PSSI tidak sedang dalam kondisi darurat sehingga mengambil waktu lebih panjang bukanlah masalah.
“Selama ini kita melihat prosesnya sering terlalu cepat. Sekarang mereka punya waktu, evaluasi A, B, C, itu langkah yang benar,” ujarnya.
Ia menilai kebutuhan utama Indonesia adalah pelatih yang mampu membangun kekompakan hanya dalam waktu 3–4 hari, sebab mayoritas pemain timnas bermain di luar negeri dan jarang berkumpul.
Ada Sinyal Pelatih Eropa?
Kabar bahwa Sumarji melakukan perjalanan ke Eropa memicu spekulasi bahwa calon pelatih baru berasal dari Benua Biru. Anton tidak menampik kemungkinan itu.
Ia menjelaskan bahwa PSSI memiliki tiga sosok penting asal Belanda yang saat ini aktif dalam program pengembangan tim nasional: Simon Tahamata di bidang pembinaan, alexander zwiers di divisi teknis, serta Jordi Cruyff di area scouting.
Dengan keberadaan mereka, pelatih dari Eropa dinilai akan lebih mudah beradaptasi.
Namun Anton tak menutup peluang pelatih Asia, terutama Jepang atau Korea Selatan yang juga dikenal memiliki disiplin tinggi dan kini terbiasa menangani pemain-pemain yang berkarier di Eropa.
Salah satu nama yang mencuat adalah Jesus Casas, mantan pelatih tim nasional Irak.
Anton menyebutnya sebagai opsi yang sangat menarik karena rekam jejak tim asuhannya sulit dikalahkan Indonesia.
Meski begitu, ia menegaskan semua kandidat memiliki kelebihan masing-masing.
Tantangan Utama: Solid dalam 3 Hari
Menurut Anton, persoalan terbesar yang harus dipecahkan pelatih baru bukanlah teknis murni, tetapi kemampuan membentuk chemistry tim dalam waktu singkat.
Ia menyoroti isu yang beredar soal Patrick Kluivert yang disebut tidak melakukan tactical training ketika memimpin tim hanya dalam 2–3 hari menjelang laga besar kontra Arab Saudi dan Irak.
“Indonesia tidak pernah punya generasi terbaik seperti sekarang. Ada Jay Idzes, Thom Haye, Verdonk, hingga Kevin Diks. Tapi percuma kalau dalam 3–4 hari mereka tidak dibentuk jadi tim yang solid,” katanya.
Karena itu, siapapun dari 5 kandidat pelatih timnas yang nantinya dipilih harus menunjukkan rencana taktis jelas, metode efisien untuk mempercepat adaptasi pemain, serta kemampuan memaksimalkan kelebihan skuad yang sebagian besar berkarier di luar negeri.
STY Tak Masuk Kandidat, Indonesia Diminta Move On
Dalam kesempatan itu, Anton juga mengonfirmasi indikasi kuat bahwa Shin Tae-yong tidak termasuk dalam daftar kandidat.
Menurut dia, keputusan itu bukan didasarkan satu-dua orang, tetapi merupakan sikap kolektif Exco PSSI dan pemangku kepentingan federasi.
Meski banyak fans kecewa, Anton menilai keputusan tersebut harus dilihat sebagai proses perubahan.
“Indonesia harus move on. Kita harus cari pelatih yang bisa membawa level baru,” ujarnya.
Pelatih Baru Harus Punya ‘Kejeniusan’ Taktikal
Pada bagian akhir, Anton menegaskan bahwa pelatih baru harus memiliki kecerdasan taktik di atas rata-rata.
Dengan jadwal FIFA Matchday yang padat, pemain yang tersebar, dan tuntutan publik yang tinggi, Indonesia membutuhkan pelatih yang mampu menciptakan kohesi dalam waktu yang sangat singkat.
“Pelatih jenius itu biasanya mahal. Pertanyaannya: apakah PSSI siap membayar harga itu?” kata Anton.
Untuk sekarang, publik hanya bisa menunggu keputusan federasi.
Siapa pun yang dipilih dari 5 kandidat pelatih timnas, PSSI dituntut tidak mengulangi kegagalan era sebelumnya.(*)
Editor : Anggi Septian A.P.