RADAR TULUNGAGUNG – Tangis Lando Norris pecah tepat ketika mobil McLaren-nya melaju perlahan di bawah temaram lampu Sirkuit Yas Marina, Abu Dhabi.
Bukan tangis kegagalan, melainkan air mata seorang pebalap muda yang akhirnya merasakan beratnya gelar juara dunia Formula Satu untuk pertama kalinya.
Pada usia 26 tahun, pebalap Inggris itu resmi menjadi juara dunia F1 2025, sekaligus mengakhiri penantian panjang McLaren sejak era Lewis Hamilton pada 2008.
Baca Juga: Sah, Lando Norris Resmi Jadi Juara Dunia F1 2025, Meskipun Hanya Finish Ketiga di GP Abu Dhabi
Dengan total 423 poin, Norris menutup musim dengan selisih tipis dari dua rival terberatnya: Max Verstappen (421 poin) dan Oscar Piastri (410 poin).
Di radio tim, suaranya terdengar serak—bahagia sekaligus lega. “Terima kasih teman-teman. Kalian telah mewujudkan impianku,” ucapnya sebelum kembali tersedu seperti dilansir dari Reuters.
Kemenangan emosional itu terasa semakin berarti karena ia harus bekerja keras menahan tekanan sepanjang balapan.
Baca Juga: Kimi Antonelli Terima Ancaman Pembunuhan, Dituding Beri Jalan Norris di F1 Qatar
Piastri sempat menyalipnya di lap pertama, Tsunoda menghambat dengan pertahanan agresif, dan Verstappen terus-menerus mendorong peluang gelarnya hingga garis akhir.
Usai turun dari mobil, Norris sempat terdiam beberapa detik, lalu mengusap mata yang memerah.
“Sudah lama saya tidak menangis… tapi hari ini, saya tidak bisa menahannya,” katanya dalam wawancara.
Ibunya, Cisca, bahkan terlihat memeluk Oscar Piastri—seakan mengapresiasi rival yang juga ikut membentuk jalan Norris menuju puncak.
Baca Juga: Lando Norris Hanya Perlu Unggul Dua Poin di Qatar: Untuk Segel Juara Dunia F1
Norris tidak lupa memuji dua pesaing utamanya. “Max dan Oscar, mereka berdua pembalap luar biasa. Saya belajar banyak dari mereka. Senang bisa bertarung dengan cara seperti ini,” ujarnya.
Kesuksesan ini sekaligus melengkapi musim manis McLaren yang sebelumnya sudah mengunci gelar konstruktor untuk tahun kedua beruntun.
Yang membuatnya lebih istimewa baru kali ini sejak 1998 McLaren kembali merayakan double title—pembalap dan konstruktor—dalam satu musim.
Dengan suara bergetar, Norris menutup malam bersejarah itu: “Tidak hanya tahun ini, tapi 16–17 tahun hidupku aku habiskan untuk mengejar mimpi ini. Hari ini kami berhasil.” ****
Editor : Dharaka R. Perdana