TULUNGAGUNG - Polemik Persebaya 1927 kembali menjadi perbincangan hangat di kalangan pecinta sepak bola nasional. Klub kebanggaan arek Suroboyo itu hingga kini masih berjuang untuk mendapatkan tempat yang layak di kompetisi resmi Indonesia. Bersama ribuan Bonek Mania, Persebaya 1927 terus menggugat agar bisa kembali tampil di kancah liga nasional, terutama menjelang digelarnya Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI.
Kisruh Persebaya 1927 tak lepas dari sejarah panjang konflik internal sepak bola Indonesia. Sejak era kepemimpinan PSSI di bawah Nurdin Khalid, kompetisi dinilai semrawut dan memicu perpecahan. Persebaya yang merasa dicurangi akhirnya keluar dari kompetisi resmi dan memilih bergabung ke Liga Primer Indonesia (LPI). Keputusan itu menjadi titik awal dualisme yang hingga kini masih membekas.
Nama Persebaya sendiri memiliki tempat istimewa dalam sejarah persepakbolaan tanah air. Didirikan pada 18 Juni 1927 oleh Paijo dan Empa Muji, klub berjuluk Bajul Ijo ini dikenal sebagai salah satu tim klasik sarat prestasi. Namun sejak konflik 2010, Persebaya 1927 seakan mengalami mati suri akibat polemik hukum dan perebutan hak nama klub.
Sejarah Perpecahan dan Perebutan Nama
Perpecahan tubuh klub bermula ketika manajemen Persebaya merasa tidak mendapatkan perlakuan adil saat berlaga di Liga Indonesia. Situasi tersebut memicu ketegangan dengan federasi. Di sisi lain, muncul klub lain yang menggunakan nama Persebaya, yang kemudian berganti nama menjadi Bhayangkara Surabaya United.
Persoalan hak paten nama menjadi fokus utama perjuangan Persebaya 1927. Setelah melalui proses panjang, kubu Persebaya 1927 akhirnya memenangkan paten nama tersebut. Kemenangan ini menjadi angin segar bagi Bonek Mania yang sejak awal setia mendukung tim yang mereka anggap sebagai Persebaya asli.
Basis suporter Persebaya dikenal sebagai salah satu yang terbesar di Indonesia. Setiap pertandingan selalu dipenuhi lautan hijau dengan yel-yel khas Bonek yang menggema di stadion. Kemeriahan dan keriuhan inilah yang dirindukan para pendukung setia Bajul Ijo.
Desakan Tampil di Liga Nasional
Meski sempat terpecah, loyalitas Bonek Mania tak pernah surut. Mereka terus menyuarakan agar Persebaya 1927 kembali mendapatkan pengakuan resmi dan dapat berlaga di kompetisi nasional. Momentum KLB PSSI pun dianggap sebagai peluang emas untuk melakukan pembenahan organisasi sepak bola Indonesia.
Restrukturisasi besar-besaran di tubuh PSSI menjadi syarat penting agar federasi terbebas dari sanksi FIFA. Dalam situasi tersebut, Persebaya 1927 mencoba mencari celah komunikasi dengan pemerintah dan pengurus baru PSSI. Mereka menegaskan bahwa langkah keluar dari kompetisi sebelumnya bukan bentuk pembangkangan, melainkan sikap protes terhadap sistem yang dianggap tidak adil.
Menurut sejumlah perwakilan suporter, Persebaya saat itu sebenarnya memiliki prestasi yang cukup membanggakan. Namun dinamika internal serta konflik dengan federasi membuat performa tim menurun. Mereka berharap kepengurusan baru PSSI dapat melihat persoalan ini secara objektif dan memberikan kesempatan yang adil bagi Persebaya 1927.
Harapan Baru Sepak Bola Indonesia
Kasus Persebaya 1927 menjadi potret bagaimana tata kelola sepak bola yang tidak sehat bisa berdampak panjang. Dualisme klub, konflik federasi, hingga campur tangan politik olahraga membuat atmosfer kompetisi nasional sempat tercoreng.
Kini, dengan adanya wacana reformasi dan pembenahan federasi, harapan untuk melihat Persebaya kembali berlaga di liga nasional semakin terbuka. Bagi Bonek Mania, kehadiran Persebaya bukan sekadar soal sepak bola, tetapi juga identitas dan kebanggaan kota Surabaya.
Perjuangan Persebaya 1927 dan Bonek Mania menjadi simbol konsistensi dalam mempertahankan idealisme. Mereka ingin sepak bola Indonesia dikelola secara profesional, transparan, dan bebas dari konflik kepentingan.
Apakah KLB PSSI akan menjadi titik balik kebangkitan Bajul Ijo? Publik sepak bola nasional tentu menanti keputusan besar yang dapat mengakhiri polemik panjang ini. Satu hal yang pasti, selama semangat Bonek Mania tetap menyala, nama Persebaya 1927 akan terus hidup dalam denyut sepak bola Indonesia.
Editor : Axsha ZazhikaSumber : youtube, CNN Indonesia