TULUNGAGUNG - Sejarah kompetisi Perserikatan tak bisa dilepaskan dari perjalanan panjang perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah. Jauh sebelum sepak bola menjadi industri hiburan seperti sekarang, kompetisi Perserikatan justru lahir sebagai alat perjuangan dan simbol nasionalisme.
Dalam catatan sejarah kompetisi Perserikatan, PSSI menjadikan ajang sepak bola sebagai medium membangun kesadaran kebangsaan di tengah dominasi kolonial Belanda. Saat itu, Belanda memiliki organisasi sepak bola sendiri di Hindia Belanda, sementara klub-klub pribumi berjuang membentuk identitasnya melalui kompetisi yang digagas PSSI.
Melalui sejarah kompetisi Perserikatan, sepak bola bukan sekadar olahraga, melainkan ruang berkumpulnya para pemuda untuk bertukar gagasan dan menumbuhkan semangat persatuan. Kompetisi inilah yang menjadi fondasi kuat bagi perkembangan sepak bola nasional.
Awal Digelar di Alun-Alun Solo
Kejuaraan sepak bola pertama yang diselenggarakan PSSI digelar pada Mei 1931 di Alun-Alun depan Keraton Solo. Tiga tim berhasil lolos ke putaran final setelah melewati babak penyisihan antar distrik.
Ketiga tim tersebut adalah VVB (kini Persis Solo), PSIM Yogyakarta, dan VIJ Jakarta yang sekarang dikenal sebagai Persija Jakarta. Formatnya sederhana, setiap tim saling bertemu satu kali dalam waktu tiga hari.
Hasilnya, VIJ Jakarta keluar sebagai juara, PSIM menempati posisi kedua, dan VVB di urutan ketiga. Kesuksesan edisi perdana ini langsung menyita perhatian publik. Antusiasme masyarakat begitu tinggi hingga membuat federasi sepak bola bentukan Belanda merasa terancam.
Kompetisi ini menjadi simbol kebangkitan sepak bola pribumi. Dari ajang inilah semangat nasionalisme tumbuh, terutama karena pertandingan menjadi ajang berkumpulnya pemuda dari berbagai daerah.
Terhenti Saat Jepang Datang
Perjalanan Perserikatan tidak selalu mulus. Pada 1942, ketika Jepang masuk ke Indonesia, kompetisi sempat dihentikan. Situasi politik dan keamanan membuat aktivitas sepak bola terhenti.
Namun, setelah Indonesia merdeka, kompetisi kembali dihidupkan pada 1950-an. Jangkauan peserta semakin luas. Tak lagi hanya klub di Pulau Jawa, tetapi juga tim dari Sumatera dan Sulawesi mulai ambil bagian.
PSM Makassar menjadi tim luar Jawa pertama yang menjuarai kompetisi PSSI pada 1957. Sementara PSMS Medan dari Sumatera baru bisa menjadi kampiun pada 1967.
Kehadiran klub-klub dari luar Jawa menandai semakin kuatnya integrasi sepak bola nasional.
Pernah Ada Juara Bersama
Salah satu momen unik dalam sejarah kompetisi Perserikatan terjadi pada 1975. Saat itu, final mempertemukan PSMS Medan dan Persija Jakarta. Pertandingan berlangsung panas hingga terjadi kericuhan antar pemain.
Ketua Umum PSSI saat itu, Bardosono, akhirnya memutuskan kedua tim sebagai juara bersama. Keputusan tersebut diambil dengan alasan menjaga semangat “sepak bola Pancasila” yang menjunjung persatuan.
Keputusan tersebut menjadi salah satu episode paling dikenang dalam sejarah sepak bola nasional.
Fanatisme Kedaerahan yang Menggema
Memasuki era 1980-an, nama kompetisi lebih populer disebut Perserikatan dengan enam tim di kasta Divisi Utama. Lahirnya Galatama pada 1979 membuat Perserikatan semakin menegaskan identitasnya sebagai ajang pembangkit fanatisme kedaerahan.
Puncak fanatisme itu terlihat dalam partai final 1985 yang mempertemukan PSMS Medan melawan Persib Bandung di Stadion Utama Senayan.
Pertandingan tersebut digelar pada 23 Februari dan dihadiri sekitar 120.000 penonton. Catatan AFC bahkan menyebut laga itu sebagai salah satu pertandingan sepak bola amatir dengan jumlah penonton terbesar di dunia.
Atmosfer stadion yang penuh sesak menjadi bukti bahwa Perserikatan memiliki tempat istimewa di hati masyarakat Indonesia.
Menuju Era Baru
Seiring waktu, PSSI melihat perlunya pembenahan sistem kompetisi agar lebih profesional. Dualisme antara Perserikatan dan Galatama akhirnya mendorong federasi mengambil keputusan besar.
Kompetisi Perserikatan kemudian dilebur bersama Galatama untuk membentuk Liga Indonesia pada pertengahan 1990-an. Langkah ini menjadi awal era baru sepak bola nasional yang lebih modern.
Meski kini nama Perserikatan hanya menjadi bagian dari sejarah, warisannya tetap hidup. Fanatisme suporter, rivalitas antar daerah, hingga semangat nasionalisme yang lahir dari lapangan hijau masih terasa hingga hari ini.
Sejarah kompetisi Perserikatan membuktikan bahwa sepak bola di Indonesia bukan sekadar permainan. Ia pernah menjadi alat perjuangan, simbol persatuan, dan kebanggaan bangsa.
Editor : Axsha Zazhika