Radar Tulungagung – Feda Ega Pratama Moto2 mulai menjadi topik hangat di kalangan pecinta balap motor dunia. Penampilan konsisten pembalap muda Indonesia bersama Honda Team Asia pada ajang Moto3 World Championship 2026 memunculkan pertanyaan besar, apakah The Rocket Boy sudah siap naik ke kelas intermediate yang dikenal jauh lebih menantang?
Performa Feda Ega Pratama Moto2 terus menjadi bahan perbincangan setelah sejumlah hasil positif diraihnya sepanjang musim ini. Finis di lima besar pada seri Thailand hingga meraih podium di GP Brasil menjadi bukti bahwa pembalap asal Gunungkidul tersebut mampu bersaing dengan talenta terbaik dunia di kelas Moto3.
Meski peluang promosi semakin terbuka, perjalanan menuju Moto2 bukan perkara mudah. Peralihan dari Moto3 ke Moto2 dikenal sebagai salah satu fase tersulit dalam jenjang Grand Prix karena menuntut perubahan besar, baik dari sisi fisik, teknik balap, maupun mental seorang pembalap.
Moto2 Bukan Sekadar Naik Kelas
Banyak pembalap muda yang membutuhkan waktu cukup lama untuk beradaptasi ketika promosi ke Moto2. Bahkan, tidak sedikit yang gagal menunjukkan performa terbaik pada musim debut akibat sulitnya beradaptasi dengan karakter motor yang jauh berbeda.
Motor Moto3 memiliki bobot minimum sekitar 152 kilogram dengan tenaga berkisar 55 hingga 60 horsepower. Sementara itu, motor Moto2 memiliki bobot gabungan motor dan pembalap sekitar 217 kilogram serta dibekali mesin Triumph 765 cc yang mampu menghasilkan tenaga mendekati 140 horsepower.
Perbedaan tersebut membuat tantangan yang dihadapi pembalap meningkat drastis. Mereka dituntut memiliki tenaga fisik lebih besar untuk mengendalikan motor saat pengereman keras, akselerasi, hingga perubahan arah dengan kecepatan tinggi.
Fisik Jadi Tantangan Terbesar
Salah satu aspek yang paling menentukan keberhasilan pembalap saat naik ke Moto2 adalah kondisi fisik.
Beban motor yang jauh lebih berat membuat kekuatan otot lengan, bahu, dan inti tubuh menjadi sangat penting. Selain itu, daya tahan jantung dan paru-paru juga harus meningkat karena balapan Moto2 berlangsung dengan intensitas yang jauh lebih tinggi dibanding Moto3.
Pembalap tidak hanya dituntut cepat dalam satu putaran, tetapi juga harus mampu menjaga konsistensi performa sepanjang balapan tanpa mengalami penurunan kondisi fisik.
Gaya Balap Berubah Total
Perbedaan tidak hanya terletak pada tenaga mesin. Moto2 juga menggunakan ban yang lebih lebar sehingga menghasilkan karakter motor yang berbeda dibanding Moto3.
Jika Moto3 lebih mengandalkan kelincahan, slipstream, dan pertarungan dalam rombongan besar, Moto2 justru menuntut stabilitas saat pengereman, presisi racing line, serta kemampuan mengontrol throttle ketika keluar tikungan.
Kesalahan kecil saat menentukan titik pengereman dapat membuat pembalap kehilangan banyak waktu, bahkan berujung kecelakaan.
Karena itu, kemampuan membaca balapan dan menjaga konsistensi lap menjadi faktor yang sangat menentukan.
Mental Juara Menjadi Kunci
Selain kemampuan teknis, mental juga menjadi ujian terbesar bagi pembalap yang naik ke Moto2.
Persaingan di kelas intermediate dihuni rider-rider yang telah memiliki pengalaman panjang di level Grand Prix. Tekanan untuk tampil konsisten pada setiap seri jauh lebih besar dibanding Moto3.
Pengamat balap Henry Wibowo menilai konsistensi menjadi faktor utama yang akan menentukan peluang Feda naik kelas.
Menurutnya, jika Feda mampu terus finis di barisan depan serta mempertahankan performa stabil sepanjang musim, peluang promosi ke Moto2 sangat realistis.
Honda Team Asia Jadi Jalur Ideal
Keberadaan Feda bersama Honda Team Asia juga menjadi keuntungan tersendiri.
Tim tersebut dikenal sebagai salah satu jalur pembinaan pembalap Asia menuju level yang lebih tinggi. Program pengembangannya tidak hanya berfokus pada peningkatan teknik balap, tetapi juga mencakup latihan fisik, penguatan mental, hingga analisis data yang menjadi bagian penting dalam dunia balap modern.
Dengan bekal pengalaman tersebut, peluang Feda Ega Pratama untuk melangkah ke Moto2 semakin terbuka apabila mampu menjaga tren positif hingga akhir musim.
Meski jalan menuju kelas intermediate masih panjang, performa yang ditunjukkan sepanjang Moto3 World Championship 2026 menjadi sinyal bahwa Indonesia kembali memiliki pembalap muda yang berpotensi bersaing di level tertinggi balap motor dunia. Kini, tantangan terbesar bagi Feda bukan lagi membuktikan kecepatannya, melainkan menjaga konsistensi agar kesempatan promosi ke Moto2 benar-benar menjadi kenyataan.
Editor : M. Helmi Nurhisam