Veda Ega Pratama Cetak Sejarah Moto3, Hiroshi Aoyama Menangis Haru Usai Raih Podium di Goyania

Bachtiar Tatag P • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 14:50 WIB
Veda Ega Pratama cetak sejarah Moto3 dengan finis podium ketiga di Goyania. Hiroshi Aoyama terharu melihat perjuangan pembalap muda Indonesia.
Veda Ega Pratama cetak sejarah Moto3 dengan finis podium ketiga di Goyania. Hiroshi Aoyama terharu melihat perjuangan pembalap muda Indonesia.

 
JAKARTA
– Veda Ega Pratama kembali mengharumkan nama Indonesia di ajang Moto3 2026. Pembalap muda asal Gunungkidul itu sukses mencetak sejarah dengan meraih podium ketiga pada balapan di Sirkuit Goyania, Brasil. Hasil gemilang tersebut bahkan membuat bos Honda Team Asia, Hiroshi Aoyama, tak mampu menyembunyikan emosinya usai balapan berakhir.

Keberhasilan Veda Ega Pratama meraih podium Moto3 menjadi salah satu pencapaian terbesar bagi pembalap Indonesia di level Grand Prix. Setelah sebelumnya tampil impresif dengan finis lima besar di Thailand, Veda kembali menunjukkan kapasitasnya sebagai salah satu talenta muda paling menjanjikan musim ini.

Performa Veda Ega Pratama tidak diraih dengan mudah. Ia harus menghadapi tekanan besar sejak awal balapan hingga lap terakhir sebelum akhirnya mengamankan posisi ketiga dan mengibarkan Merah Putih di podium internasional.

Baca Juga: Kenaikan Gaji PNS 2026 Masuk Perpres, Benarkah Segera Cair? Ini Penjelasan Pemerintah

Start Meyakinkan, Namun Sempat Terlempar dari Barisan Depan

Veda memulai balapan dari posisi keempat, sebuah hasil yang cukup menjanjikan untuk membuka peluang bertarung di grup depan. Namun persaingan ketat Moto3 membuat situasi berubah cepat.

Memasuki tikungan pertama, pembalap-pembalap Eropa langsung memberikan tekanan. Agresivitas rival membuat Veda kehilangan jalur ideal dan perlahan turun ke posisi ketujuh pada lap awal.

Di saat banyak pembalap muda biasanya kehilangan ritme setelah kehilangan posisi, Veda justru menunjukkan ketenangan luar biasa. Ia tidak terburu-buru melakukan manuver berisiko dan memilih membangun kembali kecepatannya secara bertahap.

Baca Juga: Kenaikan Gaji ASN 2026 Masih Dikaji, Ini Syarat yang Dipertimbangkan Pemerintah

Hiroshi Aoyama yang memantau jalannya balapan dari pit wall disebut terus mengamati data telemetri. Honda NSF250RW memang dikenal memiliki karakter berbeda dibanding motor KTM yang mendominasi sebagian besar grid Moto3.

Strategi Pengereman Jadi Senjata Utama

Memasuki pertengahan balapan, Veda mulai memperlihatkan kemampuan terbaiknya. Ia memanfaatkan keunggulan dalam area pengereman untuk memangkas jarak dengan grup depan.

Ketika pembalap lain mengandalkan tenaga mesin saat keluar tikungan, Veda memilih menyerang melalui teknik late braking. Strategi itu membuatnya mampu memangkas selisih waktu yang sempat mencapai tiga detik.

Satu per satu lawan berhasil dilewati. Dari posisi ketujuh, Veda naik ke posisi keenam lalu kelima. Catatan waktunya bahkan mulai menyamai para pemimpin lomba meski harus bertarung di tengah rombongan pembalap.

Keunggulan terbesar Veda terlihat pada konsistensi. Data balapan menunjukkan pembalap Indonesia tersebut mampu mempertahankan titik pengereman dengan akurasi tinggi, bahkan saat kondisi ban mulai mengalami penurunan performa.

Baca Juga: Kenaikan Gaji PNS 2026 Masih Jadi Tanda Tanya, Ini Jawaban Menteri PAN RB

Duel Sengit Lawan Alvaro Carpe

Pertarungan paling menarik terjadi saat Veda memburu posisi podium yang saat itu ditempati Alvaro Carpe. Pembalap Spanyol tersebut dikenal sebagai salah satu rider dengan kemampuan bertahan terbaik di kelas Moto3.

Selama beberapa lap, keduanya terlibat duel ketat. Veda terus memberikan tekanan dengan menempel ketat di belakang Carpe. Taktik tersebut membuat rivalnya mulai kehilangan kenyamanan dan dipaksa bekerja lebih keras mempertahankan posisi.

Puncaknya terjadi saat balapan menyisakan dua lap. Veda melancarkan manuver berani di tikungan pertama dan berhasil merebut posisi ketiga. Meski Carpe mencoba melakukan serangan balasan, pembalap Honda Team Asia itu mampu mempertahankan posisinya hingga garis finis.

Baca Juga: Kenaikan Gaji ASN 2027 Masuk RAPBN? Ini Fakta Terbaru dari Pemerintah

Telemetri pasca-balapan menunjukkan konsistensi pengereman Veda menjadi faktor pembeda utama. Di lap-lap terakhir, ia mampu menjaga presisi pengereman dalam rentang yang sangat kecil meski menghadapi tekanan fisik dan mental luar biasa.

Tangis Haru dan Sejarah Baru Indonesia

Sesaat setelah menyentuh garis finis, emosi Veda akhirnya pecah. Kamera televisi menangkap momen ketika pembalap berusia 17 tahun itu menangis haru saat menjalani cooldown lap.

Tangisan tersebut menjadi simbol perjuangan panjang yang telah dilalui. Mulai dari berlatih jauh dari keluarga, beradaptasi dengan lintasan Eropa, hingga membawa harapan besar pecinta balap Indonesia.

Momen emosional juga terlihat di garasi Honda Team Asia. Hiroshi Aoyama yang selama ini dikenal tenang dan disiplin tampak tak mampu menyembunyikan rasa bangganya terhadap anak didiknya.

Puncak kebahagiaan terjadi saat Veda berdiri di podium Moto3 Goyania. Di bawah kibaran Merah Putih, pembalap muda Indonesia itu kembali menitikkan air mata, menandai lahirnya salah satu momen paling bersejarah dalam perjalanan balap motor Indonesia di ajang Grand Prix dunia.

Editor : Bachtiar Tatag P
Veda Ega Pratama Honda Team Asia Hiroshi Aoyama Alvaro Carpe Moto3 Goyania