JAKARTA - Red Bull disebut lebih memilih Feda Ega Pratama sebagai investasi jangka panjang dibandingkan pembalap Malaysia, Hakim Danish. Keputusan tersebut memicu sorotan karena performa Danish di Moto3 2026 dinilai cukup mengesankan.
Dalam analisis video yang menjadi sumber tulisan ini, pilihan Red Bull terhadap Feda tidak semata-mata didasarkan pada hasil balapan musim 2026. Faktor rekam jejak di kompetisi junior, perkembangan karier, pencapaian historis, hingga potensi pasar Indonesia disebut menjadi pertimbangan penting.
Perdebatan mengenai Red Bull pilih Feda Ega Pratama mencuat karena Hakim Danish memiliki catatan yang juga kuat. Pembalap Malaysia itu disebut finis di posisi ketiga klasemen akhir Red Bull Rookies Cup 2025. Setelah naik ke kejuaraan dunia Moto3 2026, Danish juga diklaim telah meraih kemenangan Grand Prix pertamanya.
Baca Juga: Poco C85 Rp2,2 Jutaan, Layar 120 Hz, Baterai 6.000 mAh dan Fast Charging 33 Watt
Rekam Jejak Feda Jadi Pertimbangan
Di sisi lain, Feda memiliki rekam jejak yang dinilai membuat Red Bull tertarik. Dalam video tersebut disebutkan, Feda merupakan juara Asia Talent Cup 2023. Ia kemudian menjadi runner-up Red Bull Rookies Cup 2025 dengan tiga kemenangan.
Catatan tersebut dianggap menjadi salah satu dasar penilaian terhadap potensi Feda. Tim dan sponsor disebut tidak hanya melihat hasil satu atau beberapa seri, tetapi juga memperhatikan perkembangan seorang pembalap dari waktu ke waktu.
Feda memang disebut belum meraih kemenangan di Moto3 2026. Namun, ia berhasil mencatatkan podium di Grand Prix Brasil 2026. Hasil tersebut dalam analisis video disebut sebagai pencapaian bersejarah karena menjadikan Feda pembalap Indonesia pertama yang naik podium ajang Grand Prix.
Baca Juga: Pabrik Gula Merah di Tapan Terbakar, dari Tumpukan Sepah Tebu hingga Kerugian Rp10 Juta
Pencapaian itu kemudian dipandang memiliki nilai lebih dari sekadar hasil olahraga. Feda dinilai membawa cerita historis yang kuat karena menjadi representasi Indonesia di panggung balap dunia.
Potensi Pasar Indonesia
Pertimbangan lain yang dibahas adalah sisi bisnis olahraga. MotoGP tidak hanya dipandang sebagai kompetisi balap, tetapi juga industri hiburan dengan nilai komersial besar.
Indonesia disebut memiliki basis penggemar sepeda motor dan MotoGP yang sangat besar. Ketika Feda tampil, perhatian publik Indonesia dinilai dapat memberikan eksposur luas melalui penonton, media sosial, maupun pemberitaan.
Dalam analisis tersebut, kombinasi antara prestasi junior, usia yang masih memiliki ruang berkembang, sejarah podium Grand Prix, serta potensi pasar Indonesia menjadi paket yang dinilai menarik bagi Red Bull.
Sementara itu, Hakim Danish tetap disebut sebagai pembalap yang memiliki prospek cerah. Prestasinya di Red Bull Rookies Cup 2025 dan kemenangan Grand Prix pada Moto3 2026 menjadi bukti bahwa kecepatannya tidak bisa dipandang sebelah mata.
Perbedaan keduanya kemudian tidak hanya dilihat berdasarkan siapa yang lebih unggul dalam satu periode balapan. Analisis video menilai keputusan sponsor lebih berkaitan dengan total nilai yang bisa ditawarkan seorang pembalap dalam jangka panjang.
Baca Juga: Ruben Onsu Tolak Syarat Bertemu Anak, Mediasi Hak Asuh Dinyatakan Gagal
Karena itu, pilihan Red Bull terhadap Feda Ega Pratama disebut sebagai strategi investasi jangka panjang. Feda dinilai memiliki kombinasi antara rekam jejak junior, potensi perkembangan, pencapaian historis, dan daya tarik komersial dari pasar Indonesia.
Namun, seluruh pembahasan tersebut merupakan analisis yang disampaikan dalam video sumber. Transkrip tidak memuat pernyataan resmi dari Red Bull yang secara langsung menjelaskan alasan pemilihan Feda dibandingkan Hakim Danish.
Editor : Bachtiar Tatag P