Cesc Fabregas dan Rahasia di Balik Kebangkitan Como 1907 di Serie A

Maylanni Diana Fitri • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 20:16 WIB
Cesc Fabregas membawa Como 1907 bersaing di papan atas Serie A. Filosofi, pengalaman, dan pendekatan modern menjadi kunci kepelatihannya.(pinterest)
Cesc Fabregas membawa Como 1907 bersaing di papan atas Serie A. Filosofi, pengalaman, dan pendekatan modern menjadi kunci kepelatihannya.(pinterest)

JAKARTA - Cesc Fabregas mulai menunjukkan kualitasnya sebagai pelatih bersama Como 1907. Mantan playmaker elegan itu membawa identitas permainan yang jelas dan membuat Como mampu bersaing di papan atas Serie A.

Pada musim keduanya bersama Como, Fabregas bahkan membawa timnya berada di posisi keempat klasemen sementara. Como hanya berjarak lima poin dari Napoli di posisi ketiga dan unggul satu angka atas Juventus yang berada di urutan kelima.

Pencapaian tersebut cukup menarik karena pengalaman Fabregas sebagai pelatih tergolong singkat. Ia juga belum lama meninggalkan lapangan hijau.

Namun, Fabregas mampu mengubah cara pandang Como. Sebagai tim yang baru naik kasta, Como tidak sekadar diarahkan untuk bertahan di Serie A. Fabregas menanamkan keyakinan bahwa timnya mampu bersaing dengan klub-klub mapan.

Belajar dari Pelatih-Pelatih Besar

Salah satu fondasi kepelatihan Fabregas berasal dari pengalamannya bekerja bersama sejumlah pelatih besar.

Baca Juga: Mitsubishi L300 2026 Diprediksi Bawa Mesin 2.4L dan Harga Mulai Rp180 Juta

Saat masih muda dan memperkuat Arsenal, Fabregas berada di bawah arahan Arsene Wenger. Dari pelatih asal Prancis tersebut, ia mempelajari sepak bola menyerang, penguasaan bola, pergerakan cepat, serta kebebasan bagi pemain kreatif.

Pengalamannya semakin berkembang ketika Fabregas kembali ke Barcelona. Di sana, ia bermain di bawah kepemimpinan Pep Guardiola.

Guardiola memperkenalkan pendekatan yang lebih sistematis. Setiap posisi memiliki fungsi spesifik dalam permainan berbasis penguasaan bola. Dari Barcelona pula Fabregas menyerap filosofi tiki-taka.

Pengalaman berbeda didapatnya ketika bermain untuk Chelsea bersama Jose Mourinho. Dari Mourinho, Fabregas belajar sisi pragmatis sepak bola.

Kemenangan tidak selalu harus diraih melalui dominasi penguasaan bola. Organisasi pertahanan, disiplin posisi, transisi, dan kemampuan membaca situasi menjadi bagian penting dari pembelajaran Fabregas.

Semua pengalaman tersebut kemudian menjadi modal ketika ia mulai menangani Como.

Fabregas juga memiliki kemampuan membaca permainan yang sudah terlihat sejak masih menjadi pemain. Sebagai playmaker, ia mampu memahami pergerakan rekan setim dan membaca ruang yang akan terbuka beberapa detik kemudian.

Ia juga memahami kapan permainan harus dipercepat atau diperlambat. Kemampuan membaca tempo tersebut kini diterapkan dari pinggir lapangan.

Gabungkan Taktik dan Pendekatan Modern

Fabregas tidak hanya mengandalkan taktik. Ia juga membangun hubungan yang dekat dengan para pemain.

Baca Juga: Mitsubishi L300 2026 Makin Modern, Mesin Diesel 2.2L Euro 4 Jadi Andalan

Usianya yang masih muda membuat Fabregas relatif memahami dinamika ruang ganti. Ia mengetahui tekanan yang dihadapi pemain, termasuk pengaruh media sosial dan ekspektasi publik terhadap kepercayaan diri.

Karena itu, Fabregas menerapkan komunikasi dua arah. Ia memberikan kebebasan ketika diperlukan, tetapi tetap memberikan arahan tegas pada situasi tertentu.

Pendekatan tersebut membuat Como tidak hanya terlihat terorganisasi secara taktik. Chemistry antarpemain juga menjadi bagian penting dari permainan mereka.

Fabregas pun tidak menerapkan sepak bola berbasis penguasaan bola secara kaku. Ketika situasi pertandingan tidak memungkinkan, Como dapat menyesuaikan pendekatan.

Fleksibilitas menjadi salah satu bagian dari cara Fabregas mengelola tim.

Yang membuat posisinya semakin unik adalah keterlibatan Fabregas dalam proyek Como secara keseluruhan. Ia bukan hanya pelatih, tetapi juga salah satu pemegang saham minoritas klub.

Besaran saham yang dimiliki Fabregas tidak disebutkan. Namun, status tersebut membuat keterlibatannya lebih luas dibandingkan seorang pelatih pada umumnya.

Fabregas ikut memilih pemain dan menentukan filosofi permainan. Ia juga memiliki perspektif jangka panjang terhadap perkembangan klub.

Dengan posisi tersebut, Fabregas tidak hanya memikirkan hasil pertandingan berikutnya. Ia juga harus mempertimbangkan perkembangan Como sebagai sebuah proyek.

Peran ganda tersebut menjadi kekuatan sekaligus tantangan. Fabregas harus mampu menyeimbangkan kebutuhan jangka pendek di lapangan dengan kepentingan jangka panjang klub.

Kondisi itu membuat perjalanan Fabregas bersama Como menjadi semakin menarik. Ia memiliki ruang untuk membangun tim berdasarkan visi yang diyakininya.

Kesuksesan tersebut juga menimbulkan pertanyaan mengenai bagaimana Fabregas akan berkembang jika nantinya menangani klub dengan struktur manajemen yang berbeda.

Untuk saat ini, Como menjadi tempat Fabregas membangun identitasnya sebagai pelatih. Dari seorang playmaker yang mengatur permainan di tengah lapangan, ia kini mencoba melakukan hal serupa dari pinggir lapangan.

Editor : Maylanni Diana Fitri
Pelatih Como Sepak Bola Italia Como 1907 cesc fabregas serie a