JAKARTA - Lionel Messi membuat langkah besar di luar lapangan setelah mencapai kesepakatan prinsip untuk membeli 100 persen saham klub Segunda Division Spanyol, CD Eldense.
Langkah tersebut terjadi ketika Como 1907, klub yang dimiliki grup asal Indonesia Djarum, sedang menikmati momentum besar di Liga Champions 2026/2027. Kesamaan menarik dari kedua cerita tersebut adalah pilihan membangun kepemilikan sepak bola melalui klub yang bukan raksasa Eropa. Namun, sejauh ini belum ada bukti bahwa keputusan Messi membeli Eldense merupakan hasil meniru strategi Djarum di Como.
Baca Juga: Weton 2027 yang Masuk Jalur Kekayaan, Rezeki Disebut Mengalir Deras
Messi Mulai Bangun Portofolio Klub
Keputusan Messi mengakuisisi Eldense menjadi perkembangan terbaru dari aktivitas bisnisnya di sepak bola.
Pada September 2026, Eldense mengonfirmasi bahwa Messi telah mencapai kesepakatan prinsip dengan pemegang saham mayoritas klub untuk mengambil alih kepemilikan. Transaksi tersebut masih menunggu penyelesaian prosedur hukum dan kontraktual, termasuk proses due diligence serta persetujuan Dewan Olahraga Spanyol atau CSD.
Jika proses tersebut selesai, Eldense akan menjadi salah satu bagian penting dari portofolio bisnis sepak bola Messi di Spanyol. Sebelumnya, Messi juga telah mengambil alih UE Cornellà, klub yang berkompetisi di kasta kelima sepak bola Spanyol.
Pilihan terhadap klub yang belum menjadi kekuatan utama sepak bola Eropa tersebut membuat langkah Messi menarik perhatian.
Namun, anggapan bahwa Messi secara langsung meniru pola investasi Djarum di Como perlu ditempatkan secara hati-hati. Tidak ada pernyataan resmi yang menyebut keberhasilan Como sebagai alasan Messi memilih Eldense.
Como 1907 Jadi Contoh Transformasi
Di sisi lain, Como 1907 memang telah menghasilkan transformasi yang bisa diamati secara konkret.
Klub yang bermarkas di tepi Danau Como itu menghadapi masalah finansial dan turun ke Serie D pada 2017. Dua tahun kemudian, Djarum Group mengambil alih klub tersebut dan memulai proses revitalisasi.
Menurut laman resmi Como 1907, revitalisasi tersebut membawa klub kembali ke Serie A pada 2024 setelah menunggu selama 21 tahun. Mirwan Suwarso kini menjabat sebagai presiden klub dan menjadi salah satu tokoh utama dalam proyek pengembangan Como.
Menariknya, pembangunan Como tidak hanya berorientasi pada transfer pemain. Struktur klub, fasilitas, pengembangan pemain, aspek komersial dan identitas klub turut menjadi bagian dari proyek jangka panjang.
Pendekatan tersebut kemudian mendapatkan hasil spektakuler pada musim 2026/2027.
Debut UCL Berakhir dengan Kemenangan 4-1
Como 1907 untuk pertama kalinya tampil di Liga Champions pada September 2026. Lawan pertamanya adalah RB Leipzig.
Bermain di Stadion Giuseppe Sinigaglia, Como tampil agresif dan berhasil menang 4-1. Martin Baturina membuka skor pada menit ke-15, disusul gol Tasos Douvikas pada menit ke-38.
Assane Diao kemudian membuat skor menjadi 3-0 pada menit ke-54. Leipzig sempat membalas lewat Andrija Maksimovic, tetapi Máximo Perrone memastikan kemenangan Como melalui gol pada menit ke-90. Pertandingan tersebut sekaligus menjadi debut Cesc Fabregas sebagai pelatih Como di Liga Champions.
Hasil tersebut membuat kisah Como semakin kuat sebagai salah satu cerita transformasi paling menarik dalam sepak bola Italia beberapa tahun terakhir.
Dua Jalan Menuju Bisnis Sepak Bola
Kisah Messi dan Djarum di Como akhirnya memperlihatkan satu tren yang semakin berkembang dalam sepak bola modern: pemain maupun pengusaha tidak hanya melihat klub sebagai tim pertandingan, tetapi juga sebagai aset bisnis jangka panjang.
Djarum telah memiliki waktu beberapa tahun untuk membangun Como dari level bawah hingga Liga Champions. Sementara itu, Messi baru memulai babak baru bersama Eldense dan proses akuisisinya pun masih membutuhkan tahapan regulasi.
Karena itu, keberhasilan keduanya belum dapat dibandingkan secara langsung.
Yang sudah pasti, Como 1907 kini telah mencapai panggung Liga Champions dan bahkan memulainya dengan kemenangan. Sementara Messi sedang membangun proyek kepemilikan klubnya sendiri di Spanyol.
Perjalanan berikutnya akan menentukan apakah Eldense mampu mengikuti jejak transformasi Como atau justru berkembang dengan pola bisnis yang berbeda.
Baca Juga: Weton 2027 yang Masuk Jalur Kekayaan, Rezeki Disebut Mengalir Deras
Editor : Muhamad Ahsanul WildanSumber : Arena Sport ID