Taktik Timnas Indonesia John Heitinga Disorot, Kenapa Pemain Terlihat Kaku ?

Muhamad Ahsanul Wildan • Dipublikasikan Kamis, 1 Oktober 2026 | 18:45 WIB
Taktik Timnas Indonesia John Heitinga memakai lima koridor serangan. Mengapa sistem ini justru terlihat kaku? (Pinterest)
Taktik Timnas Indonesia John Heitinga memakai lima koridor serangan. Mengapa sistem ini justru terlihat kaku? (Pinterest)

JAKARTA - Taktik Timnas Indonesia yang diterapkan John Heitinga menjadi sorotan setelah muncul anggapan bahwa sejumlah pemain ditempatkan di posisi yang tidak sesuai dengan posisi naturalnya.

Namun, analisis dalam sebuah video justru menjelaskan bahwa perubahan posisi tersebut berkaitan dengan sistem permainan, khususnya konsep mengisi lima koridor lapangan saat tim membangun serangan.

Baca Juga: Weton 2027 yang Masuk Jalur Kekayaan, Rezeki Disebut Mengalir Deras

Formasi Berubah Saat Tim Menyerang

Secara teori, Timnas Indonesia menggunakan empat pemain bertahan. Namun, ketika memasuki fase menyerang, struktur tersebut dapat berubah menjadi seperti tiga pemain di lini belakang. Perubahan itu bukan sekadar pergantian posisi, melainkan bagian dari upaya menjaga keseimbangan sekaligus memenuhi ruang di seluruh area lapangan.

Dalam analisis tersebut, lapangan dibagi menjadi lima koridor. Dua di antaranya merupakan area lebar di sisi kanan dan kiri. Kemudian terdapat dua half-space atau ruang di antara area tengah dan sisi lapangan, serta satu koridor sentral.

Konsep tersebut terlihat dalam sesi latihan. Garis horizontal dan garis putus-putus vertikal dibuat di lapangan untuk membantu pemain memahami area yang harus ditempati ketika menyerang.

Tujuannya adalah membuat struktur permainan lebih terorganisasi. Ketika satu pemain bergerak meninggalkan posisinya, pemain lain diharapkan dapat mengisi ruang yang ditinggalkan.

Salah satu contoh adalah ketika Ole Romeny turun ke area half-space untuk menarik pemain bertahan lawan. Pergerakan tersebut dapat membuka ruang yang kemudian diserang pemain lain melalui pergerakan diagonal.

Posisi Pemain Tidak Selalu Sama dengan Posisi di Atas Kertas

Persoalan kemudian muncul karena posisi pemain di lapangan tidak selalu sama dengan posisi yang tercantum dalam susunan pemain.

Ragnar Oratmangoen, misalnya, dapat tercatat sebagai pemain sayap kiri. Namun, ketika sisi kiri ditempati pemain yang menjaga lebar lapangan, Ragnar bergerak lebih ke dalam. Dengan begitu, ia menjalankan fungsi yang berbeda dari seorang winger konvensional.

Hal serupa menjadi pembahasan ketika Thom Haye terlihat menempati area kanan. Di atas kertas, Haye lebih dikenal sebagai gelandang serang atau pemain tengah. Namun, dalam sistem berbasis koridor, pemain tidak harus terus berada di titik yang sama.

Konsep tersebut juga dapat ditemukan dalam permainan sejumlah klub besar. Pemain yang terdaftar sebagai gelandang serang bisa saja bergerak ke sisi lapangan atau masuk ke half-space tergantung kebutuhan struktur.

Tantangannya: Struktur Terlalu Kaku

Meski konsepnya jelas, analisis tersebut juga menyoroti persoalan yang muncul ketika instruksi terlalu rigid.

Ketika pemain terlalu fokus menjaga koridor masing-masing, pergerakan menjadi mudah dibaca lawan. Bek lawan lebih mudah menentukan siapa yang harus dikawal karena perpindahan posisi tidak cukup dinamis.

Akibatnya, serangan Timnas Indonesia berpotensi kehilangan unsur kejutan. Pemain memang berada di area yang benar, tetapi belum tentu menghasilkan kombinasi yang sulit ditebak.

Inilah perbedaan antara sekadar memenuhi koridor dengan menjalankan positional play secara dinamis. Pemain harus mampu bertukar posisi tanpa membuat struktur tim kehilangan keseimbangan.

Dinamika Menjadi Kunci

Analisis tersebut kemudian menggunakan Barcelona sebagai gambaran bagaimana sistem berbasis koridor dapat dijalankan secara dinamis. Pemain dapat berpindah dari satu ruang ke ruang lain, sementara rekan setim mengisi area yang ditinggalkan.

Dengan mekanisme seperti itu, lawan kesulitan menentukan pemain mana yang harus dikawal. Struktur tetap terjaga, tetapi pemain tidak terjebak pada satu titik.

Bagi Timnas Indonesia, tantangannya adalah mempercepat pemahaman pemain terhadap sistem. Semakin detail instruksi yang diberikan, semakin cepat pula pemain harus beradaptasi.

Jika proses adaptasi belum selesai, struktur yang sebenarnya dirancang untuk membuat permainan terorganisasi justru dapat terlihat kaku.

Karena itu, persoalan penempatan pemain tidak selalu dapat dilihat hanya berdasarkan posisi natural. Yang lebih penting adalah bagaimana karakter pemain, instruksi pelatih, dan kemampuan melakukan rotasi dapat menyatu dalam sistem.

Dalam analisis video tersebut, sistem John Heitinga dinilai masih membutuhkan waktu untuk menemukan bentuk paling dinamisnya. Konsistensi latihan dan pemahaman pemain menjadi faktor penting agar struktur lima koridor tidak sekadar menjadi pola di atas kertas, tetapi benar-benar menghasilkan variasi serangan di lapangan.

Baca Juga: Weton 2027 yang Masuk Jalur Kekayaan, Rezeki Disebut Mengalir Deras

Editor : Muhamad Ahsanul Wildan
Sumber : Tommy Desky
Formasi Timnas Indonesia ole romeny thom haye John Heitinga Taktik Timnas Indonesia