Taktik Timnas Indonesia Bikin Thom Haye dan Verdonk Bergeser, Ini Penjelasannya

Muhamad Ahsanul Wildan • Dipublikasikan Kamis, 1 Oktober 2026 | 18:50 WIB
Taktik Timnas Indonesia membuat posisi Thom Haye dan Verdonk jadi sorotan. Benarkah masalahnya ada pada sistem? (Pinterest)
Taktik Timnas Indonesia membuat posisi Thom Haye dan Verdonk jadi sorotan. Benarkah masalahnya ada pada sistem? (Pinterest)

JAKARTA - Taktik Timnas Indonesia kembali menjadi bahan pembahasan setelah sejumlah pemain terlihat menjalankan peran yang berbeda dari posisi natural mereka.

Dalam analisis sebuah video, perubahan tersebut disebut berkaitan dengan sistem permainan yang menuntut pemain mengisi lima koridor lapangan. Masalahnya, struktur yang terlalu detail berisiko membuat permainan terlihat kaku ketika pemain belum mampu melakukan rotasi secara alami.

Baca Juga: Makam Eyang Lembu Gumarang di Tulungagung, Jejak Kuno Mataram Islam di Bukit

Mengapa Thom Haye Bisa Berada di Sisi Lapangan?

Salah satu contoh yang dibahas adalah Thom Haye. Pemain yang dikenal beroperasi di lini tengah tersebut dapat terlihat berada di area yang secara visual menyerupai posisi sayap.

Namun, penempatan tersebut tidak otomatis berarti Haye dimainkan sebagai winger. Dalam sistem permainan berbasis koridor, seorang gelandang dapat ditempatkan di half-space untuk menjaga struktur serangan.

Dengan demikian, posisi yang terlihat dari layar televisi belum tentu menggambarkan fungsi sebenarnya. Pemain dapat memulai serangan dari area tertentu, kemudian bergerak mengikuti pergerakan rekan setim.

Konsep tersebut juga berlaku pada Ragnar Oratmangoen. Ketika pemain lain menjaga lebar sisi kiri, Ragnar dapat bergerak lebih ke dalam. Peran itu membuatnya tidak harus berdiri terus di garis lapangan seperti winger tradisional.

Lima Koridor Menjadi Dasar Struktur Serangan

Dalam video tersebut, sistem Timnas Indonesia dijelaskan melalui lima koridor. Dua berada di area lebar kanan dan kiri, dua lainnya merupakan half-space, sedangkan satu koridor berada di bagian tengah.

Garis-garis yang dibuat di lapangan latihan menjadi penanda bagi pemain mengenai area yang perlu ditempati.

Secara konsep, metode tersebut membantu pemain memahami jarak dan posisi. Ketika satu pemain keluar dari sebuah koridor, pemain lain dapat mengisi ruang yang kosong.

Contohnya, seorang pemain dapat turun untuk menarik bek lawan. Pergerakan tersebut kemudian membuka ruang bagi pemain lain yang melakukan penetrasi diagonal.

Persoalannya muncul ketika pemain hanya memahami instruksi sebagai kewajiban untuk berdiri di area tertentu. Permainan akhirnya kehilangan fleksibilitas.

Struktur Bisa Rapi, tetapi Serangan Tetap Terbaca

Dalam sepak bola modern, memenuhi seluruh ruang tidak cukup. Pemain juga membutuhkan kemampuan membaca situasi dan melakukan pertukaran posisi.

Jika pemain terlalu terpaku pada koridor masing-masing, pertahanan lawan dapat lebih mudah membaca pola serangan. Mereka bisa mengetahui pemain mana yang harus dijaga karena pergerakan antarpemain tidak cukup sering berubah.

Kondisi tersebut membuat serangan berpotensi berjalan monoton. Struktur memang terlihat rapi, tetapi tidak selalu menghasilkan ruang baru.

Analisis video tersebut membandingkannya dengan permainan level elite. Dalam sistem yang lebih dinamis, perpindahan pemain tidak membuat koridor kosong karena pemain lain segera melakukan rotasi.

Artinya, posisi awal hanya menjadi titik awal. Pemain tidak harus terus berada di sana sepanjang fase menyerang.

Persoalan Calvin Verdonk

Pembahasan kemudian mengarah kepada Calvin Verdonk. Dalam analisis tersebut, Verdonk dinilai memiliki karakteristik yang lebih sesuai ketika bermain di posisi kirinya.

Penempatan di area tengah bukan berarti pemain tidak mampu menjalankan peran tersebut. Namun, diperlukan waktu agar karakter pemain benar-benar menyatu dengan tuntutan sistem.

Inilah salah satu tantangan yang muncul ketika sebuah tim menerapkan struktur dengan instruksi sangat spesifik. Pemain harus cepat memahami kapan mempertahankan posisi dan kapan melakukan manipulasi ruang.

Jika adaptasi berjalan lambat, struktur yang seharusnya membantu permainan justru dapat membuat pemain ragu mengambil keputusan.

Kunci Berikutnya adalah Fleksibilitas

Pada akhirnya, perdebatan mengenai posisi pemain Timnas Indonesia tidak cukup diselesaikan dengan melihat susunan pemain sebelum pertandingan.

Seorang gelandang bisa beroperasi di half-space. Seorang winger bisa masuk ke tengah. Pemain belakang dapat melebar atau masuk ke dalam. Semua bergantung pada sistem dan pergerakan pemain lain.

Karena itu, persoalan utama bukan hanya siapa bermain di posisi apa, tetapi seberapa cepat pemain memahami hubungan antarruang.

Dalam analisis tersebut, sistem John Heitinga disebut masih membutuhkan proses agar para pemain mampu menjalankan struktur dengan lebih cair. Jika pemahaman meningkat, lima koridor tidak harus membuat permainan kaku.

Sebaliknya, koridor dapat menjadi kerangka dasar yang memberi pemain kebebasan melakukan rotasi tanpa kehilangan struktur. Tantangan Timnas Indonesia berikutnya adalah menemukan keseimbangan antara disiplin posisi dan kreativitas dalam mengambil keputusan di lapangan.

Baca Juga: Makam Eyang Lembu Gumarang di Tulungagung, Jejak Kuno Mataram Islam di Bukit

Editor : Muhamad Ahsanul Wildan
Sumber : Tommy Desky
Posisi Pemain Timnas Indonesia Calvin Verdonk thom haye John Heitinga Taktik Timnas Indonesia