RADAR TULUNGAGUNG - Cuaca di kawasan maritim harus mendapat perhatian, karena ini berhubungan dengan beragam sektor.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Indonesia telah menjalin kolaborasi erat dengan berbagai lembaga internasional dalam upaya pemantauan cuaca dan prediksi siklon tropis di kawasan maritim.
Baca Juga: Terkendala Ombak Tinggi, Pencarian Pemancing Hilang di Pantai Damas Trenggalek Nihil
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati, menegaskan pentingnya kolaborasi internasional dalam memperkuat sistem informasi dan peringatan dini cuaca demi keselamatan aktivitas maritim.
Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar dengan jumlah pulau sebanyak 17.540 pulau serta 77 persen wilayahnya terdiri dari lautan.
Baca Juga: Terseret Ombak Besar, Pemancing di Pantai Damas Trenggalek Hilang
Maka dari itu cuaca memainkan peran yang sangat krusial dalam menjaga keselamatan pelayaran hingga kegiatan perekonomian.
Dalam menghadapi fenomena cuaca ekstrem, BMKG melakukan kerjasama internasional. Kerjasama ini menjadi kunci dalam meningkatkan akurasi prediksi dan kesiapan dalam penanganan bencana.
Kerjasama ini tidak hanya membantu meningkatkan kemampuan teknis BMKG, tetapi juga memperkuat jaringan global dalam menghadapi ancaman cuaca ekstrem.
Pentingnya Pemantauan Siklon Tropis
Siklon tropis adalah badai dengan kekuatan besar. Radius rata-rata siklon tropis mencapai 150 hingga 200 km.
Baca Juga: Waspada Perubahan Cuaca Awal Februari, BMKG Bilang Begini
Siklon tropis terbentuk di atas lautan luas yang umumnya mempunyai suhu permukaan air laut hangat, lebih dari 26.5 °C.
Indonesia, sebagai negara kepulauan dengan garis pantai yang panjang, rentan terhadap dampak siklon tropis yang terbentuk di Samudra Hindia dan Samudra Pasifik.
Pemantauan dan prediksi yang akurat sangat penting untuk memberikan peringatan dini kepada masyarakat dan meminimalisir dampak negatif dari siklon tropis.
Kolaborasi dengan WMO
BMKG memiliki salah satu mitra utama dalam pemantauan siklon tropis yaitu Organisasi Meteorologi Dunia (WMO).
WMO menyediakan platform untuk pertukaran data dan informasi cuaca antara negara-negara anggota. Melalui kerjasama ini,
BMKG dapat mengakses data dari berbagai satelit cuaca dan model prediksi yang digunakan oleh lembaga meteorologi di seluruh dunia. Selain itu,
Baca Juga: Gelombang Tinggi Bakal Terjadi di Perairan Selatan Tulungagung, BMKG Bilang Begini
WMO memberikan pelatihan dan dukungan teknis kepada staf BMKG untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam menganalisis dan memprediksi fenomena cuaca ekstrem.
Kerjasama dengan Lembaga Regional
Selain WMO, BMKG juga menjalin kerjasama dengan lembaga-lembaga meteorologi regional seperti Pusat Peringatan Siklon Tropis (TCWC) di Australia dan Pusat Peringatan Badai Tropis Pasifik (RSMC) di Jepang.
Lembaga-lembaga ini memiliki keahlian dan teknologi canggih dalam pemantauan siklon tropis di wilayah Samudra Hindia dan Pasifik.
Baca Juga: 3 Bibit Siklon Tropis Picu Cuaca Ekstrem, Berikut Imbauan BMKG
Dengan bekerjasama dengan TCWC dan RSMC, BMKG dapat mengakses data prediksi yang lebih spesifik dan mendapatkan informasi terkini tentang perkembangan siklon tropis yang berpotensi mengancam wilayah Indonesia.
Selain ini BMKG juga sudah menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan Tomorrow Indonesia (PT Enviromental Intelligence Indonesia / EII).
MoU ini berisi tentang kerja sama di bidang meteorologi dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) tentang studi kelayakan untuk peningkatan akurasi dan penguatan sistem layanan BMKG melalui kolaborasi strategis di wilayah Jakarta dan Jawa Barat.
Kerjasama internasional dengan BMKG meningkatkan teknologi pemantauan yang digunakan.
Salah satunya penggunaan satelit cuaca yang memberikan data real-time, memungkinkan BMKG memantau siklon tropis dengan lebih akurat.
BMKG juga mengimplementasikan model prediksi cuaca canggih.
Manfaat bagi masyarakat Indonesia meliputi peringatan dini yang lebih tepat, mempersiapkan mereka menghadapi ancaman siklon tropis.
Selain itu, pelatihan dan dukungan teknis dari lembaga internasional membantu meningkatkan kapasitas dan kemampuan staf BMKG dalam menghadapi cuaca ekstrem, sehingga masyarakat dapat lebih siap menghadapi dampaknya. ****
Editor : Dharaka R. Perdana