Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Cinta Zaman Now: Standar Perempuan Modern, Pilihan Sendiri atau Hasil Doktrin Media Sosial?

Yessica Ajeng Paramitha • Kamis, 10 April 2025 | 19:06 WIB

Pesatnya perkembangan teknologi memicu perubahan cara pandang hubungan asmara (INSTAGRAM REY MBAYANG)
Pesatnya perkembangan teknologi memicu perubahan cara pandang hubungan asmara (INSTAGRAM REY MBAYANG)

RADAR TULUNGAGUNG - Perubahan zaman yang dibarengi dengan pesatnya perkembangan teknologi digital telah mempengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk cara pandang perempuan dalam menjalani hubungan asmara alias cinta.

Dulu, cinta sering dimaknai secara sederhana, berlandaskan perasaan tulus dan nilai personal.

Namun, cinta dengan kondisi itu perlahan memudar, tergeser oleh fenomena media sosial yang menjadikan kehidupan pribadi sebagai konsumsi publik.

Platform populer seperti TikTok, Instagram, dan berbagai media sosial lainnya kini seolah menjadi “kitab panduan” tak resmi tentang bagaimana hubungan ideal harus dijalani.

Baca Juga: Film “Komang”: Mengingatkan Kita Bahwa Cinta Butuh Kata-Kata

Konten-konten yang ramai diperbincangkan kerap kali menampilkan potret pasangan yang hidupnya tampak sempurna — penuh hadiah mewah, kejutan romantis, hingga gaya hidup serba estetik.

Fenomena ini menanamkan standar baru dalam pola pikir sebagian perempuan, di mana ukuran perhatian pasangan seolah hanya bisa dibuktikan lewat materi atau perlakuan yang viral di media sosial.

Beberapa standar tidak realistis yang mulai berkembang antara lain:

- Pasangan dianggap kurang mencintai jika tidak sering memberikan hadiah.

Baca Juga: Bersemayam di Boyolangu Tulungagung, Begini Kisah Asmara Gayatri

- Harapan bahwa pasangan selalu siap siaga kapan pun dibutuhkan.

- Standar pasangan ideal diukur dari penampilan atau gaya tertentu, misalnya tipe “softboy” atau “romantis ala film”.

Padahal, kenyataannya setiap hubungan memiliki dinamika dan karakter yang unik, yang tidak bisa dipaksakan mengikuti tren digital semata.

Tidak bisa dipungkiri, perempuan masa kini memiliki pemikiran yang jauh lebih maju.

Mereka mulai fokus membangun kemandirian ekonomi, mengutamakan kebahagiaan pribadi, serta menerapkan konsep self-love dalam kehidupannya.

Namun, ironisnya, di tengah semangat kebebasan itu, masih banyak perempuan yang terjebak dalam ekspektasi sosial — terutama ekspektasi yang dibentuk media sosial.

Konflik batin pun tak terelakkan. Ada perempuan yang sejatinya nyaman menjalani hubungan sederhana, tetapi justru merasa “kurang beruntung” hanya karena tidak mendapatkan perlakuan ala pasangan viral di TikTok.

Baca Juga: 5 Film yang Dibintangi Vino G. Bastian dan Marsha Timothy

Di sinilah dilema perempuan modern muncul: Mandiri secara prinsip, namun masih merasa harus menyesuaikan diri dengan standar cinta yang dikonstruksi media sosial.

Pada akhirnya, media sosial seharusnya diposisikan sebagai inspirasi, bukan sebagai standar mutlak dalam membangun relasi asmara.

Hubungan yang sehat tidak diukur dari kemewahan atau estetikanya di depan kamera, melainkan dari kualitas komunikasi, kejujuran, dan rasa saling menghargai antara dua individu.

Baca Juga: Unggah Konten Ramadhan Bahasa Indonesia, Instagram Paris Saint-Germain Ramai Diserbu Netizen

Sudah saatnya perempuan modern berani menentukan standar hubungannya sendiri.

Tidak perlu berlomba menjadi pasangan yang tampak sempurna di media sosial, melainkan fokus membangun kebahagiaan versi dirinya sendiri — tanpa dikendalikan oleh tren sesaat atau tekanan validasi digital.

Editor : Dharaka R. Perdana
#cara pandang #teknologi #perempuan #cinta #asmara