Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Perempuan Hebat Versi Netizen: Harus Kaya, Cantik, Mandiri, Tapi ....

Yessica Ajeng Paramitha • Jumat, 11 April 2025 | 22:52 WIB

Wanita pada era modern harus dituntut mandiri. (FREEPIK)
Wanita pada era modern harus dituntut mandiri. (FREEPIK)

RADAR TULUNGAGUNG - Menjadi perempuan di era sekarang bukan hanya tentang menjadi diri sendiri tetapi tentang memenuhi daftar panjang standar sosial yang makin hari makin tidak masuk akal.

Di tengah gempuran media sosial, perempuan seolah dituntut untuk tampil sempurna dalam segala aspek kehidupan.

Perempuan harus cantik sesuai beauty standard, punya penghasilan sendiri, karier mapan, sekaligus tetap punya sifat lembut, sabar, dan penurut dalam hubungan.

Baca Juga: Fenomena Marriage Is Scary dan Ketakutan Baru Perempuan Modern Terhadap Pernikahan, Apakah Wajar Takut Menikah?

Fenomena standar ganda ini kian marak di media sosial. Perempuan diharapkan kuat, mandiri, dan cerdas.

Namun, jika terlalu “menonjol” atau sukses, mereka justru sering diberi label negatif: terlalu keras, terlalu galak, terlalu mandiri, atau malah dianggap tidak butuh pasangan.

Survei Populix (2024) menunjukkan 72 persen perempuan di Indonesia merasa tertekan dengan ekspektasi sosial yang tak realistis terhadap mereka.

Baca Juga: Cinta Zaman Now: Standar Perempuan Modern, Pilihan Sendiri atau Hasil Doktrin Media Sosial?

Banyak dari mereka merasa harus tampil “sempurna” di berbagai situasi jadi wanita karier di tempat kerja, jadi pasangan yang penurut di rumah, jadi pribadi estetik di media sosial, dan tetap ramah di lingkungan sosial.

Tren seperti soft girl era, feminine energy, hingga high maintenance lifestyle bukannya tanpa dampak.

Karena semua itu secara tidak langsung memperkuat narasi bahwa perempuan layak dipandang hanya jika sesuai standar tertentu.

Baca Juga: “Selain Donatur Dilarang Ngatur”: Fenomena Perempuan Menolak Intervensi Tanpa Kontribusi

Standar ganda ini pada akhirnya lebih banyak merugikan perempuan itu sendiri.

Mereka dipaksa untuk terus “cukup” cukup cantik, cukup sukses, cukup lembut, cukup pintar, tapi jangan berlebihan.

Di tengah perjuangan perempuan meraih kehidupan terbaik versi mereka sendiri, masih banyak suara-suara sumbang yang mempertanyakan pilihan hidup mereka.

Seolah-olah standar kebahagiaan perempuan hanya valid jika sesuai dengan ekspektasi masyarakat.

Pada akhirnya, perempuan tidak perlu mengejar standar kesempurnaan yang dibuat dunia luar.

Setiap perempuan berhak menentukan jalan hidupnya sendiri, memilih standar kebahagiaannya sendiri, tanpa harus selalu patuh pada tekanan sosial yang tidak realistis. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#perempuan modern #Populix #perempuan #netizen