Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Ancaman Sampah Digital, Sudahkah Kita Peduli?

Sefia Putri Nurhidayah • Selasa, 8 Juli 2025 | 14:30 WIB

 

Sampah digital yang kurang menjadi perhatian, menyumbang dampak negatif yang membahayakan bagi manusia dan lingkungan.
Sampah digital yang kurang menjadi perhatian, menyumbang dampak negatif yang membahayakan bagi manusia dan lingkungan.

TULUNGAGUNG -Sampah digital menjadi momok bagi kerinduan alam.

Terlebih lagi di era yang serba digital seperti saat ini, manusia kesulitan untuk memilih meninggalkan produk-produk teknologi digital.

Teknologi digital telah merevolusi cara kita hidup, bekerja, dan berkomunikasi.

Pandemi beberapa tahun lalu memberikan dampak signifikan terhadap transformasi penggunaan produk digital secara masif.

Sistem perkuliahan tatap muka beralih ke pembelajaran yang berani, dan perusahaan mulai menerapkan sistem kerja WFH (work from home) demi sekejap.

Transformasi digital yang berlangsung relatif cepat juga memiliki sisi negatif yang sering diabaikan. Aktivitas digital memicu timbulnya sampah digital.

Tidak seperti sampah fisik pada umumnya, sampah digital cenderung tidak terlihat oleh banyak orang. Namun dampaknya terhadap lingkungan sangat besar.

Barang elektronik yang dibuang, hingga pusat data yang boros energi, dapat memicu krisis lingkungan serius jika tidak segera ditangani.

Baca Juga: Koneksi yang Tak Terlihat di Tulungagung, Dampak yang Terasa: Jaringan, Nyawa Kehidupan Digital Masa Kini

Semakin banyak instansi yang melabeli prinsip “ramah lingkungan” dengan mengganti dokumen kertas menjadi dokumen digital.

Padahal, pemberian dokumen kertas ke bentuk digital juga menyumbangkan peningkatan kapasitas limbah digital.

Dengan kata lain, pengurangan sampah kertas justru dapat berakhir pada peningkatan limbah beracun akibat penggunaan produk digital secara masif.

Jejak karbon yang dihasilkan oleh teknologi digital kini bahkan lebih besar dibandingkan dengan industri penerbangan.

Dilansir dari laman  Waste4Change.com , limbah elektronik terdiri atas berbagai unsur berharga sekaligus berbahaya, seperti logam berat, merkuri, polivinil klorida (PVC), kadmium, papan sirkuit cetak, serta penghambat api yang mengandung bromin.

Limbah elektronik dapat membahayakan kesehatan.

Beberapa dampak yang ditimbulkan antara lain kerusakan otak, kanker kulit, penurunan IQ, dan gagal ginjal. Selain itu, limbah elektronik yang tidak diolah dengan tepat berpotensi mencemari ekosistem.

Baca Juga: Ancaman Siber Mengintai Tulungagung: Masyarakat Diimbau Waspada, Jangan Sampai Jadi Korban Dunia Digital

Pendorong utama meningkatkan limbah elektronik adalah produksi produk digital dengan masa pakai terbatas.

Kerakusan konsumsi terhadap produk digital, yang tidak diimbangi dengan pengelolaan limbah digital yang mampu, menyebabkan ketimpangan.

Munculnya barang elektronik murah dengan masa pakai singkat turut mendorong peningkatan permintaan pasar.

Promosi besar-besaran melalui media sosial memperkuat budaya konsumtif yang tidak perlu.

Model gawai yang diperbarui setiap tahun pun diperparah dengan rendahnya kesadaran konsumen terhadap dampak limbah digital.

Upaya mengatasi sampah digital tidak hanya dapat mengandalkan pemerintah dalam merumuskan regulasi atau kebijakan mengenai optimalisasi penggunaan produk digital dan pengelolaan limbahnya. 

Masyarakat juga harus ikut berpartisipasi, salah satunya dengan memperpanjang masa pakai produk digital.

Mengadopsi kebiasaan digital yang berkelanjutan dan mendukung kebijakan teknologi ramah lingkungan merupakan langkah konkret untuk mengurangi polusi lingkungan akibat penggunaan produk digital. (*)

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#digital #sampah