RADAR TULUNGAGUNG – Dalam beberapa bulan terakhir, keluhan masyarakat mengenai panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal semakin sering terdengar.
Gangguan berupa panggilan dari nomor asing yang muncul berulang kali ini membuat orang merasa resah, bahkan menimbulkan kekhawatiran terhadap keamanan data pribadi. Fenomena ini dikenal sebagai SPAM Call atau telepon SPAM.
SPAM singkatan dari Sending and Posting Advertisement in Mass. awalnya hanya diketahui sebagai pesan masal dalam bentuk email.
Namun, seiring berkembangnya teknologi digital, SPAM kini tidak hanya terbatas pada pesan lewat surat elektronik.
Saat ini, bentuk spam juga muncul di media sosial, aplikasi perpesanan, hingga panggilan langsung ke nomor ponsel pribadi.
Bagi banyak orang, gangguan seperti ini merasa mengganggu ketenangan, bahkan bisa berpotensi menyebabkan kerugian jika digunakan sebagai cara penipuan.
Mengapa Telepon Spam Bisa Terjadi?
Telepon asing masuk ke nomor pribadi bukan terjadi secara acak. Ada beberapa hal yang membuat informasi seseorang, terutama nomor telepon, bisa dengan mudah diakses oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Adapaun penyebabnya sebagai berikut :
Baca Juga: Waspada Voice Phishing! Penipuan Lewat Telepon Semakin Marak, Warga Harus Tahu
1. Kebocoran Data Pribadi
Salah satu penyebab utama adalah kebocoran data dari perusahaan, lembaga, atau aplikasi tempat masyarakat pernah mendaftar.
Lemahnya sistem keamanan siber membuat data pelanggan rawan diretas. Begitu datanya bocor, nomor telepon bisa saja diperjualbelikan dan akhirnya digunakan oleh spammer.
2. Registrasi di Situs atau Aplikasi Tidak Aman
Banyak masyarakat yang tanpa pikir panjang mendaftarkan nomor telepon pada situs atau aplikasi tertentu.
Padahal, tidak semua layanan digital memiliki kebijakan privasi yang jelas. Ada platform yang justru memonetisasi data pengguna dengan cara menjualnya kepada pihak ketiga.
3. Penjualan Data oleh Pihak Tertentu
Selain kebocoran data, ada juga praktik penjualan data yang dilakukan secara sengaja. Beberapa agen data atau aplikasi sering meminta izin akses dengan cara yang tidak terang, melalui syarat dan ketentuan yang biasanya tidak dibaca oleh pengguna.
Akibatnya, nomor telepon pengguna bisa dengan mudah disalahgunakan oleh pihak pemasar yang aktif mengumpulkan data.
Baca Juga: Bisa Dicoba, Cara Membuat Status WhatsApp (WA) Jernih Kualitas HD
4. Penyebaran Data di Media Sosial
Kebiasaan masyarakat mencantumkan nomor telepon di media sosial atau forum publik juga berisiko besar.
Nomor yang terlihat secara terbuka bisa dengan mudah diizinkan oleh bot maupun individu untuk digunakan dalam kampanye pemasaran, bahkan modus penipuan.
5. Masuk Daftar Target Promosi
Tanpa disadari, masyarakat bisa masuk dalam daftar target telemarketing karena pernah mengisi data pribadi pada acara promosi, undian, atau pameran tertentu. Nomor tersebut kemudian dipakai perusahaan untuk terus-menerus menawarkan produk.
Semua faktor itu menunjukkan bahwa SPAM telepon terjadi akibat lemahnya perlindungan data pribadi dan rendahnya kewaspadaan pengguna.
Baca Juga: Cara Menggunakan AI dengan Bijak untuk Belajar, Rahasia Pelajar Cerdas di Era Digital
Cara Efektif Menghindari Telepon SPAM
Meski sulit dihilangkan sepenuhnya, masyarakat sebenarnya bisa mengambil langkah-langkah sederhana untuk mengurangi risiko gangguan telepon SPAM. Berikut beberapa cara yang bisa diterapkan sehari-hari:
1. Blokir Nomor Tak Dikenal
Setiap kali menerima telepon spam, segera masukkan nomor tersebut ke daftar blokir. Perangkat modern, baik Android maupun iOS, sudah memiliki fitur pemblokiran bawaan.
Beberapa aplikasi telepon bahkan dapat secara otomatis mengenali nomor yang mencurigakan sebagai spam.
2. Gunakan Aplikasi
Teknologi Anti-Spam bisa menjadi solusi. Aplikasi seperti Truecaller, Getcontact , dan sejenisnya mampu menampilkan identitas penelepon yang tidak dikenal.
Baca Juga: 5 Tips Meningkatkan Penjualan dengan WA Blast
Jika aplikasi mendeteksi nomor spam, pengguna bisa memilih untuk mengabaikan panggilan tanpa perlu mengangkat.
3. Jangan Sembarangan Memberikan Nomor Telepon
Selektivitas menjadi kunci. Hindari mendaftarkan nomor pada situs atau aplikasi yang tidak jelas keamanannya.
Pastikan platform digital memiliki kebijakan privasi yang tegas. Saat menghadiri acara promosi atau lotere, ingat kembali sebelum menuliskan nomor pada formulir.
4. Aktifkan Fitur Jangan Ganggu
Hampir semua ponsel memiliki fitur Jangan Ganggu. Dengan mengaktifkannya, pengguna dapat memfilter panggilan sehingga hanya menerima dari kontak tertentu. Cara ini terbukti efektif mengurangi gangguan dari nomor tunggal.
Baca Juga: Waspadai Penipuan Online via WhatsApp, Ini Langkah-Langkah yang Harus Dilakukan
5. Abaikan Panggilan Mencurigakan
Tips paling sederhana, jangan angkat telepon yang mencurigakan. Menjawab panggilan spam justru memberi sinyal bahwa nomor aktif digunakan, sehingga spammer akan lebih sering menargetkan kembali.
Fenomena maraknya telepon spam memberikan gambaran jelas bahwa kesadaran masyarakat dalam menjaga data pribadi masih perlu ditingkatkan.
Banyak warga yang belum menyadari bahwa tindakan sederhana, seperti membagikan nomor di media sosial atau asal mendaftar aplikasi, bisa membuka celah khusus.
Di sisi lain, pemerintah bersama penyedia layanan telekomunikasi sebenarnya telah menyediakan sejumlah aturan dan fitur untuk melindungi pengguna. Namun perlindungan dari luar tidak akan maksimal jika masyarakat sendiri abai dalam menjaga privasi.
Baca Juga: Deepfake Berbasis AI Ancam Privasi dan Identitas Digital, Ini Penjelasannya!
Pengamat teknologi komunikasi menilai, langkah paling mendasar adalah edukasi digital. Masyarakat harus paham bahwa data pribadi merupakan aset penting yang tidak boleh sembarangan diberikan.
Sama halnya dengan identitas diri, nomor telepon pun bisa dipakai untuk berbagai kepentingan, baik yang sah maupun yang merugikan.
Panggilan spam bukan hanya sekadar gangguan komunikasi, melainkan peringatan alarm agar masyarakat lebih peduli dengan keamanan data pribadinya.
Melalui langkah-langkah pencegahan yang konsisten, gangguan dapat ditekan, dan masyarakat dapat kembali menggunakan ponselnya dengan tenang tanpa menghubungi telepon asing yang tidak diinginkan. ****
Editor : Dharaka R. Perdana