RADAR TULUNGAGUNG – Di tengah gelombang transformasi digital yang semakin pesat, sistem operasi Linux terus menjadi sorotan utama.
Dari perangkat superkomputer tercanggih hingga gawai yang kita gunakan sehari-hari, keberadaan Linux tak bisa dimungkiri sebagai tulang punggung inovasi.
Memahami sejarah Linux adalah kunci untuk mengapresiasi bagaimana sistem operasi open source ini berhasil mengukuhkan posisinya, menawarkan stabilitas, keamanan, dan efisiensi yang tak tertandingi di berbagai sektor teknologi global.
Baca Juga: Kenapa Baterai Smartphone Cepat Rusak? Ini Penyebabnya Menurut Sains!
Sejarah Linux bermula pada tahun 1991, ketika seorang mahasiswa ilmu komputer bernama Linus Benedict Torvalds dari Universitas Helsinki memulai sebuah proyek pribadi yang bertujuan untuk menciptakan kernel sistem operasi gratis.
Ide utamanya adalah membangun sistem yang menyerupai Unix namun tanpa lisensi berbayar, memberikan kebebasan bagi penggunanya untuk memodifikasi kode sumber (source code).
Inisiatif ini selaras dengan semangat komunitas GNU (GNU’s Not Unix) yang digagas oleh Richard Stallman pada tahun 1983, yang berjuang untuk menciptakan sistem operasi yang bebas dan terbuka. Kolaborasi ini pada akhirnya membentuk apa yang kita kenal sekarang sebagai GNU/Linux.
Perjalanan sejarah Linux selanjutnya ditandai dengan pertumbuhan yang konstan dan dukungan komunitas global yang luas.
Sifat open source dan ketersediaannya secara gratis memungkinkan ribuan programmer dari seluruh dunia untuk berkontribusi dalam pengembangannya, melihat program asal, mengubah, dan menyarankan perbaikan secara terus-menerus.
Fleksibilitas ini tidak hanya menarik bagi individu, tetapi juga bagi perusahaan-perusahaan besar yang mulai menginvestasikan sumber daya signifikan, mengubah lanskap teknologi secara drastis.
Asal Mula dan Perkembangan Awal Linux
Linus Torvalds memulai proyek kernel Linux pada Agustus 1991 untuk PC barunya yang menggunakan prosesor 80386, dengan pengembangan dilakukan pada MINIX menggunakan GNU C Compiler. Pada 25 Agustus 1991,
ia mengumumkan sistem ini di Usenet, menawarkan source code yang telah dia buat dan mengundang para programmer untuk berpartisipasi. Versi 0.02 kemudian dirilis pada 5 Oktober 1991.
Awalnya, Linus ingin menamai penemuannya "Freax", namun Ari Lemmke, seorang administrator server FTP di Universitas Teknologi Helsinki, mengganti namanya menjadi "Linux" pada September 1991, yang kemudian disetujui oleh Linus.
Seiring perkembangannya, kernel Linux versi 2 dirilis pada Desember 1992 di bawah lisensi GNU General Public License (GPL), menjadikannya sistem operasi yang utuh.
Baca Juga: iPhone 17 Usung Desain Super Tipis dan Fitur AI Canggih, Bakal Jadi Game Changer!
Pada tahun 1993, lebih dari 100 developer bergabung, dan Slackware menjadi distribusi komersial pertama, diikuti oleh Debian. Puncaknya pada 14 Maret 1994, Linux (GNU/Linux) dirilis secara komplit setelah tiga tahun masa pengembangan.
Logo penguin ikonik, Tux, secara resmi diumumkan pada tahun 1996, yang menjadi ciri khas dari Linux.
Karakteristik dan Keunggulan yang Mendorong Dominasi
Linux dikenal karena stabilitas, keamanan, dan efisiensinya. Sistem operasi ini bersifat multitasking, mampu menjalankan lebih dari satu proses secara bersamaan, dan multiuser, memungkinkan banyak pengguna login ke sistem secara simultan tanpa saling mengganggu.
Baca Juga: Melindungi Data Pribadi dari Jejak Digital, Ini Fakta Mengejutkan yang Bisa Membocorkan Privasi!
Keamanan yang baik terlihat dari aturan permission pada manajemen pengguna dan grup, sehingga setiap pengguna memiliki hak akses yang berbeda dan terlindungi dari virus DOS atau Windows.
Sebagai sistem open source dan freeware, Linux dapat digunakan dan disebarluaskan tanpa royalti, serta kode sumbernya dapat dilihat dan diubah sesuai kebutuhan.
Keunggulan lain termasuk persyaratan hardware yang minimal, skalabilitas yang tinggi (dapat berjalan di perangkat kecil hingga superkomputer), proses instalasi yang mudah, booting yang cepat, serta pembaruan rutin. ****
Editor : Dharaka R. Perdana