RADAR TULUNGAGUNG - Dunia kecerdasan buatan (AI) kembali dikejutkan dengan terobosan besar dari China.
Pada awal September 2025, para peneliti teknologi dari Negeri Tirai Bambu resmi merilis Spikingbrain 1.0.
Sebuah sistem AI revolusioner yang dirancang untuk bekerja seperti otak manusia dan yang paling mengejutkan, AI ini tidak bergantung sama sekali pada chip Nvidia.
Spikingbrain 1.0 merupakan bagian dari pengembangan teknologi neuromorfik, yang meniru struktur dan cara kerja jaringan saraf otak manusia. Berbeda dengan AI konvensional yang berbasis GPU dan deep learning,
Spikingbrain 1.0 menggunakan pendekatan berbasis sinyal saraf (spiking neural networks/SNN), yang membuatnya lebih hemat energi dan efisien dalam pemrosesan data real-time.
Baca Juga: Gemini AI 2.5 vs ChatGPT: Siapa yang Lebih Pintar, Lebih Cepat, dan Lebih Berguna di Dunia Nyata?
"Kami percaya ini adalah langkah besar menuju AI yang lebih alami, efisien, dan mandiri secara teknologi,"ujar salah satu peneliti dari tim pengembang dalam konferensi pers di Beijing.
Beberapa keunggulan Spikingbrain 1.0 dibandingkan AI konvensional antara lain:
• Konsumsi daya yang jauh lebih rendah
•Latensi lebih rendah untuk pengambilan keputusan cepat
•Desain sistem yang lebih adaptif dan scalable
•Potensi aplikasi luas dalam robotika, kendaraan otonom, dan militer.
Baca Juga: 10 Pekerjaan yang Tidak Bisa Digantikan oleh AI, Ini Alasannya!
Dampak Global
Dengan hadirnya Spikingbrain 1.0, para analis teknologi memperkirakan akan terjadi pergeseran arah dalam pengembangan AI global.
Negara-negara lain mungkin mulai mempertimbangkan pengembangan chip dan sistem AI yang lebih independen, sambil memperhitungkan efisiensi dan keamanan data.
Sementara itu, Nvidia, yang selama ini memonopoli pasar GPU untuk AI, belum mengeluarkan komentar resmi terkait teknologi ini. ****
Editor : Dharaka R. Perdana