TULUNGAGUNG - Teknologi kecerdasan buatan (AI) terus berkembang pesat, dan salah satu produk terbaru yang menggemparkan adalah Sora 2 dari OpenAI.
Sora 2 ini bisa membuat video dari teks (“text-to-video”) dengan tingkat realisme yang luar biasa.
Tapi pertanyaannya: apakah video Sora sudah tidak bisa dibedakan dari video nyata?
Berikut update terbaru tentang Sora, fitur-fitur baru, tantangan yang muncul, dan bagaimana kita bisa membedakannya dari video asli.
Fitur Baru dan Peningkatan Realisme
1. Video Berdurasi Lebih Panjang & Kualitas Lebih Tinggi
Sora dulu dibatasi durasi dan resolusi, namun versi terbarunya memperpanjang durasi dan meningkatkan resolusi ke kualitas mendekati tayangan sinematik.
2. Sinkronisasi Audio dan Fisika Gerakan yang Lebih Baik
Gerakan karakter, efek suara, dan animasi latar belakang kini bekerja lebih mulus.
Misalnya orang berjalan, interaksi objek, pencahayaan dan bayangan terlihat lebih realistis.
3. Kontrol Likeness (“Cameo”) dan Izin dari Pemilik Gambar
Fitur “cameo” memungkinkan video menggunakan wujud seseorang jika mendapatkan izin.
OpenAI juga menghadirkan kontrol yang lebih ketat agar video tidak memakai karakter atau sosok publik tanpa izin.
4. Policy Hak Cipta & Pembatasan untuk Karakter Berlisensi
Karena kekhawatiran tentang penyalahgunaan, OpenAI mengubah kebijakan: pemilik hak cipta dapat mengatur penggunaan, menyetujui atau menolak penggunaan karakter mereka.
Apakah Sudah Tidak Bisa Dibedakan dari Video Asli?
Meskipun banyak peningkatan yang membuat video Sora sangat realistis, ada sejumlah aspek yang masih membedakan:
- Detail kecil yang masih kurang sempurna: Gerakan tubuh kompleks, interaksi objek fisik yang rumit, atau elemen latar yang sangat mendetail kadang masih terlihat “aneh” atau “tidak natural”.
- Rendering dan waktu pemrosesan: Beberapa pengguna melaporkan bahwa pembuatan video memakan waktu lama dan ada batasan kapasitas pemrosesan.
- Watermark dan kebijakan keamanan: OpenAI telah menambah kontrol dan memperbaiki watermark, tapi tetap ada risiko konten digunakan tanpa izin atau dilepas watermark-nya.
Isu Etika & Tantangan
Penyalahgunaan konten menggunakan wajah karakter publik atau figur yang sudah meninggal.
Potensi disinformasi: video yang terlihat nyata bisa digunakan untuk menyebarkan berita palsu.
Sora AI telah membuat lompatan besar dalam menghasilkan video yang sangat realistis dari teks, kelebihannya kini hampir mendekati video asli dalam beberapa aspek.
Tapi meski sudah “hampir nyata”, masih ada batasan teknis dan etika yang membedakan Sora dari video yang dibuat dengan kamera nyata.
Jadi, jawaban atas pertanyaan “apakah Sora sekarang non-AI atau bukan?” adalah: masih AI, tapi makin sulit dibedakan.
Ketelitian, kontrol kualitas, dan regulasi akan menjadi penentu sejauh mana AI seperti Sora digunakan secara bertanggung jawab.***
Editor : Vidya Sajar Fitri