TULUNGAGUNG - Perdebatan mengenai apakah HP China saat ini menawarkan teknologi yang lebih unggul dibandingkan dengan produk terbaru Apple, seperti yang dinantikan pada iPhone 17, kini semakin memanas di kalangan penggemar gadget.
Para penggemar gadget mempertanyakan apakah kenaikan harga produk Apple masih sebanding dengan inovasi yang ditawarkan.
Secara teknologi, terutama dalam dua tahun terakhir, handphone Apple dianggap mulai tertinggal, khususnya jika dibandingkan dengan inovasi yang dibawa oleh HP China dan pabrikan Korea.
Meskipun demikian, HP China masih harus berjuang keras untuk menandingi kekuatan ekosistem yang sulit dilawan serta prestise yang telah dibangun kuat oleh iPhone, terutama di pasar global.
Analisis dari para ahli teknologi menunjukkan bahwa jika dilihat dari sisi teknologi semata, Apple mengalami keterlambatan yang signifikan, terutama dalam pengembangan kecerdasan buatan (AI).
Ketinggalan Apple dari sisi AI terjadi karena mereka baru menyadari pentingnya AI setelah Google menjalin kerja sama pengembangan AI, yaitu Gemini, dengan Samsung di tahun pertama dan menyebarkannya ke seluruh perangkat Android pada tahun kedua.
Baca Juga: Roadmap AI Nasional dan Lisensi TikTok Kembali, Indonesia Siap Menggenjot Era Teknologi 2025
Keterlambatan ini membuat Apple sempat "membanting setir" fokus dari kacamata Virtual Reality (VR) yang mereka buat sebelumnya.
Kesenjangan teknologi ini terlihat jelas dalam fitur-fitur yang kini banyak digunakan, misalnya kemampuan pengeditan foto.
Para pengguna perangkat berbasis Android, termasuk HP China, sudah dapat menghapus objek atau orang di belakang foto dengan hasil yang bersih, sementara kemampuan serupa di Apple masih tertinggal.
Selain AI, sektor fotografi, khususnya teknologi tele, juga masih dipegang teguh oleh brand-brand dari China.
Salah satu contohnya adalah Huawei, yang bahkan sebelum dikenakan band oleh Amerika, sudah hampir menjadi merek dengan penjualan nomor satu di dunia, didorong oleh kemampuan kameranya yang berbeda.
Meskipun Huawei saat itu tidak membuat perangkat keras kamera sendiri (mereka bekerja sama dengan Leica), kerja sama ini adalah untuk menyetel kualitas gambar (tuning),
dan pihak Leica mengakui bahwa Huawei pada dasarnya sudah melakukan banyak hal yang benar sesuai standar Leica, hanya membutuhkan sedikit penyesuaian pada pengujian flare.
Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan internal HP China dalam pengembangan hardware sangat tinggi.
Kekuatan teknologi HP China juga terlihat pada inovasi hardware yang berani, contohnya pada segmen foldable. Vivo, misalnya, dengan X Fold 5 menawarkan baterai 6.000 mAh dalam desain yang sangat tipis, menjadikannya foldable dengan baterai terbesar di pasar lokal Indonesia.
Mereka juga menyematkan teknologi tele periskop dan ultrawide di kelas flagship. Dedy Irfan dari Jagat Review menyatakan bahwa secara hardware, kemampuan HP China jauh lebih unggul, namun masalah utamanya terletak pada software dan konsistensi ekosistem.
Produsen HP China seringkali masih berada di bawah bayang-bayang Apple, berusaha keras agar perangkat mereka tidak membuat pengguna iPhone kesulitan untuk pindah.
Mereka bahkan sering mempertanyakan bagaimana agar pengguna iPhone mau menggunakan produk mereka, padahal seharusnya pengguna akan pindah karena produk tersebut lebih baik, bukan karena mirip dengan yang lama.
Selain itu, masalah konsistensi juga menjadi tantangan besar. Brand China cenderung mengubah-ubah bentuk dan desain produk dari tahun ke tahun, membuat konsumen bingung,
berbeda dengan Samsung dan iPhone yang mempertahankan identitas merek (brand identity) yang stabil dan fokus pada pengembangan di sektor lain.
Baca Juga: 5 Fakta Penting Launching Asus ROG Xbox Ally X yang Wajib Kamu Ketahui
Di sisi lain, keunggulan iPhone terletak pada ekosistemnya yang kokoh, menghubungkan semua produk Apple (MacBook, Apple Watch) dengan lancar melalui fitur seperti AirDrop.
iPhone juga masih unggul dalam prestige. Budaya mirror selfie (selfie di depan kaca) di mana handphone harus terlihat, menjadi poin penting yang membuat iPhone tetap dicari sebagai simbol status.
Namun, terlepas dari prestige dan ekosistem, HP China menghadapi tantangan finansial besar terkait pembaruan software. Biaya untuk satu kali pembaruan software (misalnya dari Android 14 ke 15) untuk satu tipe handphone dapat mencapai sekitar 1 miliar Rupiah.
Jika sebuah merek menjanjikan pembaruan selama 3 hingga 5 tahun, mereka harus menyiapkan dana miliaran Rupiah per tipe, dan ini sulit dilakukan jika margin keuntungan mereka sangat tipis, terutama untuk model non-flagship.
Inilah sebabnya brand besar seperti Samsung dan Apple, yang memiliki flagship kuat dengan margin besar, mampu menawarkan dukungan software yang panjang (Samsung 7 tahun, Apple 5 tahun).
Sementara penantian terhadap iPhone 17 diprediksi akan menimbulkan antrean gila-gilaan, terutama jika desainnya berbeda signifikan dari iPhone 16.
Banyak pengguna iPhone 15 yang menahan diri untuk tidak membeli 16 (karena terlambat masuk Indonesia) akan langsung melompat ke 17.
Namun, bagi mereka yang memprioritaskan teknologi hardware mutakhir, kapasitas baterai besar, dan fitur tele unggulan, HP China tetap menjadi pilihan utama, terutama sebagai handphone kedua.***
Editor : Vidya Sajar Fitri