Benarkah Semakin Banyak Kita Pakai AI, Semakin Besar Risiko Krisis Energi Digital di Masa Depan? Berikut Faktanya

Ilma Nurrahma • Dipublikasikan Senin, 20 Oktober 2025 | 03:13 WIB

Penggunaan AI secara berlebihan, termasuk permintaan tak efisien seperti perintah panjang yang tidak perlu, mulai memicu pembatasan dari data center. (Media Indonesia)
Penggunaan AI secara berlebihan, termasuk permintaan tak efisien seperti perintah panjang yang tidak perlu, mulai memicu pembatasan dari data center. (Media Indonesia)

RADAR TULUNGAGUNG Penggunaan sistem kecerdasan buatan (AI) seperti ChatGPT, Copilot, hingga Gemini kini menjadi bagian dari aktivitas harian jutaan pengguna di seluruh dunia.

Namun, di balik kemudahan itu, muncul kekhawatiran soal penggunaan yang berlebihan dan tidak efisien.

Salah satunya adalah kebiasaan pengguna yang terus-menerus memberikan perintah panjang yang tak perlu, atau mengulang instruksi hanya untuk memastikan AI "mengerti."

AIBaca Juga: Sora AI Terbaru, Apakah Video yang Dihasilkan Sudah 100 Persen CGI? Simak Fitur Unggulan, Kelebihan, dan Batasan Teknologinya

Pakar teknologi menyebut fenomena ini sebagai prompt inflation, yakni kebiasaan memperpanjang perintah (prompt) dengan frasa-frasa yang tidak memberikan nilai tambah,

seperti “Tolong buatkan saya X yang bagus banget, panjang, menarik, dan super lengkap, tolong ya.”

Meski terdengar sepele, kebiasaan ini jika dilakukan secara masif bisa meningkatkan beban sistem komputasi AI secara drastis.

Sebab, tiap permintaan ke AI memerlukan pemrosesan kompleks oleh model bahasa besar (LLM) di server pusat.

Artinya, makin berat permintaannya, makin besar pula daya komputasi dan energi yang dikonsumsi.

Baca Juga: AI dalam Industri Musik, Dari Pembuatan Lagu hingga Suara Penyanyi Virtual yang Mengubah Dunia Hiburan

Menurut laporan International Energy Agency (IEA), konsumsi listrik global oleh data center akan berlipat dua menjadi 945 TWh pada 2030. Sebagian besar lonjakan dipicu oleh pemrosesan AI dan machine learning.

Sementara menurut Goldman Sachs, permintaan daya untuk AI bisa naik 160% pada 2030,

dengan satu permintaan ke ChatGPT mengonsumsi hingga 2,9 watt-jam energi hampir 10 kali lebih besar dari pencarian Google biasa.

Akibat tingginya konsumsi ini, beberapa layanan AI kini menerapkan sistem antrean atau pembatasan akses, bukan karena "ramai", tetapi karena keterbatasan kapasitas energi dan server.

Baca Juga: Roadmap AI Nasional dan Lisensi TikTok Kembali, Indonesia Siap Menggenjot Era Teknologi 2025

Kesadaran Pengguna Sangat Dibutuhkan

Solusinya? Gunakan AI secara efisien dan bijak. Hindari perintah yang terlalu panjang tanpa arah, dan prioritaskan kejelasan serta ketepatan dalam komunikasi.

Tak kalah penting, pahami bahwa AI bukan robot tak terbatas ia bekerja lewat jaringan data center yang nyata, memerlukan energi, dan berdampak pada lingkungan.

“Mengetik ‘tolong banget buatkan saya artikel super lengkap, panjang, detail, bagus banget, ya tolong’ tidak membuat hasil lebih baik dari ‘buatkan artikel lengkap tentang X’. Justru itu membebani server.  *****

Editor : Dharaka R. Perdana
Sumber : DIOLAH
Chat GPT promt Gemini AI ai dunia teknologi AI 2025