RADAR TULUNGAGUNG - Dunia digital global dikejutkan oleh gangguan layanan besar-besaran yang terjadi pada Senin (20/10) hingga Selasa dini hari.
Aplikasi populer yang banyak digunakan di seluruh dunia, seperti Canva, Zoom, dan Roblox, mengalami gangguan akses secara massal dan tidak dapat diakses.
Biang kerok di balik kekacauan ini adalah permasalahan serius pada platform cloud terkemuka, Amazon Web Services (AWS), khususnya di wilayah utamanya, US-East-1, Virginia.
Insiden ini, yang menyebabkan AWS down dalam skala yang luas, dengan cepat menyoroti betapa rentannya infrastruktur internet global terhadap kegagalan tunggal pada penyedia layanan utama.
Baca Juga: 5 Alasan Utama Gen Z Lebih Memilih Aplikasi AI, Gaya Hidup Digital yang Mewakili Generasi Sekarang
Lonjakan laporan pengguna mengenai kegagalan berbagai aplikasi terkenal ini mulai terjadi sekitar pukul 14.30 WIB.
Permasalahan utama yang menyebabkan AWS down pertama kali terdeteksi pada Domain Name System (DNS) layanan database AWS, yaitu DynamoDB. DNS, yang sering diibaratkan sebagai "buku telepon internet," bertanggung jawab menerjemahkan nama website menjadi alamat IP.
Ketika resolusi nama domain ini berhenti berfungsi, seluruh aplikasi dan layanan dapat lumpuh total, meskipun sistem tersebut dirancang dengan baik.
Lebih dari 70 layanan internal AWS dan lebih dari 1.000 perusahaan secara global terkena dampak masalah ini.
Gangguan yang dialami AWS down ini tidak hanya terjadi sebentar, melainkan berlangsung sepanjang hari, dengan durasi mencapai 15 jam.
Laporan awal gangguan ini pertama kali dilaporkan pada pukul 03.11 pagi waktu bagian timur AS (ET) di wilayah US-East-1 yang merupakan cluster cloud terbesar di dunia.
Meskipun AWS sempat menyatakan masalah DNS telah "sepenuhnya dimitigasi" pada pukul 06.35 pagi ET, masalah berlanjut hingga sore hari, dengan deteksi masalah API dan konektivitas lanjutan yang signifikan di beberapa layanan, termasuk EC2 dan Lambda.
Baru setelah pukul 06.00 sore ET, AWS menyatakan bahwa "semua layanan AWS kembali beroperasi normal".
Dampak Massal di Berbagai Sektor
Karena AWS adalah penyedia teknologi infrastruktur cloud terkemuka yang menguasai sekitar sepertiga pangsa pasar—mengungguli Microsoft dan Google, dampak dari gangguan ini terasa masif di berbagai sektor, baik di Amerika Serikat maupun internasional.
Layanan yang terdampak mencakup:
1. Media Sosial dan Hiburan
Snapchat, Disney+, Reddit, dan Hulu. Bahkan layanan Alexa milik Amazon juga terpengaruh.
2. Bisnis dan Finansial
Aplikasi seperti Venmo, Robinhood, dan bursa mata uang kripto Coinbase mengalami gangguan akses. Lloyds Banking Group di Inggris juga mengonfirmasi beberapa layanan mereka terdampak.
3. Transportasi dan Logistik
Lyft mengalami masalah di mana pengguna kesulitan memesan mobil karena aplikasi tidak dapat mendeteksi mobil.
Internal Amazon juga terganggu, di mana karyawan gudang dan pengemudi Flex melaporkan sistem internal offline, bahkan Seller Central (pusat bagi penjual pihak ketiga Amazon) ikut lumpuh.
United Airlines dan Delta Air Lines mengalami masalah check-in dan pengambilan bagasi.
4. Pemerintahan dan Pendidikan
Website pemerintah Inggris, termasuk Gov.uk dan bea cukai Inggris (HM Revenue and Customs), juga terimbas.
Canvas, platform pengajaran online yang digunakan untuk mengirim tugas, mengalami "gangguan layanan" yang berdampak besar pada pelajar dan fakultas.
5. Olahraga
Semi-Automated Offside Technology (SAOT) pada pertandingan Premier League antara West Ham United dan Brentford pada Senin malam tidak dapat digunakan pada awal pertandingan karena bergantung pada AWS.
Mike Chapple, profesor IT dari University of Notre Dame, menyebutkan bahwa DynamoDB adalah "salah satu buku catatan utama dari seluruh internet".
Menurutnya, data tampaknya aman, tetapi masalahnya terletak pada catatan yang memberi tahu sistem lain tempat mencari data mereka.
Baca Juga: Microsoft Resmi Hentikan Windows 10, Lalu Apa Solusi untuk Pengguna?
Ketergantungan pada Cloud dan Peringatan Jangka Panjang
Para ahli menekankan bahwa peristiwa seperti ini berfungsi sebagai peringatan serius mengenai ketergantungan dunia pada segelintir penyedia layanan cloud utama, yaitu Amazon, Microsoft, dan Google.
Rob Jardin, chief digital officer NymVPN, menyatakan bahwa masalah ini kemungkinan besar bukan disebabkan oleh serangan siber, melainkan "kesalahan teknis" yang memengaruhi salah satu pusat data utama Amazon.
Gangguan dapat terjadi ketika sistem kelebihan beban, dan karena begitu banyak aplikasi bergantung pada AWS, dampaknya menyebar dengan sangat cepat.
Ken Birman, profesor ilmu komputer dari Cornell University, berpendapat bahwa sebagian tanggung jawab juga berada di tangan perusahaan pengguna AWS.
"Perusahaan yang menggunakan Amazon belum cukup mengambil tindakan pencegahan yang memadai untuk membangun sistem perlindungan ke dalam aplikasi mereka," ujarnya.
Ia menekankan bahwa pengembang aplikasi seharusnya berinvestasi dalam sistem backup untuk aplikasi yang sangat penting yang berada di cloud.
AWS sendiri telah berjanji akan membagikan "ringkasan pasca-peristiwa AWS yang terperinci" untuk menjelaskan akar penyebab dan cakupan penuh masalah tersebut. ****
Editor : Dharaka R. Perdana