RADAR TULUNGAGUNG - Perkembangan Grok kian menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat.
Manipulasi gambar, foto, hingga video berbasis Grok kini semakin sulit dibedakan dari konten asli, bahkan berpotensi disalahgunakan untuk pornografi, penipuan, hingga pencemaran nama baik di media sosial.
Hal tersebut diungkapkan pakar keamanan siber, Alfons Tanujaya, dalam sebuah diskusi yang membahas maraknya penyalahgunaan Grok.
Menurutnya, pernyataan atau label larangan penggunaan konten oleh Grok, termasuk yang diunggah di platform media sosial, sejatinya tidak terlalu efektif secara teknis.
“Kalau hanya statement tidak memberi izin, itu lebih ke legal statement saja. Secara teknis, orang tetap bisa mengambil gambar dari platform lain lalu memanipulasinya dengan Grok,” kata Alfon.
Konten Grok Paling Rentan Terjadi pada Gambar
Alfon menjelaskan, saat ini manipulasi berbasis Grok paling banyak terjadi pada gambar dan foto, disusul video.
Sementara itu, teks relatif lebih mudah disaring meskipun tetap berpotensi disiasati.
“Kalau teks, sistem penyaringan sebenarnya lebih mudah. Tapi orang bisa ngakalin dengan mengganti huruf atau angka. Yang paling mengkhawatirkan justru manipulasi gambar oleh Grok,” ujarnya.
Menurutnya, ke depan video juga berpotensi menjadi sasaran utama manipulasi Grok seiring meningkatnya kapasitas komputasi dan sumber daya teknologi.
Saat ini, keterbatasan energi dan biaya masih menjadi penghambat utama pemrosesan video berbasis Grok.
Dampak Besar Grok terhadap Energi dan Lingkungan
Tak hanya berdampak pada keamanan digital, penggunaan Grok skala besar juga membawa konsekuensi serius terhadap lingkungan.
Alfons menyoroti konsumsi energi dan air oleh pusat data Grok yang sangat besar, terutama di negara maju.
“Pemrosesan gambar saja butuh energi luar biasa besar. Data center Grok menyedot listrik dan air bersih dalam jumlah besar, bahkan berdampak ke masyarakat sekitar,” jelasnya.
Ia menilai isu ini jarang disadari publik karena tertutup oleh pesatnya inovasi teknologi Grok yang terus berkembang.
Cara Mendeteksi Konten Grok bagi Orang Awam
Meski teknologi Grok semakin canggih, Alfons membagikan sejumlah cara sederhana untuk mengenali konten hasil manipulasi Grok, terutama bagi masyarakat awam.
Ciri umum konten Grok, kata dia, biasanya terlihat dari ketidaksesuaian logika fisik, pencahayaan yang janggal, atau detail tubuh yang tidak wajar.
Pada tahap awal, Grok sering menghasilkan jari berjumlah lebih dari lima, pencahayaan tidak sinkron, hingga ekspresi wajah yang kaku.
Namun, Alfons mengingatkan bahwa ciri-ciri tersebut semakin sulit ditemukan karena Grok terus belajar dan menyempurnakan hasilnya.
“Sekarang jarinya sudah rapi, matanya sinkron, gerakan bibir makin halus. Ke depan akan makin sulit dibedakan,” ujarnya.
Tips Aman Sebelum Menyebarkan Konten
Sebagai langkah paling realistis, Alfons menyarankan masyarakat tidak langsung menyebarkan konten yang diterima dari WhatsApp atau media sosial lain.
“Cara paling mudah, cek apakah konten itu diberitakan media mainstream atau tidak. Kalau ada di TV nasional atau media kredibel, relatif aman,” tegasnya.
Jika konten tersebut tidak ditemukan di media arus utama, masyarakat diminta berpikir dua kali sebelum menyebarkannya karena penyebar konten Grok juga dapat terseret masalah hukum.
Perlindungan Diri dari Penyalahgunaan Konten Grok
Alfons juga membagikan tips agar pengguna media sosial terlindungi dari penyalahgunaan konten pribadi oleh Grok.
Salah satunya adalah penggunaan watermark dinamis pada foto atau video penting.
“Sekarang watermark bisa dipindah-pindah karena Grok juga bisa menghapus watermark statis. Ini seperti kucing dan tikus,” katanya.
Selain itu, ia menekankan pentingnya literasi teknologi bagi orang tua untuk mengawasi aktivitas digital anak. Orang tua dituntut memahami teknologi agar tidak tertinggal dari anak-anaknya.
Dengan semakin masifnya penggunaan Grok, Alfons mengingatkan bahwa literasi digital menjadi kunci utama agar masyarakat tidak mudah tertipu, terprovokasi, atau menjadi korban manipulasi teknologi.***
Editor : Vidya Sajar Fitri