Berita
TULUNGAGUNG- Kehadiran Samsung Galaxy A57 5G akhirnya semakin dekat dengan pasar Indonesia. Smartphone kelas menengah terbaru dari Samsung ini dipastikan segera meluncur secara resmi setelah lolos sertifikasi TKDN. Perangkat tersebut tercatat dengan nomor model SM-A576B, yang mengonfirmasi bahwa Samsung Galaxy A57 5G siap meramaikan persaingan smartphone midrange di Tanah Air.
Kabar ini tentu menjadi angin segar bagi konsumen yang menanti generasi terbaru Galaxy A Series. Apalagi, Samsung Galaxy A57 5G membawa satu keunggulan yang cukup mengejutkan: desain paling tipis yang pernah dibuat Samsung untuk lini smartphone non-lipat.
Berdasarkan data sertifikasi TENAA, Samsung Galaxy A57 5G memiliki dimensi 161,5 mm x 76,8 mm dengan ketebalan hanya 6,9 mm. Angka ini menjadikannya smartphone Samsung paling tipis saat ini, hanya kalah dari Samsung Galaxy S25 Edge. Bobotnya pun tergolong ringan, sekitar 182 gram, menjadikannya yang paling ergonomis di antara Galaxy A Series generasi terbaru.
Desain Flagship, Rasa Kelas Menengah
Dari sisi desain, Samsung Galaxy A57 5G mengalami pembaruan visual yang cukup signifikan. Samsung tampak menyelaraskan bahasa desain Galaxy A dengan seri flagship terbarunya. Tampilan belakangnya disebut menyerupai desain Samsung Galaxy S26 non-Ultra yang sebelumnya bocor ke publik.
Modul kamera belakang kini berbentuk kapsul dengan tiga lensa tersusun vertikal, mengingatkan pada desain Samsung Galaxy Z Fold 4. Back cover dibuat rata dengan frame berbahan metal, memberikan kesan rapi dan solid. Strategi ini membuat Galaxy A57 5G tampil bak smartphone flagship, meski secara harga tetap bermain di kelas menengah.
Namun, pendekatan desain serupa flagship ini juga memiliki konsekuensi. Di satu sisi menguntungkan pengguna Galaxy A, tetapi di sisi lain berpotensi mengaburkan diferensiasi dengan lini Galaxy S.
Strategi Aman Samsung di Galaxy A Series
Dalam konteks industri, Samsung tampaknya memilih konsistensi visual ketimbang inovasi ekstrem. Galaxy A Series diposisikan sebagai tulang punggung penjualan global Samsung. Dengan volume penjualan besar dan segmentasi pengguna yang luas, Samsung cenderung bermain aman demi menjaga reputasi dan menekan risiko klaim purna jual.
Pendekatan ini membuat Samsung Galaxy A57 5G terasa sebagai produk yang “masuk akal”, stabil, dan aman untuk dibeli. Namun, daya tarik emosionalnya dinilai kurang kuat, terutama bagi pengguna Galaxy A55 atau A56 yang mempertimbangkan upgrade.
Kamera Masih Konservatif
Di sektor kamera, Samsung kembali menunjukkan sikap berhati-hati. Samsung Galaxy A57 5G masih belum dibekali kamera telefoto, padahal fitur ini mulai menjadi pembeda penting di kelas menengah atas. Beberapa kompetitor seperti Xiaomi, Oppo, dan Vivo sudah berani menghadirkan lensa telefoto di segmen serupa.
Galaxy A57 5G tetap mengandalkan kamera utama 50 MP dengan sensor Sony IMX906 atau Samsung GN5, lengkap dengan OIS. Kamera ultrawide meningkat menjadi 13 MP, didampingi kamera makro 5 MP, serta kamera depan 12 MP. Absennya kamera telefoto mempertegas upaya Samsung menjaga jarak dengan lini Galaxy S FE.
Performa Naik, Tapi Baterai Tetap Aman
Sektor performa menjadi area di mana Samsung terlihat lebih berani. Samsung Galaxy A57 5G dikabarkan menggunakan SoC baru berkode S5E865 atau Exynos 1680. GPU Exclipse 550 berbasis arsitektur AMD RDNA 3.5 disebut mampu meningkatkan performa grafis hampir dua kali lipat dibanding generasi sebelumnya.
Untuk layar, Samsung bekerja sama dengan TCL CSOT menghadirkan panel AMOLED fleksibel dengan bezel lebih tipis. Refresh rate tetap 120 Hz dengan sensor sidik jari di dalam layar.
Sementara itu, kapasitas baterai masih berada di kisaran 5.000 mAh dengan pengisian daya 45 watt. Samsung belum mengadopsi teknologi silicon-carbon, dengan alasan menjaga keamanan dan umur baterai jangka panjang.
Aman, Tapi Kurang Menggoda
Dari seluruh aspek, Samsung Galaxy A57 5G jelas bukan smartphone yang dirancang untuk membuat kejutan besar. Ini adalah produk yang matang secara strategi, aman secara positioning, dan stabil untuk pasar massal. Namun, bagi pengguna lama Galaxy A, peningkatannya mungkin terasa kurang signifikan.
Samsung tampaknya sadar betul batas inovasi yang ingin mereka ambil di kelas menengah. Pertanyaannya kini, apakah strategi aman ini masih cukup untuk bersaing di tengah agresivitas kompetitor?
Editor : Izahra Nurrafidah