RADAR TULUNGAGUNG – Motor listrik touring kini semakin membuktikan kemampuannya di perjalanan jarak jauh. Salah satu pengujian menarik datang dari perjalanan pulang-pergi Jakarta–Bogor sejauh 122 km yang menguji langsung performa motor listrik, terutama dari sisi riding mode.
Motor listrik touring dengan jarak tempuh 122 km ini mengandalkan dua mode berkendara utama, yakni High Regen dan High Torque. Kedua mode ini bukan sekadar fitur tambahan, melainkan benar-benar berpengaruh terhadap efisiensi baterai dan performa di jalan.
Dalam pengujian tersebut, motor listrik touring ini mampu menunjukkan fleksibilitas penggunaan, baik untuk perjalanan santai hemat energi maupun kebutuhan akselerasi tinggi di medan menanjak.
High Regen: Hemat Baterai dengan Regenerative Braking
Mode pertama yang diuji adalah High Regen. Mode ini berfungsi untuk mengoptimalkan efisiensi baterai dengan memanfaatkan sistem regenerative braking.
Teknologi ini bekerja dengan mengubah energi kinetik saat pengereman atau deselerasi menjadi energi listrik yang kemudian disimpan kembali ke baterai. Sistem ini mirip dengan yang digunakan pada mobil listrik modern.
Dalam praktiknya, indikator regen pada panel instrumen menunjukkan seberapa besar energi yang berhasil dikembalikan. Semakin tinggi indikator, semakin besar pula daya yang masuk kembali ke baterai.
Menariknya, saat melintasi jalur menurun di kawasan Bogor, kapasitas baterai bahkan sempat bertambah hingga sekitar 2 persen. Hal ini membuktikan bahwa mode High Regen efektif dalam menjaga daya selama perjalanan jauh.
Namun, mode ini juga memiliki konsekuensi. Karakter akselerasi terasa lebih berat dan kecepatan dibatasi di kisaran 60 km/jam. Hal ini membuatnya kurang ideal untuk kebutuhan cruising di jalan raya atau saat menghadapi tanjakan.
High Torque: Performa Maksimal untuk Tanjakan
Sebaliknya, mode High Torque menawarkan karakter berkendara yang jauh lebih agresif. Akselerasi terasa instan dengan torsi besar yang langsung terasa sejak putaran awal.
Mode ini sangat cocok digunakan saat menghadapi tanjakan atau saat membutuhkan tenaga lebih untuk menyalip kendaraan lain. Bahkan, motor listrik ini mampu mencapai kecepatan hingga 100 km/jam dengan relatif mudah.
Selama touring Jakarta–Bogor, mode High Torque menjadi pilihan utama karena memberikan pengalaman berkendara yang lebih responsif dan bertenaga.
Namun, penggunaan mode ini tentu berdampak pada konsumsi baterai. Penggunaan throttle penuh secara terus-menerus membuat daya baterai lebih cepat terkuras, terutama jika digunakan dalam kondisi lalu lintas yang tidak stabil.
Fleksibilitas Riding Mode Jadi Kunci
Kombinasi dua riding mode ini menjadi keunggulan utama motor listrik touring tersebut. Pengendara dapat menyesuaikan penggunaan mode sesuai kondisi jalan dan kebutuhan.
Saat melaju di jalan datar atau menurun, mode High Regen bisa dimanfaatkan untuk menghemat baterai. Sementara itu, mode High Torque digunakan saat membutuhkan performa maksimal.
Penggantian mode juga cukup praktis. Tombol pengaturan berada di sisi kanan setang, dengan syarat kecepatan kendaraan harus berada di bawah 30 km/jam saat melakukan perpindahan mode.
Bukti Motor Listrik Makin Andal untuk Jarak Jauh
Pengujian perjalanan sejauh 122 km ini menjadi bukti bahwa motor listrik kini tidak lagi terbatas untuk penggunaan jarak pendek. Dengan pengelolaan riding mode yang tepat, efisiensi dan performa bisa berjalan seimbang.
Selain itu, fitur seperti regenerative braking semakin memperkuat daya tahan baterai, terutama dalam kondisi jalan yang bervariasi.
Motor listrik touring kini bukan hanya soal hemat biaya operasional, tetapi juga soal teknologi yang mampu menyesuaikan kebutuhan pengendara di berbagai situasi.
Kesimpulan: Bukan Sekadar Gimmick
Fitur riding mode pada motor listrik terbukti bukan sekadar gimmick pemasaran. Penggunaan mode yang tepat dapat memberikan dampak signifikan terhadap pengalaman berkendara, baik dari sisi efisiensi maupun performa.
Dengan semakin berkembangnya teknologi, motor listrik diprediksi akan menjadi pilihan utama untuk mobilitas harian hingga perjalanan jarak menengah.
Editor : Ingge Nayla Ayu Karina