RADAR TULUNGAGUNG - Motor listrik swap battery Smooth The Sultan menjadi sorotan karena menawarkan konsep berbeda dari kebanyakan motor listrik di Indonesia. Tanpa perlu repot mengisi daya di rumah, pengguna cukup menukar baterai di stasiun swap, menjadikannya solusi praktis untuk mobilitas harian.
Baca Juga: Review Motor Listrik Selis MX HD: Desain Stylish, Baterai Tahan 50 Km, Cocok untuk Mobilitas Harian!
Motor listrik swap battery Smooth The Sultan ini hadir dengan desain retro klasik yang langsung mencuri perhatian. Tampilan depannya dilengkapi lampu full LED modern serta lampu kecil yang menyerupai Daytime Running Light (DRL) pada mobil. Kombinasi desain klasik dan teknologi modern ini membuatnya tampil unik di jalanan.
Tidak hanya soal desain, motor listrik swap battery Smooth The Sultan juga membawa sejumlah fitur menarik yang membuatnya semakin kompetitif di kelasnya. Dengan harga sekitar Rp24 jutaan, motor ini menyasar pengguna urban yang menginginkan kendaraan praktis tanpa ribet urusan charging.
Desain Retro dan Fitur Modern
Smooth The Sultan tampil dengan gaya retro klasik yang elegan. Penggunaan velg ring 12 serta sistem pengereman cakram di kedua roda menambah kesan modern sekaligus meningkatkan keamanan saat berkendara.
Pada bagian dashboard, motor ini sudah menggunakan speedometer full digital yang informatif. Pengendara juga dimanjakan dengan tiga mode berkendara, yakni Eco, Normal, dan Sport yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan.
Fitur tambahan lain yang cukup menarik adalah tombol mundur (reverse) yang sangat membantu saat parkir di ruang sempit. Selain itu, terdapat dua port USB untuk mengisi daya ponsel, menjadikannya lebih fungsional untuk penggunaan sehari-hari.
Tanpa Cas, Cukup Tukar Baterai
Keunggulan utama motor listrik swap battery Smooth The Sultan terletak pada sistem baterainya. Motor ini menggunakan baterai berkapasitas 72 volt 30 Ah yang tidak perlu dicas secara manual di rumah.
Sebagai gantinya, pengguna cukup menukar baterai di stasiun swap yang telah tersedia. Proses penukaran ini diklaim hanya membutuhkan waktu sekitar satu menit, jauh lebih cepat dibandingkan charging konvensional.
Sistem ini juga terintegrasi dengan aplikasi, sehingga pengguna dapat memantau ketersediaan baterai dan lokasi penukaran dengan mudah. Konsep ini dinilai sangat cocok untuk masyarakat perkotaan yang tidak memiliki akses charging di rumah.
Performa dan Jarak Tempuh
Dari sisi performa, motor listrik ini dibekali motor bertenaga 2.000 hingga 2.500 watt. Tenaga tersebut cukup untuk penggunaan harian di dalam kota dengan akselerasi yang responsif.
Untuk jarak tempuh, motor listrik swap battery Smooth The Sultan mampu menjangkau hingga 75 kilometer dalam sekali penggunaan baterai penuh. Sementara itu, kecepatan maksimalnya mencapai 75 km/jam, cukup untuk kebutuhan mobilitas perkotaan.
Dengan kombinasi tersebut, motor ini dapat menjadi alternatif kendaraan ramah lingkungan yang efisien dan ekonomis.
Biaya Operasional dan Skema Berlangganan
Menariknya, sistem swap battery pada motor ini menggunakan skema berlangganan atau pay-per-use. Pengguna cukup membayar biaya penggunaan baterai mulai dari Rp200 per kilometer.
Skema ini membuat pengguna tidak perlu memikirkan biaya penggantian baterai di masa depan. Selain itu, biaya awal pembelian motor juga bisa lebih terjangkau karena tidak dibebani harga baterai secara penuh.
Namun, model bisnis ini juga memerlukan ketersediaan infrastruktur swap battery yang memadai agar benar-benar praktis digunakan dalam jangka panjang.
Kesimpulan
Motor listrik swap battery Smooth The Sultan menawarkan konsep inovatif yang menjawab salah satu masalah utama kendaraan listrik, yakni waktu pengisian daya. Dengan sistem tukar baterai, pengguna bisa menghemat waktu dan lebih fleksibel dalam penggunaan.
Ditambah dengan desain retro modern, fitur lengkap, serta harga yang relatif terjangkau, motor ini berpotensi menjadi pilihan menarik di pasar motor listrik Indonesia.
Meski demikian, keberhasilan motor ini tetap bergantung pada ketersediaan jaringan swap battery yang luas dan mudah diakses. Jika infrastruktur mendukung, bukan tidak mungkin konsep ini akan menjadi tren di masa depan.
Editor : Ingge Nayla Ayu Karina