Review Samsung Galaxy A57 2026, desain makin tipis dan ringan tapi performa dinilai kurang signifikan. Worth it atau tidak?
RADAR TULUNGAGUNG - Kehadiran Samsung Galaxy A57 2026 langsung mencuri perhatian pasar, terutama bagi penggemar setia lini Galaxy A Series. Ponsel ini bahkan menjadi salah satu yang paling banyak ditanyakan, baik di kolom komentar maupun interaksi langsung dengan pengguna.
Namun di balik popularitasnya, muncul pertanyaan besar: apakah Samsung Galaxy A57 2026 benar-benar membawa peningkatan signifikan, atau sekadar penyegaran dari generasi sebelumnya?
Desain Jadi Daya Tarik Utama
Samsung tampaknya fokus besar pada sektor desain di Galaxy A57. Ponsel ini kini hadir lebih ringan dengan bobot sekitar 180 gram, atau sekitar 10 persen lebih ringan dibanding pendahulunya.
Selain itu, bodinya juga lebih tipis di angka 6,9 mm, memberikan kenyamanan lebih saat digenggam. Material premium tetap dipertahankan dengan penggunaan Gorilla Glass Victus Plus di bagian depan dan belakang serta frame aluminium.
Tak hanya itu, peningkatan juga terlihat pada sertifikasi ketahanan air yang kini mencapai IP68, lebih baik dari generasi sebelumnya. Artinya, perangkat ini lebih tahan terhadap air dan debu.
Bezel layar pun kini lebih tipis, membuat tampilan depan terlihat lebih modern dan mendekati desain flagship Samsung.
Performa Naik, Tapi Tidak Signifikan
Di sektor dapur pacu, Samsung Galaxy A57 dibekali chipset Exynos 1680, yang secara teknis merupakan peningkatan dari Exynos 1580 di Galaxy A56.
Namun, peningkatan ini dinilai tidak terlalu signifikan. Secara komposisi, hanya terjadi perubahan pada susunan core tanpa teknologi baru yang benar-benar revolusioner.
Dalam pengujian, performa memang mengalami peningkatan terutama di multi-core. Namun untuk gaming, hasilnya belum memuaskan. Game seperti Mobile Legends belum stabil di 120 fps, sementara game berat seperti Genshin Impact hanya berjalan di kisaran 40 fps dengan suhu perangkat yang cukup tinggi.
Baterai dan Pengisian Daya Masih Standar
Samsung masih mempertahankan kapasitas baterai 5.000 mAh pada Galaxy A57. Daya tahannya tergolong standar untuk kelas mid-range.
Dalam penggunaan harian, konsumsi baterai cukup normal, baik untuk streaming, navigasi, maupun gaming. Sementara itu, fast charging 45W mampu mengisi hingga 64 persen dalam 30 menit dan penuh dalam waktu sekitar 70 menit.
Kamera Minim Perubahan
Salah satu kritik utama pada Samsung Galaxy A57 2026 adalah sektor kamera yang nyaris tidak berubah dari generasi sebelumnya.
Ponsel ini masih mengandalkan konfigurasi kamera utama 50 MP, ultrawide 13 MP, dan makro 5 MP tanpa kehadiran lensa telephoto.
Hasil foto yang dihasilkan tetap khas Samsung, dengan warna cerah namun cenderung flat. Peningkatan justru terasa pada sektor video, terutama transisi zoom yang lebih halus dibandingkan pendahulunya.
Baca Juga: Review iQOO ZNR: Performa Kencang, Baterai Awet, tapi Kamera Kalah Fitur dari HP Vivo?
Software dan Fitur Tetap Jadi Kelebihan
Galaxy A57 sudah menjalankan One UI 8.5 dan dijanjikan mendapat dukungan update software hingga enam tahun.
Fitur lain seperti NFC, speaker stereo, Bluetooth 6, serta WiFi 6E juga sudah tersedia, menjadikannya tetap kompetitif di kelasnya.
Worth It atau Tidak? Ini Kesimpulannya
Secara keseluruhan, Samsung Galaxy A57 2026 membawa peningkatan yang lebih terasa di sisi desain dibandingkan performa.
Dengan harga pasar di kisaran Rp6,8 hingga Rp7 jutaan, ponsel ini masih tergolong layak, terutama bagi pengguna yang mengutamakan kenyamanan desain dan ekosistem Samsung.
Namun, jika dibandingkan dengan kompetitor di harga serupa, beberapa menawarkan spesifikasi yang lebih agresif, terutama di sektor performa dan kamera.
Bagi pengguna yang sudah nyaman dengan Samsung, Galaxy A57 tetap menjadi pilihan aman. Namun bagi yang mencari value terbaik, membandingkan dengan opsi lain bisa jadi langkah bijak.
Editor : Rangga Rizki Saputra