RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM – Persaingan HP murah kembali memanas di tahun 2026. Salah satu pendatang baru yang langsung mencuri perhatian adalah Tecno Spark 40. Smartphone ini viral karena desainnya disebut-sebut mirip iPhone 17 Pro, padahal harganya hanya di kisaran Rp 1 jutaan.
Dengan tampilan premium dan fitur melimpah, banyak yang penasaran: apakah Tecno Spark 40 benar-benar layak dibeli atau hanya sekadar menang di desain?
Berikut ulasan lengkap kelebihan dan kekurangan Tecno Spark 40.
Desain Mewah, Mirip HP Flagship
Kelebihan utama Tecno Spark 40 ada pada desainnya. Modul kamera belakang berbentuk segitiga besar membuat tampilannya sekilas menyerupai iPhone seri terbaru.
Desain bodinya terlihat clean dan elegan, bahkan terkesan seperti HP kelas Rp 5 jutaan. Ketebalannya hanya sekitar 7,67 mm dengan bobot 188 gram, sehingga nyaman digenggam untuk penggunaan harian.
Di kelas harga Rp 1 jutaan, tampilan seperti ini jelas menjadi nilai jual yang sangat kuat.
Layar 120Hz, Mulus di Kelas Murah
Masuk ke sektor layar, Tecno Spark 40 dibekali panel IPS berukuran 6,67 inci dengan refresh rate 120Hz.
Fitur ini tergolong mewah di kelas entry-level. Animasi terasa lebih halus, terutama saat scrolling media sosial seperti TikTok atau Instagram.
Meski resolusinya masih HD+ (S+), kualitas warna dan kecerahannya dinilai cukup baik untuk kebutuhan harian seperti streaming atau browsing.
Performa Cukup untuk Harian
Untuk dapur pacu, Tecno Spark 40 menggunakan chipset MediaTek Helio G91. Chipset ini memang bukan untuk gaming berat, namun cukup stabil untuk penggunaan sehari-hari.
Aktivitas seperti chatting, media sosial, hingga game ringan seperti Mobile Legends masih bisa dijalankan dengan lancar di setting rendah.
HP ini juga hadir dengan pilihan RAM 6 GB dan 8 GB, yang cukup lega untuk multitasking di kelas harga Rp 1 jutaan.
Baca Juga: Tecno Pova 6 Harga Turun Drastis Jadi Rp1,8 Jutaan, Spek Gaming dan Baterai 6000 mAh Bikin Kaget!
Kamera 50 MP, Cukup untuk Konten Harian
Di sektor kamera, Tecno Spark 40 membawa kamera utama 50 MP yang mampu menghasilkan foto cukup tajam di kondisi cahaya terang.
Untuk kamera depan, tersedia sensor 8 MP yang tergolong standar. Meski begitu, hasilnya masih layak untuk selfie dan video call.
Kemampuan video juga cukup stabil untuk pembuatan konten harian, meski bukan yang terbaik di kelasnya.
Baterai Jumbo dan Fast Charging 45W
Salah satu keunggulan lain dari Tecno Spark 40 adalah baterainya. Smartphone ini dibekali kapasitas 5200 mAh yang tergolong besar.
Tak hanya itu, Tecno juga menyematkan fitur fast charging 45W. Pengisian daya dari 0 hingga 100 persen diklaim hanya membutuhkan waktu sekitar 55 menit.
Kombinasi ini membuat HP ini cocok untuk pengguna dengan mobilitas tinggi.
Fitur Melimpah di Harga Murah
Tecno Spark 40 juga unggul di sektor fitur. Beberapa fitur yang ditawarkan antara lain:
NFC
Memudahkan transaksi digital.
Dual Speaker Stereo + DTS Sound
Memberikan pengalaman audio lebih imersif.
Side Fingerprint
Akses cepat dan praktis.
IR Blaster
Bisa digunakan sebagai remote TV atau AC.
Sertifikasi IP64
Tahan debu dan percikan air.
Android 15 + HiOS 15.1
Sistem operasi terbaru di kelasnya.
Dengan fitur selengkap ini, Tecno Spark 40 terasa seperti HP di kelas harga lebih tinggi.
Kekurangan yang Perlu Dipertimbangkan
Meski menarik, Tecno Spark 40 tetap punya beberapa kekurangan.
Resolusi layar masih HD+, belum Full HD. Panelnya juga masih IPS, bukan AMOLED. Chipset Helio G91 kurang cocok untuk game berat.
Selain itu, kamera depan hanya 8 MP dan modul kamera belakang yang besar berpotensi mudah tergores jika tanpa pelindung.
Worth It Dibeli?
Dengan harga Rp 1 jutaan, desain premium, layar 120Hz, baterai besar, dan fitur lengkap, Tecno Spark 40 bisa dibilang sangat worth it.
HP ini cocok untuk pengguna yang mencari smartphone murah dengan tampilan mewah, performa cukup, dan fitur kekinian.
Namun, jika Anda mengutamakan performa gaming tinggi atau kualitas layar terbaik, mungkin perlu mempertimbangkan opsi lain.
Kesimpulannya, Tecno Spark 40 unggul di desain dan fitur, serta layak dibeli di kelas entry-level.
Editor : Mohammad Ibnu Syafi