RADAR TULUNGAGUNG- Perbedaan baterai LiFePO4 dan lithium ion kini semakin banyak dicari pengguna sepeda listrik maupun motor listrik. Seiring meningkatnya penggunaan kendaraan listrik di Indonesia, pemilihan jenis baterai menjadi salah satu faktor penting yang menentukan performa, daya tahan, hingga kestabilan kendaraan saat digunakan harian.
Banyak pengguna kendaraan listrik masih bingung menentukan pilihan antara baterai LiFePO4 dan lithium ion. Keduanya memang sama-sama populer digunakan pada sepeda listrik maupun motor listrik, tetapi memiliki karakteristik yang berbeda.
Perbedaan paling mencolok antara baterai LiFePO4 dan lithium ion terletak pada grafik penangan daya saat digunakan. Hal tersebut berdampak langsung terhadap performa kendaraan listrik, terutama pada kecepatan dan kestabilan tenaga ketika baterai mulai berkurang.
Baterai LiFePO4 Punya Tenaga Lebih Stabil
Baterai LiFePO4 dikenal memiliki grafik daya yang cenderung stabil dari kondisi penuh hingga hampir habis. Saat baterai digunakan pada sepeda listrik, performa kendaraan tetap terasa konsisten meski kapasitas daya mulai menurun.
Grafik daya LiFePO4 cenderung datar dalam waktu yang lama sebelum akhirnya turun drastis mendekati kondisi habis. Kondisi tersebut membuat kecepatan kendaraan relatif stabil selama penggunaan.
Sebagai contoh, sepeda listrik yang menggunakan baterai LiFePO4 akan tetap mempertahankan top speed hampir sama dari awal hingga baterai mendekati habis. Hal itu menjadi salah satu alasan banyak pengguna memilih baterai jenis ini untuk kebutuhan mobilitas harian.
Selain performa yang stabil, baterai LiFePO4 juga dikenal memiliki tingkat keamanan yang lebih baik karena lebih tahan terhadap panas dan risiko overheat.
Baterai Lithium Ion Lebih Ringan dan Ringkas
Berbeda dengan LiFePO4, baterai lithium ion memiliki karakteristik grafik daya yang terus menurun sejak awal pemakaian. Artinya, performa kendaraan akan ikut berkurang seiring kapasitas baterai yang menipis.
Misalnya pada sepeda listrik 36 volt, saat baterai penuh kendaraan dapat melaju hingga 35 kilometer per jam. Namun ketika baterai mulai habis, kecepatannya bisa turun menjadi sekitar 28 hingga 29 kilometer per jam.
Meski begitu, baterai lithium ion memiliki keunggulan utama dari sisi ukuran dan bobot. Dengan kapasitas yang sama, baterai ini jauh lebih ringan dibandingkan baterai LiFePO4.
Sebagai gambaran, aki VRLA dengan berat sekitar 20 kilogram jika dikonversi menjadi baterai lithium ion hanya memiliki bobot sekitar empat kilogram. Perbandingan tersebut membuat kendaraan listrik terasa lebih ringan dan efisien saat digunakan.
Karena ukurannya yang lebih compact, baterai lithium ion juga lebih mudah diaplikasikan pada berbagai jenis kendaraan listrik modern.
LiFePO4 Lebih Berat tetapi Tahan Lama
Meski lebih stabil, baterai LiFePO4 memiliki bobot yang lebih berat dibandingkan baterai lithium ion. Perbandingan konversinya berada di kisaran satu banding tiga terhadap aki VRLA.
Artinya, jika aki konvensional memiliki berat 20 kilogram, maka baterai LiFePO4 masih berada di kisaran sekitar enam hingga tujuh kilogram. Angka tersebut memang lebih berat dibanding lithium ion, tetapi tetap jauh lebih ringan dibanding aki biasa.
Namun bobot tambahan tersebut sebanding dengan kestabilan tenaga dan usia pakai yang lebih panjang. Banyak pengguna kendaraan listrik memilih LiFePO4 karena dianggap lebih awet untuk penggunaan jangka panjang.
Selain itu, baterai LiFePO4 juga memiliki siklus pengisian ulang yang lebih tinggi sehingga lebih tahan digunakan dalam waktu lama.
Mayoritas Pengguna Masih Memilih Lithium Ion
Meski LiFePO4 menawarkan performa yang stabil, penggunaan baterai lithium ion masih mendominasi pasar kendaraan listrik. Hal itu karena ukuran yang lebih kecil dan bobot yang lebih ringan membuat kendaraan lebih praktis digunakan.
Banyak produsen maupun perakit baterai kendaraan listrik masih menggunakan lithium ion untuk memenuhi kebutuhan konsumen yang mengutamakan efisiensi dan desain ringkas.
Selain lebih ringan, harga baterai lithium ion juga cenderung lebih kompetitif dibanding LiFePO4 dengan kapasitas yang sama. Faktor tersebut membuat pengguna kendaraan listrik pema memilih jenis baterai ini untuk aktivitas sehari-hari.
Namun pemilihan baterai tetap harus disesuaikan dengan kebutuhan pengguna. Jika mengutamakan kestabilan performa dan daya tahan jangka panjang, LiFePO4 menjadi pilihan menarik. Sebaliknya, jika mengutamakan bobot ringan dan desain compact, baterai lithium ion bisa menjadi solusi yang lebih praktis.
Perkembangan teknologi baterai kendaraan listrik diperkirakan akan terus berkembang seiring meningkatnya penggunaan sepeda listrik dan motor listrik di Indonesia. Karena itu, pemahaman mengenai perbedaan baterai LiFePO4 dan lithium ion menjadi penting sebelum memutuskan membeli kendaraan listrik atau mengganti baterai.
Baca Juga: 5 Sepeda Listrik Terbaik Harga Rp2 Jutaan hingga Rp3 Jutaan, Cocok Buat Kerja dan Mobilitas Harian
Editor : Cholifatun Nisak