JAKARTA - Vivo kembali memperkuat lini smartphone kelas menengahnya lewat peluncuran Vivo Y300 Pro 5G di pasar China. Ponsel ini hadir sebagai penerus Vivo Y200 Pro dengan membawa desain premium, bodi tipis, serta baterai jumbo yang menjadi daya tarik utamanya.
Kehadiran Vivo Y300 Pro 5G langsung mencuri perhatian karena tampil berbeda dibanding kebanyakan smartphone di kelasnya. Vivo menghadirkan modul kamera bulat berukuran besar yang sekilas mirip dengan desain flagship Vivo X100 series.
Tak hanya tampil premium, Vivo Y300 Pro 5G juga tetap mempertahankan ciri khas Vivo yang dikenal gemar menghadirkan smartphone tipis dan nyaman digenggam. Meski membawa baterai berkapasitas besar, perangkat ini hanya memiliki ketebalan 7,69 mm dengan bobot sekitar 194 gram.
Baca Juga: Ribuan Jamaah Calon Haji Tulungagung Diberangkatkan, Tiga Batal, Satu Meninggal Dunia
Desain bodinya dibuat melengkung di sisi belakang sehingga terasa lebih ergonomis saat digunakan. Konsep tersebut membuat smartphone tidak terasa tajam maupun kaku ketika digenggam dalam waktu lama.
Layar AMOLED Curve 120 Hz
Vivo Y300 Pro 5G mengusung layar AMOLED 6,77 inci dengan desain 2.5D curved glass. Resolusinya sudah Full HD Plus dan mendukung refresh rate 120 Hz untuk memberikan pengalaman visual yang lebih mulus.
Salah satu keunggulan layarnya ada pada tingkat kecerahan yang sangat tinggi. Vivo mengklaim layar smartphone ini mampu mencapai brightness hingga 5.000 nits sehingga tetap nyaman digunakan di bawah sinar matahari.
Karena menggunakan panel AMOLED, Vivo juga menyematkan sensor sidik jari di dalam layar atau in-screen fingerprint untuk meningkatkan kesan modern dan premium.
Snapdragon 6 Gen 1 dan Android 14
Untuk sektor performa, Vivo Y300 Pro 5G ditenagai chipset Snapdragon 6 Gen 1 dengan fabrikasi 4 nanometer. Prosesor tersebut dipadukan GPU Adreno 710 yang diklaim cukup mumpuni untuk multitasking maupun gaming harian.
Ponsel ini menjalankan Android 14 berbasis OriginOS 4 untuk versi China. Jika nantinya dirilis secara global, besar kemungkinan Vivo akan menggunakan antarmuka Funtouch OS.
Vivo menyediakan beberapa pilihan memori, yakni RAM 8 GB dan 12 GB dengan kapasitas penyimpanan hingga 512 GB. Meski sudah menggunakan teknologi UFS, storage yang dipakai masih berjenis UFS 2.2.
Baterai 6.500 mAh di Bodi Super Tipis
Salah satu daya tarik terbesar Vivo Y300 Pro 5G terletak pada baterainya. Smartphone ini dibekali baterai jumbo 6.500 mAh yang tergolong besar untuk ukuran bodi setipis ini.
Baca Juga: Harga Daihatsu Sigra Tipe D 2026 Terbaru, Varian Termurah Kini Full Black dan Tetap Muat 7 Penumpang
Vivo mampu menghadirkan kapasitas besar tersebut berkat penggunaan teknologi baterai terbaru yang lebih padat energi. Baterainya juga sudah mendukung fast charging 80 watt sehingga proses pengisian daya bisa berlangsung lebih cepat.
Kombinasi baterai besar dan bodi tipis menjadi nilai jual utama Vivo Y300 Pro 5G, terutama bagi pengguna dengan mobilitas tinggi yang membutuhkan daya tahan lama tanpa harus membawa ponsel berat.
Kamera 50 MP dan Sertifikasi IP65
Di sektor fotografi, Vivo Y300 Pro 5G dibekali dua kamera belakang. Kamera utamanya menggunakan sensor Sony LYT600 beresolusi 50 megapiksel, ditemani sensor depth 2 megapiksel.
Meski belum dilengkapi OIS, kamera utama smartphone ini sudah mampu merekam video hingga resolusi 4K 30 FPS dan didukung fitur EIS untuk membantu stabilisasi video.
Sementara di bagian depan, tersedia kamera selfie 32 megapiksel yang dapat merekam video hingga 1080p 30 FPS.
Fitur lainnya yang turut melengkapi Vivo Y300 Pro 5G antara lain sertifikasi IP65 untuk ketahanan terhadap debu dan air, Aura Light, serta sensor sidik jari di dalam layar.
Namun ada beberapa fitur yang cukup disayangkan absen di versi China ini. Vivo Y300 Pro 5G belum dilengkapi NFC, speaker stereo, maupun jack audio 3,5 mm. Padahal fitur tersebut cukup penting bagi sebagian pengguna di kelas menengah.
Untuk harga, Vivo Y300 Pro 5G dijual mulai 1.799 yuan atau sekitar Rp 3,9 jutaan untuk varian 8/128 GB. Hingga saat ini belum ada informasi resmi apakah smartphone tersebut akan masuk ke pasar global termasuk Indonesia.
Editor : Dyah Wulandari