RADAR TULUNGAGUNG- Pengalaman menggunakan sepeda listrik di jalur tanjakan Kota Semarang dibagikan seorang kreator konten saat melakukan gowes santai sejauh 41 kilometer. Menariknya, sepeda listrik tersebut hanya menghabiskan satu bar baterai meski digunakan melewati rute menanjak dan jalan bervariasi.
Perjalanan menggunakan sepeda listrik itu dilakukan saat kondisi tubuh sedang kurang fit akibat cuaca yang tidak menentu. Namun, justru di situ efisiensi baterai dan kemampuan motor listrik diuji secara langsung di medan khas Semarang yang dipenuhi tanjakan.
Sepeda Listrik Dinilai Cocok untuk Medan Tanjakan
Dalam perjalanan tersebut, pengendara menggunakan sepeda listrik jenis Z16 untuk berkeliling kawasan Semarang hingga area kampus Undip. Motor listrik disebut hanya dipakai saat dibutuhkan, terutama ketika melewati tanjakan.
Menurutnya, penggunaan mode listrik secara bijak menjadi kunci utama agar baterai tetap hemat. Saat melintasi jalan datar, mode listrik dimatikan dan sepeda dikayuh secara manual seperti sepeda biasa.
“Kami memakai motor listriknya kalau dibutuhkan saja, terutama saat nanjak,” ujarnya dalam video perjalanan tersebut.
Rute yang dilewati juga cukup berat karena memiliki kombinasi tanjakan panjang dan jalan menurun. Meski demikian, sepeda listrik tetap mampu melaju dengan stabil tanpa mengalami kendala berarti.
Ia juga menyoroti kondisi cuaca yang kerap hujan sehingga sempat khawatir dengan komponen elektrikal sepeda. Meski bagian depan diklaim waterproof, pengguna tetap merasa waswas jika hujan turun saat perjalanan pulang yang didominasi jalur menanjak.
Baca Juga: 10 Sepeda Listrik Terbaik dari Xiaomi hingga Orbea, Ada yang Tembus Kecepatan 50 Km/Jam
Efisiensi Baterai Jadi Sorotan Utama
Salah satu hal yang paling menarik dari pengalaman gowes ini adalah efisiensi konsumsi baterai. Saat perjalanan dimulai, indikator baterai masih penuh. Setelah menempuh lebih dari 41 kilometer, baterai hanya berkurang satu bar dan masih menyisakan tiga bar daya.
Data tersebut menjadi bukti bahwa penggunaan mode eco dan pengoperasian motor listrik secara selektif mampu membuat daya tahan baterai jauh lebih irit.
“Kalau dipakai terus motor listriknya ya pasti boros, apalagi di rute tanjakan,” katanya.
Ia juga menjelaskan bahwa konsep sepeda listrik bukan sepenuhnya menggantikan kayuhan manual. Bantuan motor hanya digunakan untuk membantu tenaga pengendara saat menghadapi medan berat.
Dalam perjalanan itu, speedometer menunjukkan jarak tempuh akhir mencapai 41 kilometer. Pengguna memperkirakan sisa baterai masih cukup untuk perjalanan yang lebih jauh.
Selain efisiensi baterai, kenyamanan gowes juga menjadi nilai tambah. Perjalanan santai melewati kawasan hijau dan jalur kampus dinilai memberikan pengalaman olahraga sekaligus rekreasi.
Perbandingan Motor Listrik Hippo dan Claris Jadi Perhatian
Di tengah perjalanan, pembahasan juga melebar pada perbandingan dua sistem motor listrik yang cukup populer di kalangan pengguna sepeda listrik, yakni Hippo dan Claris.
Menurut pengalamannya, motor Claris memiliki tenaga lebih besar dan lebih kuat saat digunakan di tanjakan. Namun, karakter tarikan motor tersebut dinilai lebih menyentak.
Sementara itu, motor Hippo dianggap memiliki sensasi gowes yang lebih natural dan efisiensi baterai lebih baik. Pengguna mengaku lebih menyukai karakter motor Hippo untuk kebutuhan rekreasi dan olahraga santai.
“Kalau Claris memang lebih kuat, tapi Hippo lebih natural dan baterainya lebih efektif,” ungkapnya.
Selain soal performa motor, desain frame sepeda juga menjadi pertimbangan penting. Ia mengaku lebih menyukai model sepeda tertentu karena desainnya dianggap lebih nyaman dipandang.
Pengalaman gowes di Semarang tersebut memperlihatkan bahwa sepeda listrik kini tidak hanya digunakan sebagai alat transportasi alternatif, tetapi juga menjadi sarana olahraga dan rekreasi yang menyenangkan.
Dengan kombinasi medan menanjak, jarak tempuh panjang, dan konsumsi baterai yang tetap hemat, sepeda listrik dinilai semakin cocok digunakan di kota-kota dengan kontur jalan bervariasi seperti Semarang.
Editor : Cholifatun Nisak