Radar Tulungagung - Xiaomi kembali meramaikan pasar smartphone premium melalui kehadiran Xiaomi 17T Pro. Seri T Pro selama ini dikenal sebagai "flagship killer", yakni perangkat yang menawarkan performa dan fitur mendekati ponsel flagship dengan harga yang jauh lebih terjangkau.
Namun di tengah harga smartphone yang terus meningkat pada 2026, muncul pertanyaan besar. Apakah Xiaomi 17T Pro masih pantas menyandang gelar flagship killer, atau justru mulai kehilangan daya tariknya dibanding kompetitor?
Xiaomi 17T Pro resmi hadir dengan banderol sekitar Rp10 jutaan hingga Rp11 jutaan tergantung varian memori. Harga tersebut memang masih lebih murah dibanding flagship premium, tetapi sudah jauh berbeda dibanding seri T Pro beberapa generasi sebelumnya yang dikenal agresif dalam hal value for money.
Bawa Spesifikasi Kelas Atas
Secara spesifikasi, Xiaomi 17T Pro memang menawarkan paket yang sangat menarik. Smartphone ini dibekali layar AMOLED 6,83 inci dengan refresh rate hingga 144 Hz serta tingkat kecerahan tinggi yang nyaman digunakan di luar ruangan maupun kondisi minim cahaya.
Di sektor performa, Xiaomi menyematkan chipset MediaTek Dimensity 9500 yang mencatat skor AnTuTu hingga 3,5 juta poin. Angka tersebut menempatkannya di jajaran chipset Android tercepat saat ini.
Untuk mendukung performa tinggi tersebut, Xiaomi juga menghadirkan baterai silikon karbon berkapasitas 7.000 mAh. Pengisian daya didukung fast charging 100 watt serta wireless charging 50 watt yang biasanya hanya ditemukan pada smartphone flagship.
Dari sisi desain, Xiaomi 17T Pro menggunakan frame metal dan panel belakang berbahan kaca. Smartphone ini juga sudah mengantongi sertifikasi IP68, NFC, IR Blaster, stereo speaker, serta dukungan HyperOS 3 berbasis Android 16.
Kamera Leica Jadi Nilai Jual Utama
Seperti generasi sebelumnya, Xiaomi kembali menggandeng Leica untuk sektor fotografi. Xiaomi 17T Pro dibekali kamera utama 50 MP menggunakan sensor Light Fusion 950 serta kamera telefoto periskop 50 MP dengan kemampuan optical zoom hingga 5 kali.
Kolaborasi Leica masih menjadi daya tarik utama karena mampu menghasilkan karakter warna yang khas, kontras yang kuat, dan efek bokeh yang lebih natural.
Meski demikian, kamera ultrawide 12 MP dinilai masih menjadi titik lemah. Di kelas harga yang sama, sejumlah flagship pesaing sudah menggunakan sensor ultrawide 50 MP sehingga mampu menghasilkan detail yang lebih baik.
Kemampuan perekaman video juga belum sepenuhnya setara dengan flagship premium. Kamera depan masih terbatas pada perekaman 4K 30 fps, sementara beberapa kompetitor bahkan sudah mendukung 4K 60 fps.
Belum Sepenuhnya Setara Flagship Premium
Meski menawarkan spesifikasi tinggi, Xiaomi 17T Pro masih memiliki sejumlah kompromi yang membuatnya belum sepenuhnya sejajar dengan flagship premium.
Salah satunya adalah penggunaan Gorilla Glass 7i yang lebih sering ditemukan pada smartphone kelas menengah. Selain itu, layar yang digunakan belum mengadopsi teknologi LTPO sehingga refresh rate hanya bisa turun hingga 60 Hz dan belum seefisien flagship premium.
Port USB yang digunakan juga masih USB 2.0. Padahal banyak flagship modern sudah menggunakan USB 3.2 yang mendukung transfer data lebih cepat serta fitur display output.
Di sektor audio, kualitas stereo speaker dinilai cukup baik untuk penggunaan sehari-hari, tetapi belum memberikan pengalaman audio yang benar-benar istimewa dibanding perangkat flagship lainnya.
Masih Menarik, Tapi Tidak Sedominan Dulu
Secara keseluruhan, Xiaomi 17T Pro tetap menjadi smartphone yang sangat kompetitif di kelas harga Rp10 jutaan. Performa kencang, baterai jumbo, kamera Leica, dan fitur premium seperti wireless charging menjadi kombinasi yang sulit diabaikan.
Namun jika dibandingkan dengan generasi T Pro sebelumnya, posisi Xiaomi 17T Pro tidak lagi sedominan dulu. Smartphone ini memang mampu bersaing dengan lini flagship Xiaomi sendiri, tetapi mulai mendapat tekanan dari berbagai pesaing yang menawarkan fitur flagship lebih lengkap dengan harga yang tidak terpaut jauh.
Karena itu, Xiaomi 17T Pro masih layak disebut sebagai smartphone premium dengan value tinggi. Hanya saja, gelar flagship killer yang selama ini melekat tampaknya tidak lagi sekuat beberapa tahun lalu ketika seri T Pro benar-benar mampu membuat flagship lain terlihat kemahalan.
Editor : Maylanni Diana Fitri